Wali Kota Bandung Muhammad Farhan di Kota Bandung, Jawa Barat. (ANTARA/Rubby Jovan)
INDOZONE.ID - Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengungkapkan sekitar 75 ribu pelajar tingkat Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA) di Kota Bandung, terindikasi mengalami gangguan kesehatan mental berdasarkan hasil survei Dinas Kesehatan.
“Angkanya 75 ribu. Ini bukan kecil. Tapi kita juga hati-hati menyikapinya,” ujar Farhan di Bandung, Senin (2/3/2026).
Ia menekankan bahwa persoalan kesehatan mental kerap terkendala oleh sikap penyangkalan, terutama dari orang tua yang merasa anaknya dalam kondisi baik dan enggan mengakui kemungkinan adanya masalah psikologis.
“Ketika bicara gangguan mental, kita sering lihat ke anak orang lain. Jarang yang refleksi ke diri sendiri, jangan-jangan anak saya,” katanya.
Baca juga: Main Medsos Setiap Hari, Aman Gak Buat Kesehatan Mental Remaja?
Farhan memastikan Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung tidak akan mempublikasikan data tersebut secara berlebihan, agar tidak menimbulkan kepanikan. Penanganan akan dilakukan secara bertahap dan terukur.
“Ini masuknya pelan-pelan. Tidak pakai kampanye besar-besaran,” ujarnya.
Sebagai langkah konkret, Pemkot Bandung akan menyinkronkan layanan kesehatan mental hingga ke tingkat puskesmas. Ke depan, seluruh puskesmas di Kota Bandung diwajibkan memiliki layanan psikologi klinis.
Dalam skema penanganan, asesmen awal terhadap siswa akan dilakukan oleh Guru Bimbingan Konseling (BK) di sekolah. Siswa yang terindikasi membutuhkan penanganan lebih lanjut akan dirujuk ke puskesmas.
Baca juga: Ditinggal Tanpa Kabar? Ini Dampak Ghosting yang Dapat Merusak Mental
Dari hasil asesmen tersebut, psikolog akan melakukan penilaian lanjutan sesuai kebutuhan. Tidak semua siswa otomatis menjalani konsultasi klinis, melainkan berdasarkan rekomendasi profesional.
“Psikolog akan memberikan capacity building ke Guru BK. Jadi mereka bisa mendeteksi lebih dini,” kata Farhan.
Ia mencontohkan perubahan perilaku sebagai salah satu indikator awal, seperti siswa yang semula ceria menjadi pendiam, atau siswa berprestasi yang tiba-tiba kehilangan semangat belajar.
Melalui pendekatan ini, Pemkot Bandung berharap deteksi dini dan penanganan kesehatan mental pelajar dapat dilakukan secara sistematis tanpa menimbulkan stigma di lingkungan sekolah maupun keluarga.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: ANTARA