Kamis, 16 OKTOBER 2025 • 17:00 WIB

Banyak Makan tapi Tetap Kurus? Ini Rahasia Medis di Baliknya!

Author

Ilustrasi makan banyak (Pexels/Adrienn)

INDOZONE.ID - Pernah nggak sih kamu lihat teman yang makannya banyak banget, suka jajan tiap hari, tapi tubuhnya tetap kurus seolah nggak punya lemak? Sementara kamu, yang merasa makan sedikit saja, timbangan langsung naik? Rasanya nggak adil, ya?

Tenang, ini bukan soal “nasib baik” atau “kurang olahraga”. Faktanya, ada alasan medis, genetik, dan gaya hidup yang menjelaskan kenapa tubuh setiap orang bisa bereaksi berbeda terhadap makanan. Yuk, kita bahas satu per satu.

1. Metabolisme & BMR (Basal Metabolic Rate): Biang Utama

Sebelum kamu makan atau beraktivitas, tubuhmu sudah bekerja membakar kalori untuk fungsi dasar seperti bernapas, menjaga detak jantung, dan mengatur suhu tubuh. Proses ini disebut BMR (Basal Metabolic Rate).

Orang dengan BMR tinggi membakar kalori lebih cepat bahkan saat istirahat. Itulah kenapa mereka bisa makan lebih banyak tanpa khawatir berat badan naik. Tapi BMR bukan satu-satunya faktor.

Menurut Mayo Clinic, berat badan juga dipengaruhi oleh genetika, hormon, pola makan, aktivitas fisik, kualitas tidur, hingga stres. Jadi meski metabolisme penting, gaya hidup tetap punya peran besar.

Baca juga: Apakah Makan Mi Instan Itu Buruk untuk Kesehatan? Yuk, Kita Kupas Tuntas!

2. Aktivitas Harian & NEAT: Lebih dari Sekadar Olahraga

Banyak yang mengira aktivitas fisik hanya soal olahraga, padahal ada NEAT (Non-Exercise Activity Thermogenesis) semua aktivitas ringan di luar olahraga, seperti jalan kaki, bersih-bersih, naik tangga, atau bahkan gerakan kecil tanpa sadar seperti menggoyangkan kaki.

Orang yang terlihat “asli kurus” biasanya punya tingkat NEAT tinggi. Mereka banyak bergerak tanpa sadar, sehingga membakar lebih banyak kalori dalam sehari.

3. Genetika & Jam Biologis: “Tubuhmu Sudah Diprogram”

Ilustrasi orang kurus makan. (unsplash/Mike Mayer)

Genetika sangat berpengaruh pada cara tubuh menyimpan dan membakar lemak. Beberapa orang punya “mesin tubuh” yang efisien, sementara yang lain lebih lambat.

Penelitian di Baylor College of Medicine menunjukkan bahwa interaksi gen dan pola makan bisa memengaruhi bagaimana tubuh memproses lemak. Ada pula teori “thrifty gene”, yang menjelaskan bahwa sebagian orang memiliki gen bawaan yang “irit energi” berguna di masa kelaparan, tapi kini justru bikin berat badan mudah naik.

4. Mikrobiota Usus & Penyerapan Nutrisi

Tahukah kamu bahwa bakteri baik di usus bisa memengaruhi berat badan? Yup, komposisi mikrobiota usus berperan besar dalam menentukan seberapa efisien tubuh menyerap kalori dari makanan.

Beberapa orang memiliki mikrobiota yang kurang efisien, sehingga sebagian kalori tidak terserap sempurna. Akibatnya, mereka bisa tetap kurus meski makan banyak.

5. Hormon & Regulasi Nafsu Makan

Dua hormon utama yang memengaruhi berat badan adalah leptin dan ghrelin.

  • Leptin memberi sinyal kenyang ke otak. Jika tubuh sensitif terhadap leptin, kamu akan cepat merasa puas setelah makan.
  • Tapi kalau resistensi leptin terjadi, kamu bisa terus merasa lapar.
  • Ghrelin kebalikannya, hormon yang memicu rasa lapar. Orang dengan kadar ghrelin tinggi cenderung lebih sering merasa lapar.

Selain itu, kelenjar tiroid juga berperan penting.

  • Hipertiroid = metabolisme cepat, berat badan susah naik.
  • Hipotiroid = metabolisme lambat, berat badan mudah naik.

6. Persepsi “Makan Banyak” vs Realita Kalori

Kadang, yang terlihat banyak belum tentu kalori tinggi. Misalnya, makan banyak sayur atau makanan rendah lemak. Sebaliknya, ngemil kecil-kecil tapi tinggi gula bisa diam-diam menambah kalori harian.

Penelitian Cornell University menemukan bahwa orang dengan berat badan berlebih sering kali lebih banyak ngemil dan lebih sedikit bergerak dibanding yang tetap kurus.

Baca juga: 7 Kebiasaan Pagi yang Bikin Cepat Kurus Menurut Ahli Gizi

7. Faktor Medis & Kesehatan

Beberapa kondisi medis juga bisa memengaruhi berat badan, seperti:

  • Hipertiroidisme - metabolisme terlalu cepat.
  • Resistensi insulin atau gangguan hormon.
  • Gangguan penyerapan (malabsorpsi).
  • Efek samping obat tertentu.
  • Stres kronis & kurang tidur, yang bisa mengacaukan hormon.

Kalau kamu merasa kondisi tubuhmu “nggak wajar”, sebaiknya konsultasikan ke dokter atau ahli gizi.

Jadi, kenapa ada orang tetap kurus meski banyak makan, dan ada juga yang mudah gemuk?
Karena jawabannya ada pada kombinasi metabolisme, aktivitas harian, genetik, mikrobiota usus, hormon, serta faktor kesehatan.

Intinya, setiap tubuh itu unik. Jangan terlalu keras pada diri sendiri hanya karena bentuk tubuhmu berbeda. Fokuslah pada gaya hidup sehat, karena keseimbangan jauh lebih penting daripada sekadar angka di timbangan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Mayoclinic, PubMed

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU