INDOZONE.ID - Gaya hidup bukanlah penyebab atau faktor risiko kanker sarkoma. Jadi berbeda dengan jenis kanker lain yang umum di Indonesia.
Senior Consultant Medical Oncology dari Parkway Cancer Centre Dr. Richard Quek mengungkapkan, kanker sarkoma sangat rentan dialami oleh orang dengan mutasi gen di gen P53. Kelompok risikonya sangatlah jarang.
“Jadi kalau di keluarga ada yang gen P53 keluarga, risikonya tinggi. Tapi di luar P53 risikonya sangat rendah. Bahkan keluarga memiliki itu tidak berarti generasi berikutnya akan mendapatkannya,” ujar Dr. Richard usai Seminar Sarkoma: Kanker Langka yang Agresif dan Mulai Menyerang Usia Muda di Jakarta.
Jika seseorang tidak punya mutasi gen P53 itu sangat kecil risikonya terkena sarkoma. Jadi, ditegaskan sang dokter, kanker sarkoma hanya bisa diturunkan ke orang-orang dengan gen tersebut saja.
“Nah itu yang bisa diturunkan cuman kelompok orang ini itu sangat-sangat jarang ya,” kata sang dokter.
Apa Itu Sarkoma?
Dijelaskan lebih lanjut, sarkoma adalah kanker yang berasal dari jaringan mesenkim, lapisan yang dalam tubuh manusia berkembang menjadi jaringan ikat, otot, lemak, pembuluh darah, hingga tulang.
Sarkoma bisa tumbuh di hampir semua bagian tubuh, dari kulit, organ dalam, hingga sistem rangka.
Di antara jenis kanker yang dikenal luas seperti kanker paru-paru atau payudara, kanker sarkoma ini sering terlupakan.
Meski jarang terjadi, sarkoma bersifat agresif dan bisa menyerang siapa saja, termasuk anak-anak dan remaja.
Baca juga: Mengenal Sarkoma Jantung, Kanker Langka yang Menyerang Virgil Abloh Hingga Meninggal Dunia
Gejala Sarkoma
Gejala utama sarkoma sering kali berupa benjolan yang membesar perlahan tanpa rasa nyeri, sehingga kerap diabaikan. Gejala lainnya bergantung pada lokasi tumor, seperti nyeri tulang atau pembengkakan, sesak napas (jika tumor tumbuh di rongga dada), gangguan pencernaan atau nyeri perut (jika di saluran cerna), patah tulang tanpa trauma berarti, hingga penurunan berat badan atau kelelahan kronis.
“Karena gejalanya samar, sarkoma sering terlambat terdiagnosis. Hal ini membuat deteksi dini menjadi kunci penting dalam meningkatkan peluang kesembuhan,” tutupnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan