Ilustrasi wanita cenderung scroling terus menerus di media sosial. (Freepik)
INDOZONE.ID - Tahukah kamu, tanpa sadar banyak orang menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk scroll media sosial tanpa henti.
Kebiasaan ini dikenal sebagai doomscrolling, yaitu perilaku terus-menerus mengonsumsi konten atau berita negatif secara berlebihan.
Awalnya mungkin hanya ingin mencari informasi, tapi lama-kelamaan justru memicu rasa cemas, stres, hingga kelelahan mental.
Doomscrolling juga bisa mengganggu fokus, kualitas tidur, dan produktivitas sehari-hari.
Baca juga: Ingin Kesehatan Mental Tetap Terjaga dari Derasnya Paparan Medsos? Ikuti Kiat Ini
Melihat efeknya yang sangat mengganggu karena itu, penting untuk mengenali cara menghentikannya, berikut penjelasannya:
Cara menghentikan doomscroling bisa dimulai dengan lebih selektif memilih sumber informasi. Fokuslah pada media atau akun yang menyajikan berita faktual, berimbang, dan tidak sensasional.
Informasi yang objektif membantu kamu tetap update tanpa memicu kecemasan berlebihan. Dengan membatasi konsumsi berita bombastis, pikiran jadi lebih tenang dan tidak mudah terpancing emosi.
Perlahan, kebiasaan scroll berita negatif tanpa henti pun bisa berkurang.
Cara menghentikan doomscroling yang cukup efektif adalah menetapkan batas waktu bermain media sosial. Kamu bisa menentukan durasi khusus, misalnya 20–30 menit sehari untuk membaca berita atau scroll timeline.
Setelah waktu habis, biasakan untuk menutup aplikasi tanpa pengecualian. Kebiasaan ini membantu otak berhenti dari pola “scroll terus”.
Lama-kelamaan, kamu akan lebih sadar kapan harus berhenti dan beristirahat.
Cara menghentikan doomscroling juga bisa dilakukan dengan mematikan notifikasi aplikasi berita dan media sosial. Notifikasi yang terus muncul sering kali memicu rasa penasaran untuk membuka ponsel tanpa sadar.
Nah, kamu bisa memanfaatkan fitur Do Not Disturb (DND) agar lebih fokus pada aktivitas utama.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Clevelandclinic