INDOZONE.ID - Dokter Subspesialis Onkologi Toraks dr. Sita Laksmi Andarini, menyebut usia pasien kanker paru di Indonesia rata-rata lebih muda dibandingkan negara lain, bahkan selisihnya bisa mencapai sekitar 10 tahun. Selain itu, tren peningkatan kasus juga terlihat pada perempuan yang tidak merokok.
“Di Indonesia usia kanker paru 10 tahun lebih muda dibandingkan di luar negeri. Angkanya juga meningkat terutama pada perempuan yang tidak merokok dan usia muda,” ujar Sita dalam Konferensi Media Hari Kanker Sedunia bertajuk Transformasi Skrining dan Diagnosis Kanker dengan AI di Jakarta Selatan, dikutip Kamis (26/2/2026).
Ia menjelaskan kanker paru merupakan jenis kanker yang paling banyak terjadi pada laki-laki di Indonesia dan berada di peringkat ketiga untuk keseluruhan kasus baru. Secara global, kanker paru masih menjadi penyebab kematian akibat kanker tertinggi.
Menurut Sita, paparan asap rokok tetap menjadi faktor risiko utama kanker paru. Selain itu, paparan asbes, polusi udara terutama partikel halus PM2,5, riwayat tuberkulosis, serta faktor genetik, juga berkontribusi terhadap peningkatan risiko.
Baca juga: 5 Mitos tentang Kanker Paru-paru yang Masih Banyak Dipercaya, Apa Saja?
“Risiko yang paling tinggi adalah paparan asap rokok. Dengan menghindari asap rokok, sekitar 80 persen penyakit kronis termasuk kanker paru, penyakit jantung, dan stroke bisa dicegah,” katanya.
Ia menambahkan sekitar 90 persen pasien datang berobat dalam kondisi stadium lanjut. Padahal, perkembangan dari stadium awal ke stadium lanjut bisa terjadi relatif cepat, yakni dalam rentang satu hingga satu setengah tahun.
Pada stadium dini, peluang keberhasilan pengobatan jauh lebih tinggi. Sebaliknya, pada stadium lanjut, terapi yang dibutuhkan lebih kompleks dan biayanya pun meningkat signifikan.
Sita menjelaskan perbedaan antara skrining dan diagnosis dini. Skrining dilakukan sebelum gejala muncul, khususnya pada kelompok berisiko tinggi. Sementara diagnosis dini dilakukan ketika gejala sudah dirasakan pasien.
Baca juga: Batuk Gak Kunjung Sembuh? Waspada 5 Tanda Awal Kanker Paru yang Jarang Disadari
Di Indonesia, skrining kanker paru direkomendasikan bagi individu berusia 45 hingga 71 tahun dengan riwayat merokok aktif, perokok pasif, atau yang berhenti merokok kurang dari 15 tahun, serta mereka yang memiliki riwayat keluarga kanker paru. Pemeriksaan dilakukan menggunakan CT scan tanpa kontras dengan dosis radiasi rendah.
Ia menegaskan bahwa deteksi pada stadium awal sangat krusial. Perbedaan satu stadium saja dapat membuat biaya pengobatan meningkat beberapa kali lipat.
Karena itu, kesadaran terhadap faktor risiko serta partisipasi dalam skrining menjadi langkah penting untuk menekan angka kematian akibat kanker paru di Indonesia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: ANTARA