INDOZONE.ID - Sekarang ini, istilah OCD sering banget dipakai sembarangan. Sedikit-sedikit dibilang OCD cuma karena suka rapi atau perfeksionis. Padahal kenyataannya, OCD itu bukan sekadar soal kerapian. OCD adalah gangguan mental yang nyata dan bisa sangat mengganggu aktivitas sehari-hari kalau nggak ditangani dengan tepat.
Lewat artikel ini, kamu akan diajak buat memahami apa itu OCD sebenarnya, kenapa OCD sering keliru dianggap cuma perfeksionisme, dan apa bedanya OCD dengan kebiasaan sekadar suka rapi. Dijelasin dengan cara yang ringan, biar gampang dipahami siapa pun.
Apa Itu OCD? Bukan Sekadar Suka Rapi
OCD adalah singkatan dari Obsessive-Compulsive Disorder, atau dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai gangguan obsesif-kompulsif. Ini adalah salah satu gangguan mental yang ditandai dengan munculnya obsesi dan/atau kompulsi.
Obsesi itu berupa pikiran atau dorongan yang muncul terus-menerus, nggak diinginkan, dan bikin nggak nyaman. Contohnya, rasa takut berlebihan sama kuman sampai kepikiran terus, atau perasaan gelisah karena merasa ada yang “kurang pas” sebelum keluar rumah. Nah, kompulsi adalah tindakan yang dilakukan berulang-ulang buat ngurangin rasa cemas tadi, misalnya cuci tangan berkali-kali, bolak-balik ngecek pintu, atau menghitung sesuatu tanpa sadar.
Yang perlu dipahami, obsesi dan kompulsi dalam OCD itu bukan kebiasaan yang menyenangkan atau sekadar iseng. Justru sebaliknya, hal-hal ini bisa memicu kecemasan yang berat dan sulit dikendalikan. Bahkan, banyak orang dengan OCD sebenarnya sadar kalau pikiran atau tindakannya terasa berlebihan, tapi tetap merasa nggak mampu menghentikannya.
Baca juga: Ellen DeGeneres Akui Idap Gangguan Mental OCD dan Osteoporosis
Kenapa Banyak Orang Salah Kaprah Mengira OCD Itu Perfeksionisme?
Sering banget kita dengar orang bilang, “gue OCD banget,” cuma karena dia suka rapi, teliti, atau ingin semuanya sempurna. Padahal, menurut psikologi dan psikiatri, itu bukan definisi OCD. Kebanyakan orang ini sebenarnya cuma punya standar tinggi atau senang kerapian, dan kebiasaan itu nggak sampai mengganggu kehidupan sehari-hari secara serius.
Perbedaan utama antara perfeksionisme dan OCD ada di sini:
- Perfeksionisme adalah sifat atau kecenderungan seseorang untuk ingin hasil yang rapi, teratur, dan sesuai standar.
- OCD adalah gangguan kecemasan yang serius, di mana seseorang mengalami obsesi dan kompulsi yang menyita waktu, bikin stres, dan melelahkan secara emosional.
Jadi, meskipun orang perfeksionis kadang terlihat punya kebiasaan yang mirip dengan OCD, bukan berarti dia pasti OCD. Pada OCD, perilaku dilakukan karena dorongan cemas yang kuat dan sulit dikontrol, sedangkan perfeksionisme biasanya muncul dari keinginan untuk melakukan sesuatu dengan baik.
Gejala Utama OCD yang Perlu Kamu Tahu
OCD bisa muncul dalam berbagai bentuk tergantung pada obsesi atau kompulsinya. Beberapa gejala umum OCD yang sering terjadi antara lain:
- Obsesi terhadap kontaminasi atau kotoran, yang bisa membuat seseorang terus mencuci tangan berulang kali tanpa henti.
- Kebutuhan mengecek berulang kali, misalnya memastikan sudah mematikan kompor, mengunci pintu, atau mematikan lampu.
- Kebutuhan pada keteraturan atau simetri yang ekstrem, yang membuat seseorang merasa tidak tenang jika sesuatu tidak “pas” atau urut.
- Pikiran mengganggu yang terus muncul, seperti takut akan hal buruk terjadi jika ritual tertentu tidak dilakukan.
- Perilaku mental atau ritual internal, seperti mengulang kata atau angka dalam pikiran untuk meredakan kecemasan.
Gejala-gejala ini biasanya memakan waktu banyak setiap hari, sehingga mengganggu aktivitas, hubungan sosial, prestasi sekolah atau kerja, dan kesejahteraan emosional.
OCD vs Perfeksionisme: Bukan Hal yang Sama
Banyak orang merasa OCD itu sama dengan orang yang perfeksionis. Padahal, berdasarkan penjelasan medis, OCD dan perfeksionisme berbeda secara mendasar. OCD adalah gangguan kecemasan yang serius, sedangkan perfeksionisme lebih ke ciri kepribadian atau perilaku.
Dalam OCD, orang sering merasa terpaksa melakukan kompulsi karena kecemasan yang sangat tinggi, dan mereka sering ingin menghentikan perilaku itu tetapi tidak bisa. Sedangkan orang yang perfeksionis biasanya merasa nyaman atau puas ketika standar tinggi mereka tercapai, dan tidak merasa cemas luar biasa jika tidak melakukan ritual tertentu.
Selain itu, OCD sering menimbulkan pikiran intrusif yang tidak rasional, seperti ketakutan bahwa jika ritual tidak dilakukan sesuatu yang buruk akan terjadi. Perfeksionisme tidak selalu disertai pikiran semacam itu.
Penyebab dan Faktor Risiko OCD
Sampai sekarang, para ahli belum bisa memastikan satu penyebab tunggal OCD. Namun, berdasarkan penelitian internasional, OCD diperkirakan muncul karena kombinasi faktor genetik, neurologis, psikologis, dan lingkungan. Beberapa faktor yang diduga berperan antara lain:
- Faktor genetik atau riwayat keluarga dengan OCD atau gangguan kecemasan lain.
- Perbedaan aktivitas atau struktur otak di area seperti korteks orbitofrontal dan basal ganglia yang berhubungan dengan obsesi dan kompulsi.
- Kejadian stres berat atau pengalaman trauma, yang bisa memicu kecemasan berlebihan dan pikiran intrusif.
Interaksi antara faktor biologis dan lingkungan yang membuat otak mengalami respons kecemasan yang tidak normal.
Walaupun penyebabnya kompleks dan tidak seluruhnya dipahami, yang pasti adalah OCD bukan sekadar tren atau istilah gaul di media sosial, melainkan gangguan mental yang sering memerlukan bantuan profesional.
Baca juga: Mengenal Hoarding Disorder OCD dan Gejalanya
Dampak OCD Jika Tidak Ditangani
Kalau OCD tidak ditangani, dampaknya bisa cukup serius. Banyak orang yang mengalami gangguan ini mengalami:
- Gangguan fungsi sosial dan kerja, karena ritual atau kecemasan mengambil banyak waktu.
- Kecemasan kronis atau depresi sebagai akibat dari obsesi dan kompulsi yang terus-menerus.
- Masalah hubungan interpersonal, karena teman atau pasangan sering tidak memahami mengapa perilaku itu terjadi.
Oleh sebab itu, penting banget buat mengenali gejala OCD sesegera mungkin dan mencari bantuan profesional, seperti psikolog, psikiater, atau terapis yang paham cara mengatasi OCD. Banyak terapi efektif, termasuk terapi perilaku kognitif dan terapi paparan, untuk membantu meredakan gejala.
OCD atau Obsessive-Compulsive Disorder adalah gangguan mental nyata yang melibatkan obsesi dan kompulsi, bukan sekadar sifat perfeksionis atau kecenderungan untuk rapi. Gejalanya bisa sangat mengganggu kehidupan sehari-hari dan sering disalahpahami karena beberapa perilakunya terlihat mirip dengan perfeksionisme.
Kalau kamu atau orang sekitar merasa gejalanya lebih dari sekadar suka teratur, jangan ragu buat ngobrol ke profesional kesehatan mental. OCD bukan sesuatu yang harus ditanggung sendiri, dan banyak orang bisa mendapat bantuan serta perbaikan kualitas hidup dengan penanganan yang tepat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Msdmanuals.com, Clevelandclinic.org