Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Minggu, 04 JANUARI 2026 • 13:30 WIB

Bukan Sekadar Stres, Ini Mengapa Wanita Rentan Anxiety

Bukan Sekadar Stres, Ini Mengapa Wanita Rentan AnxietyIlustrasi anxiety dream atau mimpi cemas (freepik)

INDOZONE.ID - Gangguan kecemasan atau anxiety disorder merupakan salah satu masalah kesehatan mental yang dapat dialami oleh siapa saja tanpa memandang gender. Kondisi ini biasanya ditandai dengan rasa khawatir, takut, atau gugup berlebihan yang disertai reaksi fisik tertentu.

Pada sebagian orang, kecemasan muncul akibat stres terhadap situasi tertentu. Namun, ada pula individu yang mengalami serangan kecemasan secara tiba-tiba tanpa pemicu yang jelas.

Lantas, benarkah wanita lebih rentan mengalami gangguan kecemasan dibandingkan pria? Mengutip Psychology Today, berbagai penelitian menunjukkan bahwa wanita hampir dua kali lebih berisiko mengalami gangguan kecemasan dibandingkan pria. Kerentanan ini dipengaruhi oleh beragam faktor, mulai dari tekanan sosial, tuntutan karier, peran dalam keluarga, hingga ekspektasi masyarakat dan dunia digital yang sering kali menuntut kesempurnaan.

Selain faktor sosial, gangguan kecemasan pada wanita juga berkaitan dengan perubahan hormon, pola asuh di masa kecil, hingga faktor genetik.

Baca juga: Kenali Gejala Eco-Anxiety, Kecemasan Berlebih terhadap Perubahan Iklim

Mengenal Beban Kecemasan yang Dialami Wanita

Kecemasan pada wanita tidak hanya dipicu oleh masalah pribadi, tetapi juga oleh kombinasi faktor biologis, psikologis, dan sosial. Berikut beberapa di antaranya:

1. Pengaruh Biologis dan Hormon

Wanita mengalami perubahan hormon signifikan sepanjang hidupnya yang dapat memengaruhi suasana hati dan emosi. Masa pubertas ditandai dengan lonjakan estrogen dan progesteron yang dapat meningkatkan sensitivitas terhadap stres dan kecemasan.

Selain itu, fase pramenstruasi juga kerap memicu gangguan suasana hati, termasuk kondisi yang dikenal sebagai Premenstrual Dysphoric Disorder (PMDD). Pada masa kehamilan dan pascapersalinan, perubahan hormon disertai peningkatan rasa khawatir terhadap keselamatan bayi, peran sebagai ibu, serta penilaian sosial juga dapat memicu kecemasan.

Memasuki masa menopause, penurunan kadar estrogen turut dikaitkan dengan perubahan suasana hati hingga munculnya serangan panik. Berbagai perubahan biologis ini membuat wanita memerlukan pendekatan khusus dalam penanganan gangguan kecemasan.

2. Beban Mental dan Perfeksionisme

Banyak wanita memikul tanggung jawab ganda, mulai dari karier, hubungan sosial, rumah tangga, hingga pengasuhan anak. Beban mental yang tidak terlihat ini sering kali mendorong wanita untuk bersikap perfeksionis.

Di lingkungan kerja, wanita kerap merasa harus bekerja lebih keras agar tidak diremehkan. Sementara di rumah, mereka sering diharapkan untuk selalu sabar, mengayomi, dan mengutamakan orang lain. Media sosial juga memperkuat tekanan ini melalui standar kecantikan dan gaya hidup yang kerap membuat wanita membandingkan diri dengan orang lain.

3. Ekspektasi Budaya dan Masyarakat

Di banyak budaya, perempuan masih diharapkan menjadi pengasuh utama dan memprioritaskan keluarga. Sistem sosial yang patriarkal sering kali membatasi ruang gerak wanita dan memunculkan rasa bersalah ketika mereka mendahulukan kepentingan diri sendiri.

Tekanan sosial akibat pilihan hidup, seperti memilih untuk tidak memiliki anak atau fokus pada karier, juga dapat memicu stres dan kecemasan.

4. Faktor Trauma dan Keamanan

Wanita memiliki risiko lebih tinggi mengalami trauma, seperti pelecehan seksual, kekerasan dalam rumah tangga, dan kekerasan emosional. Pengalaman ini berkontribusi besar terhadap munculnya gangguan kecemasan.

Selain itu, rasa tidak aman di ruang publik, seperti berjalan sendirian pada malam hari, membuat banyak wanita berada dalam kondisi waspada berlebihan yang memengaruhi kesehatan mental mereka.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Psychologytoday.com

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Bukan Sekadar Stres, Ini Mengapa Wanita Rentan Anxiety

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!