INDOZONE.ID - Banyak remaja perempuan mulai sadar pentingnya merawat tubuh, termasuk area kewanitaan. Cuma ya, kadang info yang ada tuh malah bikin bingung.
Beberapa kebiasaan yang dianggap "merawat", justru bisa berdampak negatif ke kesehatan vagina.
Berikut tujuh kesalahan yang sering dilakukan remaja saat merawat vagina, beserta solusi yang tepat.
Baca juga: Rahasia Senyum Prilly Latuconsina: Me-Time Pagi, Disiplin Malam, dan Perlindungan Gigi
1. Terlalu Sering Pakai Sabun Beraroma atau Antiseptik
Banyak yang mikir kalau sabun wangi bisa bikin vagina lebih bersih dan harum.
Bukannya makin bersih, sabun beraroma gitu malah bisa ganggu pH dan bunuh bakteri baik yang seharusnya ngelindungin area kewanitaan, Ini bisa menyebabkan iritasi, keputihan, bahkan infeksi.
Cukup bersihkan area luar (vulva) dengan air hangat atau sabun lembut tanpa pewangi. Faktanya, vagina udah punya cara buat ngebersihin diri sendiri tanpa bantuan macem-macem.
2. Douching
Douching atau menyemprot cairan pembersih ke dalam vagina adalah kebiasaan yang masih sering dilakukan.
Padahal, menurut Mayo Clinic, douching justru meningkatkan risiko infeksi jamur, bacterial vaginosis, hingga penyakit radang panggul.
Hindari douching sepenuhnya. Cukup jaga kebersihan bagian luar saja.
Baca juga: 5 Cara Mudah Ibu Hamil Jaga Imunitas di Musim Kemarau Basah
3. Mengabaikan Kebersihan Saat Menstruasi
Ganti pembalut atau tampon terlalu jarang bisa bikin bakteri berkembang biak dan menyebabkan infeksi.
Selain itu, masih banyak yang mencuci area kewanitaan dengan cara kasar atau produk pembersih yang nggak ramah vagina.
Ganti pembalut setiap 4–6 jam, cuci vulva dengan air bersih, dan keringkan dengan handuk bersih. Jangan lupa cuci tangan sebelum dan sesudahnya.
4. Menghilangkan Rambut Kemaluan Sampai Habis
Bulu kemaluan punya fungsi melindungi area sensitif dari gesekan dan bakteri. Mencukurnya sampai habis atau waxing secara agresif bisa menyebabkan luka kecil, yang jadi pintu masuk infeksi.
Kalau emang nggak nyaman, rapihin dikit aja pakai gunting atau cukur pelan-pelan, yang penting tetep aman.
Baca juga: Jangan Berenang di Banjir! Bahaya Bisa Kena Kencing Tikus yang Mengancam Nyawa
5. Sering Pakai Celana Dalam Ketat atau Bahan Sintetis
Celana dalam ketat dan berbahan sintetis bisa bikin area vagina lembap dan panas, yang memicu pertumbuhan jamur dan bakteri.
Pake celana dalam katun aja, biar nggak pengap dan tetap kering seharian.
6. Mengabaikan Gejala Abnormal
Rasa gatal, nyeri, bau tidak biasa, keputihan yang berwarna atau terlalu banyak adalah tanda-tanda yang nggak boleh diabaikan. Tapi masih banyak remaja yang malu atau menganggap hal itu wajar.
Kalau ada gejala yang mencurigakan, segera konsultasikan ke tenaga medis. Jangan mencoba obati sendiri tanpa diagnosis yang jelas.
Baca juga: Tanda-tanda Kanker Usus Besar, Jangan Anggap Remeh karena Bisa Muncul di Usia Muda!
7. Menyentuh Area Kewanitaan dengan Tangan Kotor
Tanpa sadar, banyak yang menyentuh area genital saat buang air kecil atau mengganti pembalut tanpa mencuci tangan dulu. Padahal ini bisa memindahkan bakteri dari tangan ke vagina.
Biasakan selalu mencuci tangan sebelum dan sesudah menyentuh area intim. Selain itu, saat membersihkan, usap dari depan ke belakang untuk menghindari perpindahan bakteri dari anus ke vagina.
Merawat vagina itu sebenarnya simpel dan nggak butuh produk ribet. Justru yang dibutuhkan adalah pengetahuan yang benar dan kebiasaan bersih yang konsisten.
Vagina itu organ yang punya sistem perlindungan sendiri. Tugas kita cukup menjaga agar lingkungan sekitarnya tetap bersih dan seimbang.
Baca juga: 10 Makanan yang Bantu Lawan Jerawat dan Jaga Kesehatan Kulit dari Dalam
Sebagai remaja, penting banget untuk belajar sejak dini tentang kesehatan reproduksi. Bukan cuma demi kenyamanan, tapi juga untuk mencegah risiko jangka panjang.
Jangan malu untuk cari tahu, bertanya ke orang terpercaya, atau konsultasi ke dokter kalau ada yang nggak biasa.
Dengan informasi yang tepat dan cara perawatan yang benar, kamu bisa tumbuh jadi pribadi yang lebih sehat dan percaya diri.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Mayoclinic.org, Healthline.com