Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Jumat, 12 JUNI 2026 • 09:40 WIB

Alergi Protein Susu Sapi Kerap Tak Disadari, Yuk Kenali Gejalanya Sejak Dini

Alergi Protein Susu Sapi Kerap Tak Disadari, Yuk Kenali Gejalanya Sejak DiniRangkaian acara inisiatif SADAR Alergi (Skrining Awal dan Asupan Rekomendasi Alergi) dalam menyambut World Allergy Week 2026 yang mengusung tema 'Allergy Care is Essential Care'.

INDOZONE.ID - Alergi protein susu sapi (APSS) masih menjadi salah satu masalah kesehatan yang cukup sering dialami anak-anak, terutama pada usia dini. Kondisi ini penting dikenali sejak awal karena gejalanya sering menyerupai gangguan kesehatan umum lainnya, sehingga kerap terlambat terdeteksi.

Berdasarkan data yang dikutip dalam Asia Pacific Journal of Clinical Nutrition (2025), prevalensi alergi protein susu sapi di dunia berkisar antara 2 hingga 7,5 persen. Sementara itu, data Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menunjukkan angka kejadian APSS di Indonesia dapat mencapai 7,5 persen.

Gejala yang muncul pun beragam, mulai dari ruam pada kulit, gangguan pencernaan, hingga perubahan perilaku setelah anak mengonsumsi susu sapi atau produk turunannya. 

Karena kemiripannya dengan kondisi lain, banyak orang tua yang tidak langsung menyadari bahwa keluhan tersebut berkaitan dengan alergi.

Menyambut World Allergy Week 2026 yang mengusung tema Allergy Care is Essential Care, Sarihusada kembali memperkuat inisiatif SADAR Alergi (Skrining Awal dan Asupan Rekomendasi Alergi). 

Program ini bertujuan meningkatkan kesadaran orang tua mengenai pentingnya deteksi dini, konsultasi dengan dokter spesialis anak, serta pemenuhan nutrisi yang sesuai bagi anak dengan alergi protein susu sapi.

Healthcare Nutrition Director Sarihusada, Vera Saw, mengatakan masih banyak orang tua yang kesulitan mengenali gejala alergi susu sapi karena sering dianggap sebagai gangguan kesehatan biasa.

Baca juga: Sering Dianggap Sama, Ini Bedanya Gejala Alergi Susu Sapi dan Intoleransi Laktosa

"Gejala alergi susu sapi sering kali disalahartikan sebagai kondisi umum sehingga penanganannya terlambat. Padahal kondisi ini dapat memengaruhi kenyamanan anak sekaligus berdampak pada tumbuh kembangnya jika tidak ditangani dengan tepat," ujar Vera.

Menurutnya, edukasi berbasis sains menjadi penting di tengah maraknya informasi kesehatan yang beredar di masyarakat. Vera juga mengingatkan agar orang tua tidak melakukan self-diagnosis tanpa berkonsultasi dengan tenaga medis.

Gejala dan Penanganan Berbeda pada Setiap Anak

Dokter Spesialis Anak Konsultan Alergi Imunologi, dr. Molly Dumakuri Oktarina Sp.A, Subsp.A.I(K), menjelaskan bahwa tingkat keparahan alergi protein susu sapi dapat berbeda pada setiap anak.

Gejalanya dapat muncul dalam kategori ringan, sedang, hingga berat, tergantung respons tubuh terhadap protein susu sapi. Jika tidak ditangani dengan baik, kondisi tersebut berpotensi mengganggu asupan nutrisi, kualitas tidur, hingga proses tumbuh kembang anak dalam jangka panjang.

"Setiap anak memiliki kondisi yang berbeda sehingga pendekatan penanganannya tidak bisa disamaratakan. Diagnosis dan pemilihan nutrisi harus dilakukan berdasarkan evaluasi dokter anak," jelas dr. Molly.

Ia menegaskan bahwa ASI tetap menjadi pilihan terbaik bagi anak, termasuk yang mengalami alergi protein susu sapi. Namun, ibu menyusui perlu menghindari konsumsi susu sapi dan produk turunannya sebagai bagian dari penanganan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Press Release

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Alergi Protein Susu Sapi Kerap Tak Disadari, Yuk Kenali Gejalanya Sejak Dini

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!