Ilustrasi wanita pengidap kanker payudara (Freepik/black.salmon)
INDOZONE.ID - Kanker payudara masih menjadi salah satu penyakit yang paling banyak dikhawatirkan oleh perempuan di seluruh dunia. Walau penyebab utamanya belum bisa dipastikan secara mutlak, para ahli telah menemukan sejumlah faktor yang dapat meningkatkan peluang seseorang terkena penyakit ini.
Di berbagai negara, kanker payudara bahkan menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi pada perempuan setelah kanker paru-paru. Karena itu, penting bagi wanita untuk lebih peka terhadap faktor risiko, memahami tanda-tandanya, serta melakukan langkah pencegahan sejak dini.
Berikut beberapa hal yang diketahui dapat meningkatkan risiko kanker payudara pada perempuan:
Semakin bertambah usia seseorang, risiko terkena kanker payudara juga ikut meningkat. Kebanyakan kasus ditemukan pada perempuan yang sudah berusia di atas 50 tahun atau telah memasuki masa menopause.
Faktor keturunan juga bisa berperan. Jika ada anggota keluarga dekat yang pernah mengalami kanker payudara atau kanker ovarium, maka risiko seseorang untuk mengalami kondisi yang sama bisa lebih tinggi. Hal ini sering dikaitkan dengan mutasi gen tertentu yang diwariskan dalam keluarga.
Baca juga: Enggak Hanya Deteksi Kanker Payudara, Mammografi Bisa Ungkap Risiko Penyakit Jantung
Wanita yang sebelumnya pernah didiagnosis kanker payudara atau memiliki perubahan sel abnormal di jaringan payudara cenderung memiliki peluang lebih besar untuk mengalaminya kembali. Tidak semua benjolan berbahaya, tetapi beberapa kondisi jaringan memang dapat meningkatkan risiko di masa depan.
Payudara terdiri dari jaringan lemak dan jaringan kelenjar. Pada sebagian perempuan, jaringan kelenjar lebih dominan sehingga payudara menjadi lebih padat. Kondisi ini tidak hanya meningkatkan risiko kanker, tetapi juga bisa membuat pemeriksaan seperti mamografi lebih sulit mendeteksi kelainan sejak awal.
Hormon estrogen memiliki peran penting dalam sistem reproduksi wanita. Namun, jika tubuh terpapar hormon ini terlalu lama, risiko pertumbuhan sel abnormal di payudara bisa meningkat. Kondisi ini biasanya terjadi pada wanita yang mengalami menstruasi lebih awal, menopause lebih lambat, atau belum pernah hamil.
Sebagian wanita menjalani terapi penggantian hormon untuk meredakan gejala menopause. Penggunaan terapi ini dalam jangka panjang diketahui dapat meningkatkan risiko kanker payudara, meski risikonya biasanya akan menurun setelah terapi dihentikan.
Beberapa penelitian menyebutkan bahwa penggunaan pil KB dapat sedikit meningkatkan risiko kanker payudara. Namun, efek tersebut umumnya akan berkurang secara perlahan setelah penggunaan dihentikan.
Obesitas juga menjadi salah satu faktor penting, terutama pada perempuan yang sudah menopause. Lemak tubuh yang berlebihan dapat memicu produksi estrogen tambahan yang berpotensi merangsang pertumbuhan sel kanker di payudara.
Baca juga: Benarkah Tumor Payudara Bisa Berkembang Jadi Kanker? Ini Penjelasan Medisnya
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Ciputrahospital.com