INDOZONE.ID - Lagi capek, stres karena kerjaan menumpuk, atau sekadar ingin menyegarkan tenggorokan di musim panas, solusinya sering sama: beli bubble tea, atau yang lebih dikenal dengan “boba”. Tinggal pilih rasa, tambah topping, sedot pakai sedotan besar, langsung terasa lega.
Namun, di balik rasa manis dan tekstur kenyal yang bikin nagih, ada fakta yang jarang dibahas: boba sebenarnya lebih dekat ke dessert daripada minuman sehat.
Berasal dari Taiwan, boba awalnya hanya teh biasa yang dikreasikan. Kini, variannya semakin beragam, mulai dari brown sugar, matcha, hingga berbagai topping unik yang membuatnya semakin populer.
Tidak heran jika minuman ini menjadi “teman setia”, terutama bagi generasi muda.
Baca juga: Sering Minum Boba dan Thai Tea? Studi Ungkap Risikonya ke Kesehatan Mental
Boba terasa lezat bukan tanpa alasan. Komposisinya memang dirancang untuk memanjakan lidah:
Masalahnya, kombinasi ini membuat satu gelas boba menjadi tinggi kalori, sekaligus manis dan creamy.
Sekilas, minum boba memang terasa ringan dan tidak mengenyangkan. Namun, anggapan ini bisa menipu.
Faktanya, satu porsi kecil saja dapat mengandung ratusan kalori. Apalagi ukuran yang dijual di pasaran umumnya cukup besar. Ditambah berbagai topping favorit, kandungan gula dan kalorinya semakin meningkat.
Bahkan, dalam beberapa kasus, satu gelas boba bisa setara dengan dua batang cokelat.
Ilustrasi cewek minum boba. (Pexels)
Tidak sepenuhnya salah. Teh memang memiliki antioksidan, dan bahan seperti cassava juga mengandung sedikit nutrisi.
Namun, kandungan gula yang tinggi sering kali mengalahkan manfaat tersebut.
Beberapa orang perlu lebih berhati-hati dalam mengonsumsi boba, terutama mereka yang sedang menjalani diet atau menjaga berat badan. Selain itu, individu dengan risiko atau yang sudah mengalami diabetes juga sebaiknya membatasi konsumsi minuman manis ini.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Discovermagazine.com