INDOZONE.ID - Banyak orang mungkin pernah mendengar istilah hematokrit saat melakukan pemeriksaan darah, tetapi tidak banyak yang tahu apa artinya.
Hematokrit adalah persentase sel darah merah dalam total darah yang berperan penting dalam mengangkut oksigen ke seluruh tubuh.
Hasilnya bisa memberikan petunjuk tentang adanya anemia, dehidrasi, atau gangguan darah lainnya.
Memahami hematokrit, nilai normalnya, serta faktor yang memengaruhi naik atau turunnya kadar hematokrit sangat penting agar tubuh tetap sehat dan penyakit dapat dicegah lebih awal.
Pengertian Hematokrit
Hematokrit adalah persentase volume sel darah merah dibandingkan dengan total volume darah dalam tubuh. Sel darah merah berperan penting membawa oksigen dari paru-paru ke seluruh tubuh dan membawa karbon dioksida kembali ke paru-paru untuk dikeluarkan.
Jika hasil tes menunjukkan angka 45 persen, itu berarti terdapat 45 mililiter sel darah merah dalam 100 mililiter darah.
Karena sel darah merah bertugas membawa oksigen ke seluruh tubuh, kadar hematokrit menjadi indikator kunci apakah tubuh kamu mendapatkan pasokan oksigen yang cukup atau tidak.
Baca juga: Golongan Darah yang Lebih Berisiko Terserang Stroke Dini
Nilai Normal Hematokrit
Kadar hematokrit normal bervariasi tergantung pada usia, jenis kelamin, dan kondisi fisik seseorang. Secara umum, berikut adalah rentang nilai normalnya:
- Laki-laki dewasa: 40 persen – 52 persen
- Perempuan dewasa: 36 persen – 48 persen
- Anak-anak: 35 persen – 45 persen
- Bayi baru lahir: 44 persen – 64 persen
Penyebab Hematokrit Tinggi (Polisitemia)
Kadar hematokrit yang terlalu tinggi membuat darah menjadi kental dan sulit mengalir. Penyebabnya antara lain:
1. Dehidrasi
Penyebab paling umum. Saat tubuh kekurangan cairan, volume plasma darah berkurang sehingga konsentrasi sel darah merah terlihat meningkat.
2. Penyakit Paru atau Jantung
Tubuh memproduksi lebih banyak sel darah merah untuk mengompensasi rendahnya kadar oksigen dalam darah.
3. Tinggal di Daerah Tinggi
Orang yang tinggal di pegunungan secara alami memiliki hematokrit lebih tinggi agar bisa menyerap oksigen yang tipis di ketinggian.
4. Polisitemia Vera
Kelainan langka pada sumsum tulang yang memproduksi sel darah merah secara berlebihan dan tidak terkendali.
Penyebab Hematokrit Turun
Hematokrit yang rendah juga bisa menjadi tanda adanya masalah kesehatan. Beberapa penyebab umum meliputi:
1. Anemia
Kurangnya zat besi, vitamin B12, atau folat yang menghambat produksi sel darah merah di sumsum tulang.
2. Kehilangan Darah
Kehilangan darah secara signifikan membuat jumlah sel darah merah menurun drastis. Hal ini dapat terjadi akibat cedera, kecelakaan, atau operasi besar.
3. Gangguan Sumsum Tulang
Sumsum tulang adalah tempat sel darah merah diproduksi. Jika sumsum tulang terganggu, produksi sel darah merah akan menurun, sehingga hematokrit ikut turun.
4. Penyakit Kronis atau Inflamasi
Beberapa penyakit kronis seperti penyakit ginjal, gangguan hati, atau penyakit autoimun dapat menurunkan produksi sel darah merah.
5. Kehamilan
Selama kehamilan, volume plasma darah meningkat lebih cepat dibanding produksi sel darah merah. Hal ini menyebabkan hematokrit terlihat lebih rendah, kondisi yang disebut “anemia fisiologis kehamilan”.
6. Kondisi Nutrisi yang Buruk
Kurangnya asupan nutrisi penting dapat menurunkan produksi sel darah merah. Nutrisi yang dibutuhkan meliputi zat besi, vitamin B12, folat, dan protein.
Baca juga: 7 Penyakit Menular yang hingga Kini Belum Ada Obatnya, Apa Saja?
Gejala Hematokrit Rendah dan Tinggi
1. Gejala Hematokrit Rendah (Anemia)
Hematokrit rendah berarti jumlah sel darah merah sedikit, sehingga darah kekurangan oksigen. Beberapa gejala yang bisa muncul:
- Mudah lelah atau cepat capek meski melakukan aktivitas ringan.
- Pusing atau kepala terasa ringan, terutama saat bangun tiba-tiba.
- Kulit pucat terutama wajah, bibir, dan telapak tangan.
- Sesak napas saat melakukan aktivitas fisik.
- Detak jantung cepat atau berdebar.
- Sulit berkonsentrasi karena otak kekurangan oksigen.
2. Gejala Hematokrit Tinggi (Polisitemia)
Hematokrit tinggi berarti jumlah sel darah merah terlalu banyak, membuat darah lebih kental. Gejala yang mungkin muncul:
- Sakit kepala atau migrain yang sering muncul.
- Pusing atau pandangan kabur karena aliran darah tidak lancar.
- Kulit kemerahan, terutama di wajah atau tangan.
- Rasa lelah atau mudah lelah meski tidak banyak bergerak.
- Sesak napas karena darah kental membuat jantung bekerja lebih keras.
- Tekanan darah meningkat dan risiko pembekuan darah lebih tinggi.
Cara Menjaga Hematokrit Tetap Normal
Menjaga kadar hematokrit tetap normal, berikut ini langkah-langkah yang bisa dilakukan:
1. Cukup Minum Air
Tubuh yang terhidrasi dengan baik membantu menjaga volume plasma darah tetap normal. Pastikan minum minimal 8 gelas air per hari atau lebih jika aktif bergerak atau berada di lingkungan panas.
2. Konsumsi Makanan Bergizi
Makanan yang kaya zat besi, vitamin B12, folat, dan protein membantu tubuh memproduksi sel darah merah yang sehat. Contoh makanan yang baik:
- Daging merah, hati ayam, dan ikan untuk zat besi.
- Telur, susu, dan produk olahan susu untuk vitamin B12.
- Sayuran hijau, kacang-kacangan, dan biji-bijian untuk folat.
3. Hindari Pola Hidup Tidak Sehat
Merokok, konsumsi alkohol berlebihan, atau pola makan yang buruk dapat memengaruhi kesehatan darah dan kadar hematokrit.
4. Olahraga Teratur
Aktivitas fisik membantu meningkatkan sirkulasi darah, memperkuat jantung, dan meningkatkan metabolisme tubuh.
Olahraga ringan hingga sedang seperti jalan cepat, berenang, atau bersepeda secara rutin.
5. Cukup Istirahat dan Kelola Stres
Tidur cukup dan manajemen stres yang baik membantu tubuh memproduksi sel darah merah secara optimal. Stres atau kurang tidur dapat mengganggu metabolisme tubuh, termasuk produksi sel darah merah.
Baca juga: Kelebihan Sel Darah Putih: Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasinya
Dengan pola hidup sehat, pemeriksaan rutin, dan perawatan medis jika diperlukan, kadar hematokrit dapat dijaga tetap normal sehingga tubuh tetap sehat dan berfungsi optimal.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Healthline