Hati-hati! Kopi Instan Dianggap Bisa Tingkatkan Risiko Gangguan Penglihatan hingga Tujuh Kali Lipat
INDOZONE.ID – Sebuah studi terbaru mengungkapkan, konsumsi kopi instan berisiko hampir tujuh kali lipat lebih tinggi menyebabkan gangguan penglihatan, khususnya degenerasi makula terkait usia (age-related macular degeneration/AMD).
Penyakit ini diketahui memengaruhi penglihatan pusat, dan menyebabkan pandangan kabur. Menurut estimasi para peneliti, lebih dari 200 juta orang di dunia hidup dengan AMD.
Dikutip dari Medical News Today, terdapat dua jenis AMD, yakni AMD kering—yang paling umum—dan AMD basah yang terjadi akibat pertumbuhan pembuluh darah abnormal di belakang mata, dan merusak makula, bagian penting di retina.
Genetik dan Kopi Instan: Kombinasi Berisiko?
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Food Science & Nutrition oleh tim dari Hubei University of Medicine, Tiongkok, menyatakan, konsumsi kopi instan dan faktor genetik tertentu, dapat meningkatkan risiko terkena AMD kering secara signifikan.
“AMD merupakan penyebab utama kehilangan penglihatan pada usia lanjut di negara-negara maju. Karena belum ditemukan obatnya, penting untuk mengidentifikasi faktor risiko yang dapat diubah guna memperlambat perkembangan penyakit dan menjaga kualitas hidup pasien,” ujar Dr. Siwei Liu, peneliti utama studi tersebut.
Dalam studi ini, peneliti menggunakan data dari lebih dari 500.000 peserta UK Biobank, dan memisahkan mereka berdasarkan jenis kopi yang dikonsumsi. Seperti, kopi tanpa kafein, kopi giling, dan kopi instan.
Data tentang AMD dikumpulkan dari peserta berusia di atas 50 tahun dalam basis data Finngen GWAS.
Baca juga: Waspadai Retinopati Diabetik: Komplikasi Serius yang Ancam Penglihatan
Risiko AMD Kering Naik Tujuh Kali Lipat
Menggunakan metode mendelian randomization dan linkage disequilibrium score regression (LDSC), para peneliti menemukan korelasi genetik antara preferensi terhadap kopi instan dan peningkatan risiko AMD kering hingga tujuh kali lipat.
“Temuan ini menunjukkan kemungkinan adanya jalur biologis atau mekanisme metabolik bersama yang menghubungkan kebiasaan minum kopi instan dengan risiko AMD,” jelas Liu.
Namun, studi ini tidak menemukan kaitan antara konsumsi kopi dengan AMD basah.
Liu menyebutkan, penelitian lanjutan akan dilakukan untuk memvalidasi temuan ini pada populasi yang berbeda, serta mengeksplorasi apakah jalur metabolik yang terkait dengan konsumsi kopi instan benar-benar berkontribusi pada patofisiologi AMD.
Pendapat Para Ahli
Meski hasil studi ini cukup mengejutkan, para ahli menyarankan agar publik tidak terburu-buru menarik kesimpulan.
“Saya menemukan hasil ini menarik, tetapi masih terlalu awal untuk menyarankan pasien menghentikan konsumsi kopi instan,” kata Dr. David I. Geffen, OD, FAAO, dari Gordon Schanzlin New Vision, California, yang tidak terlibat dalam studi ini.
Geffen menyoroti perlunya penelitian lebih lanjut yang mempertimbangkan variabel seperti jumlah kopi yang dikonsumsi, status sosial ekonomi, serta faktor gaya hidup lain.
Senada dengan Geffen, Dr. Benjamin Bert, dokter mata bersertifikat dari MemorialCare Orange Coast Medical Center, mengatakan, studi ini sebagai contoh bagaimana DNA individu dapat menjadi acuan dalam pengobatan masa depan.
Baca juga: Hati-hati! Sindrom Penglihatan Komputer Bisa Ganggu Mata Akibat Layar Digital
Lalu, sebagai bukti penting bahwa makanan dan minuman—terutama yang diproses tinggi seperti kopi instan—berpotensi memengaruhi kesehatan secara menyeluruh.
“Kita semakin menyadari bahwa pilihan makanan dan minuman sangat berdampak pada kesehatan. Studi ini memperkuat dugaan bahaya makanan olahan tinggi,” ujar Bert.
Mengurangi Risiko AMD
AMD memiliki beberapa faktor risiko yang tidak dapat diubah, seperti usia dan genetik. Namun, terdapat juga faktor yang bisa dimodifikasi, seperti merokok, berat badan, aktivitas fisik, dan pola makan.
Konsumsi makanan tinggi antioksidan seperti lutein, zeaxanthin, vitamin C dan E, serta asam lemak omega-3, terbukti dapat membantu menurunkan risiko AMD.
Dengan temuan terbaru ini, para peneliti mendorong dilakukannya intervensi gaya hidup berbasis genetik untuk mencegah penyakit mata serius ini di masa depan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Medical News Today