INDOZONE.ID - Para peneliti terus mencari cara baru, untuk mendiagnosis penyakit Alzheimer sejak dini. Penyakit yang merupakan bentuk demensia itu, saat ini memengaruhi sekitar 32 juta orang di seluruh dunia.
Dikutip dari Medical News Today, Ahli Saraf Kognitif sekaligus Dosen Senior di Universitas Bath, Inggris, George Stothart, PhD, mengatakan, Alzheimer sering kali didiagnosis hingga 20 tahun terlambat.
“Jika kita bisa mendiagnosis lebih awal, ada tiga hal penting yang bisa dilakukan, yakni memberi kesempatan bagi pasien melakukan perubahan gaya hidup yang dapat memperlambat perkembangan penyakit,” ucap Stothart, yang juga penulis utama studi terbaru tentang metode diagnosis Alzheimer.
“Memberikan akses lebih awal pada obat-obatan baru yang lebih efektif, serta meningkatkan kualitas uji klinis dengan identifikasi pasien yang lebih tepat,” sambungnya.
Baca juga: Perhatian! Makan Satu Butir Telur Per Minggu Dikaitkan dengan Penurunan Risiko Alzheimer
Mengenal Tes Fastball EEG
Dalam studi yang diterbitkan di jurnal Brain Communications, tim peneliti memperkenalkan Fastball EEG, tes noninvasif yang hanya membutuhkan waktu tiga menit. Tes ini merekam aktivitas listrik otak, ketika seseorang melihat rangkaian gambar di layar.
“Fastball adalah tes pasif untuk mengukur cara otomatis otak mengenali objek. Pasien hanya perlu menatap layar, sementara elektroda EEG mengukur respons gelombang otak mereka,” ujar Stothart.
Penelitian melibatkan 53 lansia dengan gangguan kognitif ringan (MCI), dan 54 lansia sehat sebagai kelompok kontrol. Hasilnya, Fastball mampu mendeteksi masalah memori pada penderita MCI, kondisi yang sering menjadi awal dari Alzheimer.
Potensi Digunakan di Rumah
Studi ini juga menemukan, tes Fastball bisa dilakukan di luar klinik, bahkan di rumah pasien. Menurut Stothart, hal ini dapat mengurangi kecemasan yang biasanya memengaruhi hasil tes kognitif konvensional.
“Dengan tes di rumah, pasien lebih rileks, sehingga hasilnya lebih akurat,” ujarnya.
Saat ini, uji validasi skala besar tengah dilakukan di Inggris dengan melibatkan lebih dari 2.000 pasien. Penelitian tersebut dijadwalkan selesai pada 2027.
Baca juga: Enggak Nyangka, Terapi Kanker Payudara Bisa Jadi Perisai dari Alzheimer
Tes Fastball Menjanjikan tapi Butuh Kajian Lanjut
Sementara itu, Direktur Neurologi Kognitif dan Perilaku di Marcus Neuroscience Institute, Peter Gliebus, MD, menilai, temuan ini menjanjikan.
“Fastball menawarkan cara cepat, objektif, dan noninvasif untuk mendeteksi gangguan memori awal tanpa bergantung pada bahasa atau faktor budaya,” katanya.
Namun, ia menekankan perlunya studi lanjutan jangka panjang untuk memastikan apakah metode ini benar-benar bisa memprediksi perkembangan Alzheimer.
Gliebus juga menyarankan, agar Fastball dipadukan dengan biomarker darah, atau pencitraan otak demi meningkatkan akurasi.
Kritik Soal Potensi Hasil Positif Palsu
Di sisi lain, Neurolog dari Providence Saint John’s Health Center, California, Clifford Segil, DO, meragukan manfaat klinis Fastball.
“Menggantikan evaluasi klinis dengan pengukuran listrik otak berisiko menghasilkan temuan positif palsu,” ujarnya.
Ia menambahkan, EEG lebih tepat digunakan untuk mendiagnosis epilepsi, bukan demensia.
Harapan Baru dalam Deteksi Dini Alzheimer
Meski masih menuai perdebatan, penelitian ini memberi harapan bahwa, deteksi Alzheimer dapat dilakukan lebih awal, murah, dan nyaman bagi pasien.
Jika terbukti efektif, Fastball EEG bisa menjadi alat skrining baru yang mempercepat diagnosis, dan membantu jutaan orang menghadapi penyakit yang hingga kini belum memiliki obat penyembuh tersebut.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Medical News Today