INDOZONE.ID – Kebiasaan menunda sarapan, rupanya bisa memengaruhi kualitas kesehatan seseorang. Sebuah studi terbaru yang dipublikasikan dalam Communications Medicine menunjukkan, waktu makan, terutama sarapan, berhubungan erat dengan risiko penuaan biologis, gangguan mental, hingga masalah kesehatan mulut.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), angka harapan hidup global meningkat dari 64,9 tahun pada 1995, menjadi 73,3 tahun pada 2024. Seiring bertambahnya usia harapan hidup, menjaga kualitas menjadi semakin penting.
“Ketika orang hidup lebih lama berkat kemajuan medis, kualitas hidup harus tetap diperhatikan,” ujar Ilmuwan Nutrisi Klinis sekaligus Penulis Utama studi ini, Hassan Dashti, PhD, RD, dikutip dari Medical News Today.
“Penelitian tentang pola makan, tidur, dan gaya hidup dapat membantu mengurangi beban penyakit, serta mendukung kehidupan yang lebih sehat di usia lanjut,” sambungnya.
Baca juga: 4 Rekomendasi Menu Sarapan Tinggi Vitamin D untuk Bikin Mood Lebih Stabil
Konsep Chrononutrition
Studi ini menganalisis data hampir 3.000 orang dewasa di Inggris berusia 42 hingga 94 tahun, dalam University of Manchester Longitudinal Study.
Peneliti menyoroti chrononutrition, yakni ilmu yang mempelajari pengaruh waktu makan terhadap metabolisme, tidur, dan kesehatan secara keseluruhan.
Dashti menjelaskan, orang dewasa lanjut usia, cenderung mengalami perubahan pola makan, termasuk sarapan dan makan malam yang lebih lambat. Hal ini berdampak pada berkurangnya jendela waktu makan harian, dan memicu risiko kesehatan tertentu.
Dampak Sarapan Terlambat
Hasil penelitian menunjukkan, peserta yang rutin sarapan terlambat, cenderung mengalami:
- Depresi dan kecemasan
- Kelelahan
- Gangguan kesehatan mulut
“Kebiasaan sarapan terlambat dapat menjadi indikator masalah kesehatan yang mendasarinya, sehingga bisa menjadi sinyal bagi dokter dan perawat untuk memantau penurunan kesehatan pada lansia,” jelas Dashti.
Selain itu, sarapan terlambat juga dikaitkan dengan peningkatan risiko kematian.
“Meski efeknya kecil, pola ini menunjukkan perubahan waktu makan dapat menjadi cerminan penuaan biologis atau penurunan kesehatan,” ujarnya.
Pandangan Ahli Gizi
Sementara itu, Ahli Gizi yang menanggapi studi ini, Monique Richard, MS, RDN, LDN, menegaskan, hasil penelitian sejalan dengan temuan klinis di lapangan.
Menurutnya, banyak lansia dengan depresi, kelelahan, atau keterbatasan fisik cenderung menunda sarapan. Padahal, kondisi itu justru memperburuk kondisi kesehatan mereka.
“Menunda sarapan membuat sulit memenuhi kebutuhan kalori, protein, dan serat harian. Pola ini biasanya berkaitan dengan kualitas tidur yang buruk, aktivitas fisik rendah, hingga peningkatan risiko penurunan fungsi kognitif,” kata Richard.
Baca juga: 25 Ide Menu Sarapan dan Jajanan Ini Bikin Restoran Kamu Banjir Cuan!
Waktu Makan yang Disarankan
Richard merekomendasikan pola makan teratur, untuk mendukung kesehatan jangka panjang, khususnya bagi lansia:
- Sarapan lebih awal: sekitar pukul 07.00–08.00, makan siang 12.00–13.00, dan makan malam 17.00–19.00.
- Asupan protein cukup: 25–30 gram protein saat sarapan untuk menjaga fungsi otot dan otak.
- Makanan ramah lansia: menyesuaikan tekstur makanan bagi yang mengalami kesulitan mengunyah, serta menggunakan bumbu alami untuk meningkatkan nafsu makan.
- Konsistensi: menjaga jadwal makan yang teratur dengan porsi seimbang.
Oleh karena itu, meski penelitian ini bersifat observasional dan belum membuktikan sebab-akibat langsung, temuan tersebut menegaskan pentingnya memperhatikan waktu makan, khususnya sarapan, dalam menjaga kesehatan dan memperlambat proses penuaan biologis.
Dengan pola makan lebih teratur, peluang untuk hidup sehat dan berkualitas di usia lanjut dapat meningkat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Medical News Today