ilustrasi wanita terkena kardiovaskular (Deccan Herald)
INDOZONE.ID - Penyakit kardiovaskular masih menjadi salah satu penyebab utama kematian di dunia, termasuk di Indonesia, sehingga upaya pencegahan, deteksi dini, dan penanganan yang tepat menjadi sangat krusial.
Gaya hidup modern yang minim aktivitas fisik, pola makan tinggi gula dan lemak, serta tingkat stres yang tinggi turut meningkatkan risiko gangguan jantung dan pembuluh darah di berbagai kelompok usia.
Di sisi lain, kemajuan teknologi medis terus membuka peluang baru dalam diagnosis dan terapi kardiovaskular yang lebih akurat, aman, dan personal, sehingga menuntut tenaga medis untuk terus memperbarui pengetahuan serta keterampilannya.
Sebagai upaya mendukung peningkatan kapasitas sumber daya manusia di bidang kardiovaskular, diselenggarakan Mini Workshop CARES 2026 – 3D Echocardiography Essentials: Building the Foundation for Advanced Imaging Across All Agespada 18 Januari 2026, yang berfokus pada penguatan pemahaman serta keterampilan tenaga medis dalam pemanfaatan teknologi pencitraan jantung terkini.
Workshop ini diikuti oleh 30 dokter spesialis jantung dan pembuluh darah yang berfokus pada ekokardiografi dan kardiologi pediatrik, dengan seluruh rangkaian kegiatan berjalan lancar dan mendapat respons yang sangat positif.
Materi mencakup teknik serta tips and tricks3D imaging untuk penilaian fungsi ventrikel kiri (LV) dan ventrikel kanan (RV), hingga aplikasi 3D echocardiography pada kelainan jantung kongenital dan struktural, khususnya dalam hal diagnosis dan tatalaksana.
Pendekatan ini bertujuan memperkuat pemahaman konseptual sekaligus keterampilan aplikatif peserta dalam penggunaan imaging jantung presisi.
Dalam salah satu sesi, dr. Ario Soeryo Kuncoro, Sp.JP(K) menyoroti peran penting 3D echocardiography pada penyakit jantung bawaan (congenital heart disease/CHD).
Deteksi dini kardiovaskular. (Istimewa)
"3D echocardiography membantu mengidentifikasi morfologi ventrikel yang kompleks pada CHD, memfasilitasi evaluasi perubahan volume dan fungsi ventrikel, serta memungkinkan penilaian anatomi dan fungsi katup jantung secara lebih detail. Selain itu, teknologi ini juga berperan sebagai panduan periprocedural dalam tindakan intervensi transkateter," jelas dr. Ario.
Kegiatan selanjutnya diisi dengan demonstrasi langsung penerapan 3D Transthoracic Echocardiography (TTE) dan Transesophageal Echocardiography (TEE) pada studi kasus, dilengkapi sesi praktik mandiri menggunakan workstation untuk analisis pencitraan tiga dimensi, serta pemaparan kasus intervensi secara real-time yang menegaskan peran akurasi imaging dalam menunjang ketepatan keputusan klinis.
Prof. Luigi Badano, MD, PhD, yang hadir sebagai pembicara internasional, menyampaikan apresiasinya terhadap pelaksanaan kegiatan ini.
"Peserta menunjukkan antusiasme yang tinggi, mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan aktif, serta terlibat dalam diskusi dan sesi tanya jawab yang sangat dinamis," ujar Prof. Luigi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan