Ilustrasi dating apps. (freepik)
INDOZONE.ID - Dating app atau aplikasi kencan telah menjadi bagian dari kehidupan modern. Jutaan orang di berbagai negara menggunakannya untuk membuka peluang bertemu pasangan lebih cepat, lebih praktis, dan tanpa batas geografis. Dari sekadar berkenalan hingga merencanakan pertemuan, semuanya bisa dilakukan hanya lewat layar ponsel.
Namun, di balik kemudahan tersebut, muncul sisi lain yang jarang dibicarakan secara terbuka: dampaknya terhadap kesehatan mental. Masalah biasanya mulai terasa ketika penggunaan aplikasi kencan berubah dari sekadar alat bantu menjadi aktivitas yang sulit dihentikan. Swipe tanpa henti demi mencari sosok yang “paling cocok” perlahan bisa berubah menjadi kebiasaan yang melelahkan secara emosional.
Selama ini, penelitian tentang hubungan dating app dan kesehatan mental memang sudah ada. Namun, hasilnya tersebar di berbagai studi terpisah, sehingga sulit melihat gambaran besarnya secara utuh.
Baca juga: 5 Alasan Mengapa Cari Pasangan di Dating App Sering Gagal, Ada yang Relate?
Kekosongan tersebut akhirnya coba dijawab lewat sebuah meta-analisis yang dipublikasikan di jurnal Computers in Human Behavior. Penelitian ini dipimpin oleh Liesel L. Sharabi dari Arizona State University bersama timnya.
Berbeda dengan penelitian tunggal, meta-analisis menggabungkan banyak studi untuk menarik kesimpulan yang lebih kuat. Dalam kasus ini, data dari 23 penelitian yang terbit antara 2007 hingga 2024 dianalisis secara menyeluruh. Totalnya, lebih dari 26.000 partisipan terlibat. Fokus utamanya adalah berbagai indikator kesehatan mental, mulai dari depresi, kecemasan, kesepian, stres, hingga tekanan psikologis secara umum.
Ilustrasi berkencan lewat dating apps (Pixabay/99mimimi)
Hasilnya cukup konsisten: mereka yang menggunakan dating app cenderung menunjukkan kondisi kesehatan mental yang lebih buruk dibandingkan orang yang tidak menggunakannya. Tingkat kesepian, kecemasan, dan depresi tercatat lebih tinggi pada kelompok pengguna aplikasi kencan.
Menariknya, efek ini tidak muncul secara merata. Setelah dianalisis lebih lanjut, perbedaan paling jelas terlihat pada pengguna dating app, bukan situs kencan berbasis web. Selain itu, dampak negatif lebih terasa pada mereka yang masih lajang. Sementara pengguna yang sudah berada dalam hubungan romantis tidak menunjukkan perbedaan signifikan dibandingkan non-pengguna.
Pola ini juga tampak serupa pada individu dengan orientasi seksual yang berbeda, baik heteroseksual maupun homoseksual. Namun, dari sisi budaya, efek buruk dating app terhadap kesehatan mental lebih menonjol di negara-negara Barat yang tergolong WEIRD (Western, Educated, Industrialized, Rich, Democratic) dan relatif lebih lemah di negara non-WEIRD.
Baca juga: Biar Gak Ketipu di Dating App, Ini Trik Nyaring Cowok Red Flag
Meski menunjukkan hubungan yang jelas, penelitian ini belum bisa memastikan sebab-akibat secara mutlak. Bisa saja orang dengan kondisi mental yang rapuh lebih tertarik menggunakan dating app, atau sebaliknya, penggunaan dating app yang intens justru memperburuk kesehatan mental. Kemungkinan lain, kedua hal ini saling memengaruhi.
Apa pun arahnya, temuan ini memberi pesan penting. Pengembang aplikasi kencan perlu lebih serius mempertimbangkan kesejahteraan psikologis pengguna, bukan hanya mengejar durasi penggunaan atau jumlah interaksi. Di sisi lain, pengguna juga perlu lebih sadar akan batasan diri menggunakan dating app sebagai alat, bukan sebagai satu-satunya sumber validasi atau koneksi sosial.
Hubungan yang sehat tetap membutuhkan keseimbangan. Teknologi bisa membantu membuka pintu, tetapi kesehatan mental tetap harus dijaga, baik di dunia digital maupun di kehidupan nyata.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Psychologytoday.com