Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Senin, 16 MARET 2026 • 21:00 WIB

5 Kondisi Penyakit Jantung yang Perlu Diwaspadai Saat Mudik

5 Kondisi Penyakit Jantung yang Perlu Diwaspadai Saat MudikIlustrasi penyakit jantung. (Pexels)

INDOZONE.ID - Menjelang musim mudik Lebaran, penderita penyakit jantung perlu memperhatikan kondisi kesehatannya sebelum melakukan perjalanan jauh. Pasalnya, tidak semua pasien jantung memiliki tingkat risiko yang sama ketika melakukan perjalanan dalam waktu lama.

Pada beberapa kondisi tertentu, perjalanan mudik justru dapat meningkatkan beban kerja jantung, terutama jika penyakit yang dialami belum stabil atau memiliki riwayat komplikasi. Oleh karena itu, penting bagi penderita jantung untuk memahami kondisi medis yang perlu mendapat perhatian khusus sebelum memutuskan untuk melakukan perjalanan jauh.

Berikut sejumlah kondisi penyakit jantung yang perlu diwaspadai selama persiapan maupun saat menjalani perjalanan mudik.

1. Gagal Jantung Kongestif (Heart Failure)

Gagal jantung kongestif adalah kondisi ketika jantung tidak mampu memompa darah secara efektif karena terjadi penumpukan cairan di paru-paru, kaki, atau organ lainnya. Dengan kondisi ini, perjalanan jauh seperti mudik dapat berisiko memperberat kerja jantung dan memicu penumpukan cairan kembali, terutama bila kondisi belum benar-benar stabil.

Penderita gagal jantung memiliki kapasitas jantung yang terbatas dalam memompa darah, sehingga rentan terhadap perburukan gejala bila tidak dipersiapkan secara matang. Apabila selama perjalanan mudik mengalami sesak napas yang semakin berat (terutama saat berbaring), cepat lelah, bengkak pada kaki atau perut, kenaikan berat badan mendadak akibat penumpukan cairan, batuk yang tidak membaik, jantung berdebar, hingga nyeri dada, segera mencari pertolongan medis.

Baca juga: Apa Itu Digital Detox? Berikut Manfaatnya untuk Jaga Kesehatan Fisik dan Mental

2. Pascaserangan Jantung

Mudik dapat berisiko bagi orang yang baru mengalami serangan jantung atau menjalani pemasangan stent (ring jantung) karena jantung masih berada dalam fase pemulihan. Pada periode ini, pembuluh darah yang sebelumnya tersumbat baru saja diperbaiki, dan otot jantung mungkin belum sepenuhnya pulih.

Karena itu, seseorang yang belum lama mengalami serangan jantung perlu mewaspadai gejala seperti nyeri dada tertekan atau tertindih, sesak napas, keringat dingin, mual, pusing, atau rasa lemas mendadak. Pada sebagian orang, keluhan yang muncul bisa saja tidak khas, misalnya hanya berupa nyeri di lengan kiri, rahang, atau punggung. 

Gejala lain yang dapat muncul seperti detak jantung tidak teratur dan berdebar. Kemudian, jika nyeri dada berlangsung lebih dari beberapa menit, tidak membaik dengan istirahat, atau disertai gejala berat seperti pingsan, kondisi tersebut merupakan tanda darurat medis yang memerlukan pertolongan segera.

3. Penyakit Arteri Koroner

Penyakit arteri koroner, seperti angina pektoris tidak stabil, adalah kondisi ketika aliran darah ke otot jantung terganggu akibat pecahnya plak di pembuluh darah koroner sehingga menimbulkan nyeri dada yang dapat muncul lebih sering, bahkan saat beristirahat.

Perjalanan panjang, seperti mudik, tergolong berisiko bagi penderita penyakit arteri koroner karena dapat memicu stres fisik dan emosional, kelelahan, dehidrasi, serta pola makan tinggi lemak dan garam, di mana faktor-faktor tersebut dapat meningkatkan kebutuhan oksigen jantung dan memicu ketidakseimbangan suplai darah.

Karenanya, apabila diperbolehkan melakukan perjalanan mudik oleh dokter, atur waktu istirahat setiap beberapa jam, hindari aktivitas berlebihan, pilih makanan rendah lemak dan garam, serta kelola stres dengan baik. Bila nyeri dada muncul dan tidak membaik dalam beberapa menit atau semakin berat, segera cari pertolongan medis darurat.

4. Aritmia (Gangguan Irama Jantung)

Aritmia merupakan kondisi ketika detak jantung menjadi terlalu cepat, terlalu lambat, atau tidak teratur akibat gangguan pada sistem kelistrikan jantung. Beberapa jenis aritmia bersifat ringan, tetapi sebagian lainnya dapat meningkatkan risiko komplikasi serius, seperti stroke atau henti jantung mendadak.

Bagi penderita aritmia, mudik dapat berisiko karena perjalanan panjang sering disertai kelelahan, kurang tidur, stres emosional, dehidrasi, serta perubahan pola makan dan jadwal obat. Faktor-faktor ini dapat memicu ketidakseimbangan elektrolit dan meningkatkan aktivitas sistem saraf simpatis, yang keduanya diketahui dapat memperburuk aritmia.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Siloamhospitals.com

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

5 Kondisi Penyakit Jantung yang Perlu Diwaspadai Saat Mudik

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!