Ilustrasi kanker paru-paru (Pixabay/Tookapic)
INDOZONE.ID - Semakin banyak orang yang beralih ke vape alias rokok elektrik karena dinilai lebih nyaman dan klaimnya minim risiko. Padahal kebiasaan nge-vape bisa berisiko buruk untuk kesehatan paru bahkan lebih rentan memicu tanda awal kanker paru.
Dr. Lim Hong Liang, Senior Consultant in Medical Oncology di Parkway Cancer Centre (PCC)menjelaskan, kanker paru berkembang ketika sel-sel abnormal tumbuh di jaringan paru tanpa kendali. Bahkan bisa menyebar ke organ lain seperti otak, tulang, dan hati. Kondisi ini sering kali tidak menunjukkan gejala pada tahap awal.
Dr. Lim Hong Liang, Senior Consultant in Medical Oncology di Parkway Cancer Centre (PCC)
“Batuk berkepanjangan, sesak napas, atau nyeri dada sering dianggap sepele, padahal bisa menjadi tanda awal kanker paru,” katanya saat wawancara via online.
Baca juga: Jepang Berhasil Terapkan Pengobatan Kanker Paru Tanpa Operasi Besar
Senior Consultant in Medical Oncology di PCC Dr. Chin Tan Min
Selain faktor genetik, kebiasaan merokok masih menjadipenyebab utama kanker paru, termasuk paparan polusi udara, asap rokok pasif, hingga zat kimia industri. Belakangan, trenbaru seperti vaping atau rokok elektrik juga menimbulkan kekhawatiran.
Ditambahkan Senior Consultant in Medical Oncology di PCC Dr. Chin Tan Min, vaping bukanlah alternatif yang aman terhadap rokok konvensional. Vape tetap mengandung nikotin dan bahan kimia toksik yang dapat merusak paru dan menyebabkan kecanduan.
“Meski belum terbukti langsung menyebabkan kanker paru, risikonya terhadap kesehatan paru tidak bisa diabaikan,” ujarnya.
Dalam kesempatan ini, Dr. Chin menyarankan agar masyarakat yang ingin berhentimerokok atau vaping melakukannya dengan bimbinganmedis. Program berhenti merokok yang terstruktur dan gayahidup sehat terbukti lebih efektif dalam menurunkan risikokanker paru.
Dia menekankan pentingnya deteksi dini melalui CT scan dosis rendah, yang terbukti mampu mendeteksi kanker parusebelum muncul gejala klinis. Karena deteksi dini meningkatkan peluang kesembuhan secara signifikan.
“Semakin cepat kanker ditemukan, semakin besar kemungkinan untuk diobati dengan efektif,” tambahnya.
Selama bertahun-tahun, kemoterapi menjadi pengobatan utama bagi pasien kanker paru. Namun efektivitasnya terbatas dan efek sampingnya sering kali berat. Kini, pendekatan baru seperti targeted therapy dan immunotherapy telah mengubah paradigma pengobatan.
Menurut Dr. Lim, penemuan mutasi genetik pada sel kanker paru merupakan titik balik penting dalam terapi modern. Penemuan mutasi gen seperti EGFR memungkinkan kami merancang terapi yang lebih tepat sasaran.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Wawancara