INDOZONE.ID - Bayangin Kamu lagi jalan-jalan ke tempat baru, terus tiba-tiba Kamu ngerasa kayak pernah ngalamin momen itu sebelumnya. Padahal Kamu yakin banget belum pernah ke sana.
Rasanya aneh, kayak otak Kamu nyelip di antara realita dan kenangan. Inilah yang disebut déjà vu.
Selama ini, banyak yang nganggep fenomena ini sebagai hal mistis atau pertanda spiritual. Tapi ternyata, dunia medis dan neurologi punya penjelasan ilmiah soal kenapa otak kita bisa "salah paham" begini. Yuk, kita bongkar fakta dan rahasianya!
Baca juga: Cairan Elektrolit vs Air Putih: Pilih yang Mana Saat Radang?
Apa Sebenarnya yang Terjadi Saat Déjà Vu?
Déjà vu secara harfiah artinya "sudah pernah melihat" dalam bahasa Prancis. Tapi dalam pengalaman manusia, sensasinya jauh lebih rumit.
Ini bukan sekadar "merasa familiar", tapi sensasi seolah-olah Kamu benar-benar sudah mengalami momen yang sama di masa lalu.
Menurut pakar neurologi dari Cleveland Clinic, déjà vu terjadi saat otak mengalami sedikit ketidaksesuaian antara memori jangka pendek dan jangka panjang.
Area otak yang memproses ingatan terutama, sesekali bisa mengalami “kesalahan teknis”, sehingga pengalaman baru terasa seperti sesuatu yang sudah pernah terjadi sebelumnya.
“Ini seperti gangguan pada sistem memori otakmu,” jelas Dr. Vernon Williams, seorang neurolog dari Cedars-Sinai Kerlan-Jobe Institute.
Baca juga: Jaga Lansia dari Ancaman Penyakit Pernapasan Menular RSV, Begini Caranya
Bukan Cuma Perasaan Ajaib, Tapi Bisa Jadi Sinyal Otak
Meskipun kebanyakan déjà vu nggak berbahaya dan lumrah terjadi, bahkan sekitar 60-70% orang dewasa mengalaminya setidaknya sekali—tapi di kasus tertentu.
Fenomena ini bisa jadi pertanda adanya kondisi neurologis yang lebih serius.
Beberapa penderita epilepsi, khususnya yang mengalami epilepsi lobus temporal, kerap merasakan sensasi déjà vu tepat sebelum kejang dimulai.
Itulah kenapa dokter bisa menggunakan gejala déjà vu sebagai salah satu indikator awal adanya gangguan neurologis.
Namun jangan buru-buru panik. Kalau Kamu hanya mengalami déjà vu sesekali, tanpa disertai gejala lain seperti kejang, hilang kesadaran, atau disorientasi, maka nggak ada yang perlu dikhawatirkan.
Baca juga: Mattel Rilis Barbie Pengidap Diabetes Tipe 1, Warganet: Bahkan di Usia 33, Aku Merasa Terwakili
Siapa yang Paling Sering Mengalami Déjà Vu?
Riset menunjukkan bahwa anak muda usia 15–25 tahun adalah kelompok yang paling sering mengalami déjà vu.
Ini berkaitan dengan aktivitas otak mereka yang masih sangat responsif terhadap memori dan lingkungan baru.
Selain itu, orang-orang yang sering bepergian, kurang tidur, atau mengalami stres juga lebih mungkin mengalami fenomena ini.
Jadi kalau Kamu lagi capek, banyak pikiran, atau baru pulang traveling dan tiba-tiba merasa "eh, ini pernah deh", bisa jadi otak Kamu lagi nge-prank secara halus.
Baca juga: Benarkah Pijat Bisa Bikin Orang Panjang Umur? Ini Penjelasannya
Apakah Déjà Vu Bisa Dicegah?
Karena déjà vu bukan penyakit, tentu nggak ada "obat" untuk mencegahnya.
Tapi kalau Kamu sering banget mengalaminya, apalagi kalau frekuensinya makin sering dan muncul gejala aneh lain, nggak ada salahnya cek ke dokter saraf atau spesialis neurologi.
Namun jika hanya muncul sesekali, Kamu cukup istirahat cukup, kelola stres, dan jaga pola tidur, karena gangguan ritme sirkadian juga bisa memperbesar peluang déjà vu.
Baca juga: Mirror Touch Synesthesia: Saat Lihat Orang Kesakitan, Tubuhmu Juga Ikut Sakit
Otak Itu Hebat Tapi Juga Bisa Bingung
Déjà vu adalah salah satu misteri paling menarik dari otak manusia. Meskipun terkesan aneh dan bikin kita mikir, fenomena ini justru membuktikan betapa kompleks dan canggihnya sistem memori kita.
Kadang, otak bisa bikin "lucu-lucuan" sendiri dengan nyelipin perasaan familiar ke pengalaman yang sebenarnya baru banget.
Jadi lain kali kalau Kamu ngerasa kayak pernah ngalamin sesuatu padahal belum pernah, jangan langsung mikir ini pertanda gaib.
Bisa jadi, itu cuma cara otak Kamu nunjukin betapa luar biasa (dan kadang membingungkannya) dia bekerja.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Cleveland Clinic