INDOZONE.ID - Banyak cara untuk meningkatkan hormon dopamin di kalangan remaja. Bahkan, ketika hormon bahagia ini meningkat, mereka akan lebih mudah berempati.
Ketua Health Collaborative Center (HCC), Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, menjelaskan bahwa empati itu menular dan kebaikan perlu disuarakan. Kegiatan tootling atau berbuat kebaikan diyakini bisa menambah hormon-hormon kebaikan, termasuk dopamin, di kalangan remaja.
Hal ini dibuktikan melalui studi sosial di lingkungan sekolah yang dilakukan HCC lewat program Cek Teman Sebelah 2.0: “Laporkan Kebaikan Teman”. Dr. Ray bersama Direktur Eksekutif HCC, Bunga Pelangi, MKM, melakukan studi di empat sekolah menengah atas dan kejuruan di kawasan Ciracas, Jakarta Timur.
Baca juga: Belajar Empati: Kunci Jadi Manusia yang Lebih Peka dan Nggak Gampang Nge-judge
Studi ini membuktikan bahwa perilaku melaporkan kebaikan teman secara terstruktur selama 10 hari mampu meningkatkan empati dan sikap prososial remaja secara signifikan.
“Setiap anak bebas melaporkan kebaikan temannya, apapun itu, dituliskan, dan nanti akan ditempelkan di post-it tentang semua kebaikan yang dilakukan di kelas,” kata Dr. Ray kepada wartawan di Jakarta.
Dr. Ray menyebut bahwa studi ini melibatkan 699 siswa SMA di Jakarta, dengan 541 siswa menyelesaikan program penuh selama 10 hari. Hasilnya menunjukkan remaja yang aktif melaporkan kebaikan teman memiliki tingkat empati lima kali lebih tinggi, sikap prososial lima kali lebih tinggi, serta kemampuan perspective-taking atau memahami sudut pandang orang lain hampir empat kali lebih tinggi.
“Harapannya, ini menjadi satu gerakan di kelas, kemudian meluas ke sekolah, dan diperbesar lagi oleh lingkungan remaja itu sendiri. Strateginya nanti di kelas, kita berikan fasilitas untuk melaporkan kebaikan teman,” jelasnya.
Dr. Ray juga mengungkapkan bahwa remaja perempuan lebih sering melakukan kebaikan dan senang ketika kebaikannya dilaporkan, sehingga banyak dari mereka secara sukarela ikut aksi positif ini.
Dijelaskan Dr. Ray, ketika otak dan tubuh fokus pada kebaikan atau tootling, hormon kortisol atau hormon stres ditekan. Tubuh menjadi lebih rileks dan memproduksi lebih banyak hormon dopamin.
“Dopamin itu hormon kebahagiaan. Bayangkan, kalau remaja kita dominan hormon dopamin, proses belajarnya akan lebih baik. Kognitif lebih tajam, working memory maksimal, sehingga konsentrasi belajar bertambah,” ujarnya.
Lebih lanjut, ketika hormon dopamin melimpah, anak-anak akan lebih mudah berempati. Penelitian menunjukkan bahwa remaja yang mampu berempati dan memiliki skor working memory tinggi akan menjadi lebih inovatif.
“Kalau remaja inovatif, mereka bisa menjadi agent of change atau agen perubahan. Bayangkan jika jutaan remaja terbiasa melaporkan kebaikan, mereka akan dominan hormon kebahagiaan, lebih berempati, lebih inovatif, dan negara ini akan maju,” tambahnya.
Baca juga: Fenomenal! Barbie Autistik Mattel Ajarkan Anak Empati Sejak Dini
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan