Minggu, 31 AGUSTUS 2025 • 19:00 WIB

Beli Obat Bebas di Warung Gak Selalu Aman, Kenali Bahayanya

Author

Ilustrasi obat. (Freepik)

INDOZONE.ID - Banyak orang terbiasa membeli obat bebas di warung atau minimarket saat mengalami gejala ringan seperti sakit kepala atau flu. Mereka sering gak konsultasi dulu ke dokter sebelum membeli obat.

Padahal, kenyataannya, penggunaan obat tanpa pengawasan yang tepat dapat menimbulkan risiko kesehatan. Mulai dari dosis yang keliru, interaksi antar obat, hingga efek samping yang tidak disadari.

Swamedikasi atau pengobatan mandiri memang diperbolehkan, tetapi harus dilakukan secara rasional. Tapi kamu perlu memahami jenis obat yang digunakan, dosis yang sesuai, waktu konsumsi, serta potensi risiko yang mungkin timbul. 

Kurangnya pemahaman ini menjadi tantangan besar dalam sistem kesehatan masyarakat. Lihat saja, berdasarkan data dari Riset Kesehatan Dasar yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan, lebih dari separuh masyarakat Indonesia masih menggunakan obat tanpa informasi yang cukup. 

Padahal, kesalahan kecil dalam penggunaan obat dapat berdampak besar, terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan individu dengan penyakit kronis.

Head of Marketing VIVA Apotek Amanda Mardhatillah mengajak kamu untuk mengetahui lebih jauh soal literasi kesehatan. Terutama jika minum obat tanpa konsultasi ke dokter bila sakit. 

“Kami ingin mengajak masyarakat untuk lebih kritis dan bijak dalam memilih produk kesehatan. Literasi kesehatan yang baik adalah fondasi penting bagi tercapainya Indonesia Sehat 2045,” ujar Amanda dalam acara Wellness Festival (Wellfest) 2025 di BXC Park, Bintaro Jaya Xchange Mall.

Wellness Festival (Wellfest) 2025 di BXC Park, Bintaro Jaya Xchange Mall

Baca juga: Ini Waktu yang Pas Konsumsi Obat Cacing Menurut Dokter, Harus Ada Gejalanya!


Dia percaya, salah satu investasi terbaik bagi bangsa adalah membangun masyarakat yang melek kesehatan. Pihaknya pun akan menyiapkan akses informasi yang benar, terpercaya, dan mudah dipahami oleh masyarakat. 

“Kami ingin hadir bukan hanya sebagai apotek, tetapi sebagai partner literasi kesehatan yang membimbing masyarakat membuat keputusan yang tepat,” imbuhnya.

Literasi kesehatan adalah bagian penting dari pembangunan sumber daya manusia yang sehat dan produktif. Pemahaman tentang cara penggunaan obat yang benar, mampu mencegah kejadian yang tidak diinginkan seperti resistensi obat, overdosis, atau interaksi berbahaya antar zat aktif. 

Baca juga: Tidak Hanya Sebagai Bumbu Masakan, Bawang Putih Ternyata Bisa Jadi Obat Pereda Sakit Gigi

Oleh karena itu, meningkatkan literasi kesehatan bukan hanya tanggung jawab tenaga medis, tetapi juga seluruh elemen masyarakat. Selain itu, edukasi kesehatan tidak lagi sebatas kampanye satu arah, melainkan proses kolaboratif antara penyedia layanan kesehatan dan masyarakat.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU