Studi Awal: Aroma Buah Matang Dapat Mengubah Ekspresi Gen dalam Sel, Harapan Baru Penyembuhan Kanker?
INDOZONE.ID - Menurut penelitian terbaru, aroma seperti yang berasal dari buah-buahan matang atau makanan yang telah difermentasi dapat mengubah ekspresi gen dalam sel yang terletak jauh di luar hidung.
Para ilmuwan kini sedang mempertimbangkan untuk melakukan penelitian lebih lanjut. Pertanyaan mendasarnya: Apakah dengan mencium molekul-molekul yang mudah menguap di udara dapat menjadi sebuah langkah untuk menunda perkembangan penyakit saraf atau mengobati kanker?
Pemberian obat melalui hidung sebenarnya bukanlah hal yang baru-baru amat. Namun terdapat kemajuan signifikan dari penelitian yang dilakukan pada sel, lalat, dan tikus.
Dalam 5 hari, para peneliti memberi tikus dan lalat buah (Drosophila Melanogaster) paparan berbagai konsentrasi asap diacetyl.
Baca juga: Masalah Rambut yang Sering Dialami Orang Indonesia dan Solusinya
Zat yang mudah menguap ini dihasilkan oleh buah yang memfermentasi ragi. Ini juga merupakan produk sampingan dari pembuatan bir.
Peneliti menemukan bahwa diacetyl dapat berfungsi sebagai inhibitor histone deacetylase (HDAC) dalam sel manusia yang dikembangkan di laboratorium.
Enzim HDAC membantu membungkus DNA lebih kencang di sekitar histon, sehingga lebih mudah dalam mengekspresikan gen jika dihambat atau terhambat. Inhibitor HDAC sudah digunakan sebagai pengobatan untuk kanker darah.
Setelah diamati, terdapat perubahan besar ekspresi gen pada otak hewan, paru-paru tikus, antena lalat, dan jenis sel lainnya.
Baca juga: 5 Manfaat Minum Air Putih Saat Perut Kosong yang Jarang Diketahui
“Hal yang mengejutkan adalah paparan terhadap suatu bau dapat secara langsung mengubah ekspresi gen, bahkan pada jaringan yang tidak memiliki reseptor bau,” ujar Anandasankar Ray, ahli biologi sel dan molekuler di University of California, Riverside sekaligus penulis senior dalam penelitian ini.
Dalam penelitian selanjutnya terungkap bahwa pertumbuhan sel neuroblastoma manusia mampu dihambat oleh asap diacetyl tersebut. Selain itu, paparannya mengurangi laju perkembangan neurodegenerasi pada lalat percobaan.
Ray mengatakan, “telah menemukan bahwa beberapa molekul yang mudah menguap yang dilepaskan oleh makanan dan bakteri dapat mengubah keadaan epigenetik neuron dan sel eukariotik lainnya. Volatilitas umum ini belum pernah dilaporkan sebelumnya, kecuali dalam laporan kami.”
Senyawa ini mungkin bukan kandidat yang tepat untuk terapi. Sebab, penelitian lain menunjukkan bahwa menghirup bahan kimia tersebut menyebabkan perubahan pada sel saluran napas. Zat yang sama bahkan menyebabkan bronkiolitis obliteratif.
Baca juga: Rahasia Alpukat untuk Jantung dan Tekanan Darah yang Sehat
“Fokus kami saat ini adalah mengidentifikasi molekul-molekul yang mudah menguap lain yang menyebabkan perubahan ekspresi gen,” lanjut Ray.
Namun, penelitiannya masih menghadapi banyak kendala. Misalnya, para peneliti masih belum mampu memahami mekanisme yang dapat menjelaskan bagaimana aroma menimbulkan perubahan epigenetik pada sel-sel yang terletak jauh dari hidung.
Selain itu, penelitian pra-klinis berbasis laboratorium ini tidak mengatasi kemungkinan efek jangka panjang dari paparan berulang atau berkepanjangan terhadap aroma lain yang umum.
Para peneliti menulis dalam publikasi mereka bahwa, “Temuan yang dilaporkan disini menekankan faktor baru untuk mengevaluasi keamanan beberapa senyawa volatil yang dapat melewati membran sel, mengingat paparan berulang terhadap rasa dan aroma tertentu.”
Baca juga: Kepala BGN Bongkar Menu Makan Bergizi Gratis Favorit Anak: Kalau di Tangsel Suka Lele
Penerapan teknik ini mungkin lebih berguna di bidang pertanian. Tanaman diketahui bereaksi kuat dan cepat terhadap molekul-molekul yang mudah menguap di udara. Hal ini dapat terjadi karena tanaman juga mengandung enzim HDAC.
Tak dimungkiri ada risiko kesehatan yang belum diketahui terkait efek sampingnya. Masih diperlukan penelitian tambahan untuk memahami sepenuhnya implikasi luas dari temuan menarik ini.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Science Alert