INDOZONE.ID - Respiratory Syncytial Virus atau RSV merupakan virus yang umumnya menyebabkan pilek. Namun, virus ini bisa berkembang jadi penyakit paru-paru seperti bronkiolitis dan pneumonia.
Virus ini berkontribusi sekitar 60-80% pada bronkiolitis dan 30% pneumonia pada bayi dan anak-anak di dunia.
Dalam upaya meningkatkan kesadaran bahaya RSV, khususnya pada bayi prematur yang punya sistem kekebalan tubuh dan paru-paru belum sempurna, AstraZeneca mengadakan sesi edukasi bertajuk “Kenali RSV, Selamatkan Bayi Berisiko Tinggi”.
Baca juga: 5 Zodiak Cowok yang Kurang Suka Bersosialisasi dan Lebih Nyaman Sendiri!
Risiko RSV pada Bayi Prematur
Setiap tahun, lebih dari 675.000 bayi lahir prematur di Indonesia, menempatkan Indonesia pada peringkat ke-5 di dunia dengan jumlah kelahiran prematur tertinggi.
Dokter Spesialis Anak Sub Spesialis Neonatologi, Prof. Dr. dr. Rinawati Rohsiswatmo, menyebut bahwa Bayi prematur memiliki risiko lebih tinggi karena paru-parunya belum berkembang sempurna.
Selain itu, bayi prematur juga belum sempat menerima transfer antibodi pelindung dari ibunya secara optimal selama masa kehamilan, sehingga sistem kekebalan tubuh mereka masih sangat lemah dan rentan terhadap berbagai infeksi.
Baca juga: 5 Sikap Sederhana yang Diam-diam Bikin Perempuan Tertarik saat Awal PDKT
“Dibandingkan bayi cukup bulan, mereka memiliki kemungkinan dua hingga tiga kali lebih besar untuk dirawat di rumah sakit akibat infeksi RSV pada tahun pertama kehidupannya. Infeksi ini seringkali berkembang dengan cepat dan dapat memerlukan perawatan yang lebih lama serta intensif,” ujar dr. Rina di Jakarta.
Gejala Terkena RSV
Gejala awal RSV seringkali disalah artikan sebagai flu biasa, seperti pilek, bersin, dan batuk ringan. Namun, infeksi RSV bisa berkembang cepat menjadi gangguan pernapasan berat.
Baca juga: Rafflesia Hasseltii, Bunga Langka yang Ditemukan setelah 13 Tahun Pencarian
Selain itu, RSV ini juga meninggalkan dampak jangka panjang termasuk peningkatan risiko asma, wheezing (mengi) kronis, serta penurunan fungsi paru di kemudian hari.
RSV lebih sering menyerang bayi dan anak kecil dengan gejala batuk, demam ringan, wheezing (mengi), dan kesulitan bernapas.
Pada tahap awal, infeksi RSV biasanya menyerupai flu biasa dengan pilek (rhinorrhea), bersin, dan hidung tersumbat, tetapi pada bayi dengan risiko tinggi, termasuk bayi prematur, gejala dapat dengan cepat berkembang menjadi gangguan pernapasan serius.
Baca juga: 2 Juri Mundur dari Miss Universe 2025, Tuduh Penjurian Sudah Diatur
Harus Jadi Perhatian Utama
Dalam studi di Indonesia, RSV adalah satu dari dua virus yang paling sering ditemukan pada anak. Diperkirakan 1 dari 10 bayi di Indonesia meninggal karena infeksi saluran napas bawah akibat RSV.
Dokter Spesialis Anak Konsultan Respirologi Anak, Prof. dr Cissy Rachiana Sudjana Prawira, mengungkapkan bahwa RSV seringkali belum menjadi perhatian utama orang tua, padahal virus ini dapat berdampak signifikan pada kesehatan pernapasan anak.
“Karena itu, penting bagi masyarakat, terutama para orang tua dengan bayi berisiko tinggi seperti bayi prematur, untuk meningkatkan kesadaran dan mengambil langkah pencegahan sedini mungkin agar bayi tetap terlindungi,” jelas dr. Cissy.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Wawancara