INDOZONE.ID - Kalau ngomongin olahraga lari, biasanya orang kebagi dua kubu: tim sprint yang suka lari kilat jarak pendek, dan tim long run alias lari jarak jauh yang tahan banting di lintasan.
Dua-duanya sama-sama bagus buat kesehatan, tapi efeknya ke tubuh bisa beda banget. Jadi, kalau Kamu lagi bingung mau fokus ke sprint atau lari jauh, yuk bahas satu-satu biar lebih jelas.
Baca juga: Kenali 5 Dahak saat Bangun Tidur: Normal atau Gejala Penyakit?
Sprint: Cepat, Kuat, dan Bikin Otot Lebih Terlihat
Lari sprint itu intinya ledakan tenaga dalam waktu singkat. Bayangin aja kamu melesat dari garis start kayak panah yang dilepas.
Karena gerakannya eksplosif, sprint banyak ngelibatin otot-otot “fast-twitch” — otot yang kerja pas kita butuh kecepatan dan kekuatan ekstra.
Hasilnya? Sprint bikin massa otot lebih gampang terbentuk, terutama di kaki. Selain itu, sprint juga efektif buat nurunin berat badan karena intensitasnya tinggi.
Bahkan setelah selesai lari, tubuh masih “bakar kalori tambahan” lewat proses yang disebut EPOC (excess post-exercise oxygen consumption). Jadi kalau targetmu pengen lebih cepat, lebih kuat, dan otot lebih kenceng, sprint bisa jadi pilihan pas.
Baca juga: Apakah Makan Mi Instan Itu Buruk untuk Kesehatan? Yuk, Kita Kupas Tuntas!
Lari Jarak Jauh: Tahan Lama dan Melatih Napas
Beda lagi kalau kamu pilih lari jarak jauh. Di sini bukan soal kecepatan sesaat, tapi soal daya tahan.
Lari jauh bikin jantung dan paru-paru lebih kuat karena tubuh dilatih buat bertahan di pace stabil dalam waktu lama.
Selain itu, long run juga bantu ningkatin endurance — kemampuan buat terus aktif tanpa gampang capek. Makanya, kalau kamu pengen ikut lomba 5K, 10K, atau bahkan marathon, latihan long run wajib banget.
Kuncinya ada di ritme: mulai dengan pace santai, simpan energi, baru tambah kecepatan kalau udah mendekati garis finish.
Baca juga: Dokter Ungkap Bahaya Tersembunyi Vape, Jangan Tertipu Klaim Lebih Aman
Mana yang Lebih Aman dari Cedera?
Jawabannya: tergantung. Baik sprint maupun lari jarak jauh bisa bikin cedera kalau dilakukan kebanyakan atau tanpa pemanasan yang bener.
Prinsipnya, jangan buru-buru. Mulai pelan, lalu Kamu tambahin intensitas atau jarak sedikit demi sedikit. Jangan lupa juga selingi latihan lain kayak strength training atau plyometric buat jaga otot dan sendi tetap kuat.
Mana yang Lebih Cocok Buat Bakar Lemak?
Kalau tujuannya lebih ke nurunin berat badan dan bikin tubuh lebih kenceng, sprint biasanya lebih efektif. Intensitas tinggi bikin tubuh kerja keras bukan cuma saat lari, tapi juga setelahnya.
Tapi, bukan berarti lari jauh nggak bakar kalori ya — cuma efek “afterburn”-nya nggak sebesar sprint.
Sebenarnya, nggak ada aturan kalau kamu harus milih salah satu. Sprint dan lari jarak jauh bisa saling melengkapi.
Baca juga: Pentingnya Vaksin HPV untuk Cegah Kanker Leher Rahim di Indonesia
Sprint bikin otot lebih kuat dan kecepatan meningkat, sementara lari jauh bikin daya tahan jantung-paru makin oke.
Jadi, kalau mau seimbang, coba kombinasikan. Misalnya, selipkan sprint 20–30 detik beberapa kali dalam seminggu, dan di hari lain fokus ke long run dengan pace santai.
Yang penting, dengarkan tubuhmu, jangan buru-buru, dan nikmati prosesnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Businessinsider.com