psikolog." data-author="Freepik." data-source="Freepik." data-credit="Freepik." data-watermark="0">Ilustrasi seorang pria berkonsultasi dengan psikolog. (Freepik.)
INDOZONE.ID - Psikolog dan terapis sering kali dianggap sama, padahal keduanya memiliki perbedaan mendasar, terutama dari segi pendidikan, kewenangan diagnosis, hingga pendekatan penanganan masalah kesehatan mental. Memahami perbedaan ini penting agar seseorang bisa memilih bantuan profesional yang sesuai dengan kebutuhannya.
Bagi Anda yang baru ingin memulai terapi, kembali menjalani konseling, atau sekadar ingin memastikan apakah sudah berkonsultasi dengan profesional yang tepat, istilah seperti “psikolog” dan “terapis” mungkin terasa membingungkan. Pasalnya, kedua istilah ini kerap digunakan secara bergantian dalam percakapan sehari-hari.
Secara umum, baik psikolog maupun terapis merupakan tenaga profesional yang dapat membantu meningkatkan kesehatan mental, memperbaiki kesejahteraan emosional, serta menangani berbagai gangguan perilaku. Keduanya juga wajib memiliki lisensi resmi dan menjalani pendidikan serta pelatihan khusus sebelum dapat memberikan layanan kepada klien.
Perbedaan paling mendasar antara psikolog dan terapis terletak pada tiga hal utama, yaitu tingkat pendidikan, kewenangan dalam mendiagnosis, dan pendekatan terapi yang digunakan.
Dari sisi pendidikan, psikolog umumnya harus menempuh pendidikan hingga tingkat doktoral, seperti PhD (Doctor of Philosophy) atau PsyD (Doctor of Psychology). Sementara itu, terapis minimal memiliki gelar magister di bidang yang berkaitan dengan psikoterapi, seperti konseling atau pekerjaan sosial.
Dalam praktiknya, beberapa psikolog juga menggunakan sebutan terapis atau psikoterapis. Sebaliknya, terapis dengan latar belakang pendidikan magister dapat menyebut diri mereka sebagai konselor atau psikoterapis, tergantung pada lisensi yang dimiliki.
Baca juga: Ini Saran dari Ahli Terapis saat Mengetahui Pasangan Kamu Selingkuh
Psikolog biasanya memiliki latar belakang pendidikan yang kuat dalam penelitian. Mereka dilatih untuk memahami perilaku manusia, perkembangan, serta kepribadian berdasarkan kajian ilmiah. Hal ini membuat psikolog cenderung menggunakan pendekatan berbasis bukti (evidence-based) dalam menangani klien.
Di sisi lain, terapis dan konselor lebih berfokus pada praktik terapi dan penerapan teknik-teknik konseling. Pendidikan mereka umumnya lebih singkat dibandingkan psikolog dan lebih menitikberatkan pada keterampilan praktis dalam membantu klien menghadapi masalah sehari-hari.
Meski begitu, banyak terapis juga memiliki dasar teori yang kuat, seperti pendekatan psikodinamik, humanistik, atau sistemik. Pendekatan ini membantu mereka memahami permasalahan klien secara lebih menyeluruh, termasuk dalam konteks keluarga, lingkungan, maupun sosial.
Baik psikolog maupun terapis umumnya menggunakan terapi berbasis percakapan (talk therapy) sebagai metode utama. Salah satu pendekatan yang paling umum adalah Cognitive Behavioral Therapy (CBT), yaitu terapi yang membantu seseorang mengenali pola pikir negatif dan menggantinya dengan pola pikir serta perilaku yang lebih sehat.
Terapi ini dapat dilakukan di berbagai tempat, mulai dari klinik kesehatan mental, praktik pribadi, hingga layanan rawat jalan.
Psikolog memiliki kemampuan untuk melakukan asesmen psikologis dan memberikan diagnosis terkait kondisi kesehatan mental. Namun, dalam banyak kasus, mereka tidak memiliki kewenangan untuk meresepkan obat. Kewenangan tersebut biasanya dimiliki oleh psikiater.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Healthline