INDOZONE.ID - Dampak dari penyakit jantung bawaan pada anak sangat berbahaya. Sayangnya, belum banyak orang tua yang aware dan butuh edukasi untuk skrining.
Ketua Pokja Kardiologi Pediatrik dan Penyakit Jantung Bawaan PERKI, Dr. Oktavia Lilysari, SpJP(K), FIHA, mengungkapkan, selama ini Indonesia belum memiliki gambaran utuh mengenai prevalensi penyakit jantung bawaan pada anak, karena keterbatasan data nasional.
Padahal penyakit ini merupakan suatu masalah yang besar di dunia dan Indonesia.
Baca juga: Panduan Vaksin HPV, Usia yang Dianjurkan dan Jumlah Dosisnya
“Prevalensinya 9-10 per 1000 kelahiran hidup, dari 100 bayi lahir ada 1 yang kena penyakit jantung bawaan. Dan masalah di Indonesia itu 60,8 persen terlambat didiagnosis,” ujarnya dalam acara Talkshow dan Skrining Penyakit Jantung Bawaan PERKI dan GE HealthCare di SDN Makassar 03, Jakarta, Kamis 12 Februari 2025.
Penyakit jantung bawaan telah diidentifikasi sebagai salah satu penyebab kematian yang paling sering ditemukan pada satu tahun pertama kehidupan.
Sayangnya, penyebab penyakit jantung bawaan diketahui secara pasti.
Baca juga: 5 Kebiasaan Ini Bisa Melindungi Diri dari Gagal Jantung, Apa Saja?
“Ada beberapa faktor dari ibu, lingkungan dan keluarga. Kalau dari ibu yang menderita diabetes, automiun, infeksi toksoplasma, rubella saat hamil. Ini semua bisa berisiko mengidap penyakit jantung bawaan,” ungkapnya.
Disebutkan dr Vivi lagi, penyebab lainnya karena kebiasaan ibu merokok, konsumsi miras, stres tinggi dan ada masalah lain saat hamil atau ibu minum obat tanpa pengetahuan dari dokter yang berdampak buruk.
“Ditambah faktor genetik misal ada penyakit jantung bawaan maka risiko pada anak selanjutnya akan menjadi besar, kalau anak penyakit jantung dan gede anaknya lagi kena penyakit dan juga sibling
Kelainan kromoson, faktor lingkungan di daerah dataran tinggi dan polusi,” tambahnya.
Baca juga: 7 Buah Penurun Tensi (Tekanan Darah Tinggi) yang Gampang Dicari, Cocok Buat Buah Tangan Pas Jenguk!
Gejala Penyakit Jantung Bawaan
Disebutkan dr Vivi, gejalanya sedikit berbeda antara bayi, anak dan dewasa. Di Indonesia, variasi kasus penyakit jantung bawaan cukup besar.
“Gejalanya biru, bisa di sekitar mulut, lidah saat terbuka dan anaknya kalau agak besar biru disebabkan karena hipoksia atau kekurangan oksigen dan kukunya bulat. Kalau anak masih kecil, anak itu tambah lama panas, rewel berat, biru dan kejang. Kalau anak yang sudah bisa jalan, pas lagi main tiba-tiba jongkok,” paparnya.
Penyakit jantung bawaan juga bisa mengakibatkan aliran darah ke paru-paru banjir dan efeknya ke arah jantung.
Anak dengan penyakit jantung bawaan akan mengalami sesak, napas cepat, hidungnya kembang kempis.
Baca juga: Nyeri Otot Bokong Jangan Diabaikan! Kenali Penyebab, Gejala dan Cara Mengatasinya
“Kalau pada bayi lebih nyaman digendong daripada ditidurkan. Kemudian pada bayi gangguan minum, kalau biasanya nyusu lancar tapi tiba-tiba putus-putus dan tersedak,” kata sang dokter.
Seberapa Penting Skrining Penyakit Jantung Bawaan?
Direktur Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan RI, Dr. Siti Nadia Tarmidzi, M.Epid, menyampaikan, penyakit jantung bawaan telah diidentifikasi sebagai salah satu penyebab kematian yang paling sering ditemukan pada satu tahun pertama kehidupan.
Betapa pentingnya skrining penyakit jantung bawaan untuk bayi dan anak usia sekolah.
Baca juga: Daddy Issues Itu Apa, Sih? Ini Penyebab dan Dampaknya ke Hubungan yang Jarang Disadari
“Skrining penyakit jantung bawaan sejak tahun 2025 merupakan salah satu skrining pada Cek Kesehatan Gratis (CKG). Kegiatan deteksi dini penyakit jantung bawaan pada anak sekolah merupakan salah satu upaya edukasi dan meningkatkan kesadaran masyaraka dan dapat memperoleh penanganan yang tepat sedini mungkin,” ujar Nadia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan