Ilustrasi berhenti merokok. (Freepik)
INDOZONE.ID - Pada pelaksanaan Indonesian Conference on Tobacco or Health (ICTOH) 2026 di Universitas Airlangga (Unair), Surabaya pada 21-22 Mei 2026, sorotan tajam tertuju pada tingginya konsumsi produk tembakau dan nikotin di kelompok anak serta remaja Indonesia.
Perwakilan Research Group Tobacco Control (RGTC) FKM Unair, Alifia Hera, mengungkapkan tren konsumsi tersebut sudah masuk pada level mengkhawatirkan akibat masifnya produk alternatif di ruang digital.
Baca juga: Vape vs Rokok, Mana yang Lebih Bahaya? Ini Faktanya
“Pergeseran tren konsumsi ini diperkuat oleh persepsi keliru bahwa produk alternatif seperti vape lebih aman. Padahal tetap berisiko terhadap kesehatan dan adiksi,” kata Alif dalam siaran pers yang diterima Indozone, Kamis (21/5/2026).
Fakta di lapangan menunjukkan bahwa anak-anak kini menjadi target empuk industri tembakau dan nikotin:
Menurut Alif, situasi ini diperparah oleh paparan iklan, promosi, dan sponsorship produk tembakau yang sangat tinggi di media sosial. Penelitian tahun 2022 menunjukkan 51% anak usia 13-15 tahun telah terpapar promosi rokok di media digital.
Baca juga: Anak Muda Wajib Tahu: Vape Dianggap “Lebih Aman”, Tapi Justru Risiko Penyakit Serius Ini Terbongkar!
“Harga rokok yang relatif murah serta praktik penjualan eceran juga mempermudah akses anak dan remaja,” tutur Alif.
WHO menegaskan bahwa industri tembakau sengaja merancang produknya untuk menjebak kaum muda dalam siklus kecanduan.
Saat ini, pasar Indonesia telah dibanjiri oleh produk tembakau yang dipanaskan (Heated Tobacco Products/HTP) serta rokok elektrik (vape/ENDS).
Padahal, produk-produk ini memapari penggunanya dengan emisi beracun yang memicu kanker, penyakit kardiovaskular, hingga gangguan pernapasan, yang tingkat bahayanya sama mematikannya dengan rokok biasa.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Press Release