Ilustrasi Orang NPD. (Foto: Freepik )
INDOZONE.ID - Narcissistic Personality Disorder, atau yang sering disingkat NPD, adalah istilah psikologi yang belakangan sering muncul di timeline media sosial. Banyak yang memakai istilah ini untuk menggambarkan orang yang “sok banget”, egois, atau selalu minta perhatian. Padahal, sebenarnya ini lebih dari sekadar sifat kepribadian. NPD adalah gangguan kepribadian serius yang bisa memengaruhi cara seseorang berpikir, berinteraksi dengan orang lain, bahkan menjalani kehidupan sehari-hari.
Tapi pertanyaannya, kok bisa seseorang mengalami NPD? Apa saja penyebab NPD itu? Di artikel ini, kita bakal membahasnya secara lengkap, supaya kamu punya gambaran yang utuh soal penyebab gangguan kepribadian ini.
Sebelum kita membahas penyebabnya, penting untuk menyadari bahwa NPD itu bukan sekadar orang yang narsis di media sosial atau suka pamer foto mirror selfie. Banyak orang punya sifat narsis, tapi itu belum tentu berarti mereka mengalami NPD. NPD adalah kondisi klinis yang biasanya berdampak besar pada kehidupan pribadi dan hubungan sosial seseorang.
Seseorang dengan NPD sering merasa dirinya paling penting, selalu ingin dipuji, menganggap diri paling spesial, dan kurang peduli pada perasaan orang lain. Ini bisa jadi lebih dari sekadar sifat narsis biasa, apalagi kalau sikap-sikap tersebut sudah membuat hubungan, pekerjaan, atau kehidupan sehari-harinya terganggu. Dalam kondisi seperti itu, kemungkinan besar ada masalah yang lebih serius di baliknya.
Baca juga: Apa Saja Tanda NPD? Kenali Ciri dan Cara Menghadapi Orang dengan Gangguan Kepribadian
Sampai sekarang, dunia medis belum bisa menyebutkan satu penyebab tunggal yang pasti untuk NPD. Para ahli sepakat bahwa penyebabnya bersifat kompleks dan melibatkan banyak faktor yang saling berinteraksi.
Secara umum, faktor-faktor yang diduga menyebabkan seseorang mengalami NPD bisa dibagi ke dalam beberapa bagian berikut.
Salah satu teori menyebutkan bahwa faktor genetik kemungkinan turut memengaruhi risiko seseorang mengalami NPD. Artinya, jika dalam keluarga dekat ada yang memiliki gangguan kepribadian ini, seseorang bisa saja lebih rentan mengalami kondisi serupa.
Selain itu, beberapa penelitian menunjukkan adanya perbedaan struktur atau fungsi otak pada individu dengan NPD, terutama di area yang berkaitan dengan empati dan regulasi emosi.
Namun, perlu diingat bahwa faktor genetik bukan sesuatu yang mutlak. Memiliki “bakat” genetik tidak berarti seseorang pasti akan mengalami gangguan ini.
Ini adalah salah satu faktor yang paling sering disebut dalam penelitian tentang NPD. Cara orang tua atau pengasuh memperlakukan anak sejak kecil bisa berdampak jangka panjang pada pembentukan kepribadian mereka.
Beberapa pola asuh yang dianggap berkontribusi antara lain:
Ilustrasi Orang NPD. (Foto: Freepik )
Selain pola asuh, pengalaman trauma juga bisa ikut berperan. Trauma ini tidak selalu berupa kejadian besar, tetapi bisa berupa penelantaran, kekerasan emosional, atau pengalaman lain yang membuat anak tumbuh dengan rasa percaya diri yang rapuh. Dalam banyak kasus, sikap narsistik justru muncul sebagai cara bertahan secara psikologis untuk menutupi rasa minder dan ketidakamanan yang sangat dalam.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Mayoclinic