dr. Gia Pratama saat tampil di podcast Raditya Dika (Sumber: Instagram/@giapratamamd)
INDOZONE.ID - Sebuah kisah yang dibagikan dokter sekaligus kreator konten dr. Gia Pratama di akun Instagram pribadinya, @giapratamamd, memperlihatkan sisi sunyi dunia medis yang jarang disorot. Lewat pengalamannya di Instalasi Gawat Darurat (IGD), ia menuturkan bagaimana batas antara upaya medis dan kemanusiaan terkadang menjadi sangat tipis.
Pagi itu, dr. Gia kembali bertemu dengan pasangan suami istri berusia 40-an yang pernah ia tangani sebelumnya. Sang istri datang dalam kondisi sangat lemah, napas berat, dan saturasi oksigen yang rendah. Situasi segera berubah menjadi genting ketika pasien harus segera dibawa ke ruang resusitasi.
Dari berkas medis yang dibawa sang suami, diketahui pasien mengidap kanker payudara stadium lanjut yang telah bermetastasis ke paru-paru dan kolon. Operasi mastektomi, kemoterapi, hingga radioterapi telah dijalani. Namun kali ini, kondisi pasien kembali menurun drastis.
Pemeriksaan menunjukkan tekanan darah rendah, nadi yang cepat, serta gangguan pernapasan berat. Tim medis langsung melakukan tindakan darurat, mulai dari pemasangan oksigen, infus, pemantauan ketat, hingga pemberian obat pereda nyeri. Meski begitu, angka-angka di monitor tidak menunjukkan perbaikan yang berarti.
Baca juga: Serang Punya Smart Hospital, Layanan Lengkap dari IGD sampai Heart Center
Melihat kondisi pasien yang semakin memburuk, dr. Gia memutuskan untuk melangkah ke tindakan berikutnya, yakni menggunakan laringoskop guna membantu jalan napas pasien. Namun, saat alat itu akan dipasang, sang suami menahan tangan dokter.
Dengan suara pelan dan wajah penuh kelelahan, ia memohon agar istrinya tidak lagi dipasangi alat-alat medis. Semua prosedur medis itu, menurutnya, sudah terlalu sering masuk ke tubuh sang istri yang rapuh. Ia melihat penderitaan yang sangat panjang.
Di momen itu, dr. Gia terpaku. Ia menyadari bahwa ventilator dan alat bantu napas memang bisa memperpanjang waktu hidup, memberi tambahan detik dan menit, tetapi tidak akan menyembuhkan. Ada titik di mana ilmu kedokteran harus berhenti dan memberi ruang bagi keputusan paling manusiawi.
Di ruang resusitasi yang hening, dr. Gia menyaksikan sang suami memeluk istrinya dengan erat. Kalimat sayang terucap lirih, seolah menjadi salam perpisahan yang sebentar lagi akan tiba.
Sementara itu, monitor di samping tempat tidur perlahan menunjukkan angka yang terus menurun. Saturasi oksigen dan denyut nadi semakin melemah, seiring tubuh pasien yang kian menyerah.
Dalam keheningan itu, dr. Gia membisikkan kalimat suci di telinga pasien. Sang suami pun mengucapkan kata-kata sederhana namun penuh makna, “Tunggu aku.” Tak lama berselang, pasien pun berpulang dengan tenang.
Baca juga: Anak Kecil Panik Temani Ibunya di Ruang IGD, Cerita Perawat Ini Bikin Warganet Ikut Terharu
Kisah ini menjadi pengingat pahit bahwa di balik kemajuan teknologi dan ilmu kedokteran, masih ada batas yang belum mampu dilampaui. Tidak semua penyakit bisa disembuhkan, dan tidak semua perjuangan harus dimenangkan dengan alat.
Terkadang, keputusan paling berat bagi seorang dokter bukanlah memilih tindakan medis, melainkan kapan harus berhenti dan membiarkan cinta mengambil alih peran terakhirnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Instagram/@giapratamamd