INDOZONE.ID - Sebagian besar anak pasti sulit menolak ketika disuguhkan fried chicken atau ayam goreng cepat saji. Ternyata, di balik kegemaran tersebut ada penjelasan dari sisi psikologi anak.
Tak sedikit orang tua yang merasa senang melihat si kecil makan dengan lahap saat menikmati ayam goreng favoritnya. Hal ini bukan tanpa alasan.
Menurut Psikolog Tumbuh Kembang Anak, Nisfie Hoesein, ketertarikan anak terhadap ayam goreng cepat saji sering kali berkaitan dengan kesan pertama yang mereka rasakan saat mencoba makanan tersebut.
Ketika anak mendapatkan pengalaman baru yang menyenangkan, hal itu akan tersimpan dalam ingatan mereka sebagai sebuah asosiasi positif.
“Mereka berpikir, oh karena ini enak, seru, asyik, tampilannya menarik, dan ada namanya. Jadi ketika nanti dia ingin sesuatu, dia sudah tahu, aku maunya ayam,” ujar Nisfie dalam acara Press Conference 35 Tahun Rayakan Kebersamaan McDonald’s Indonesia Hadirkan SADORA dan Menu Ayam Gulai di Jakarta, baru-baru ini.
Hal ini juga menjelaskan mengapa anak terkadang kurang tertarik ketika diminta mencoba olahan ayam lain seperti ayam bakar, ayam kecap, atau ayam bumbu Bali. Padahal rasanya tidak kalah lezat.
Karena pengalaman pertama mereka dengan fried chicken terasa menyenangkan, makanan tersebut sering kali menjadi pilihan yang paling diingat.
Bagi sebagian orang tua yang sering memutar otak agar anak makan dengan lahap, fried chicken pun kerap menjadi solusi. Selain rasanya disukai anak, teksturnya renyah, tampilannya menarik, dan mudah dikenali oleh si kecil.
Menariknya, ketertarikan anak terhadap makanan juga berkaitan dengan emosi dan kemampuan mereka memahami perasaan.
Menurut Nisfie, banyak anak sebenarnya belum mampu mengungkapkan perasaan yang sedang dialami.
“Kadang-kadang kita tidak paham apakah anak sedang sedih, stres, atau tertekan. Kenapa? Karena dia tidak mengatakannya,” jelasnya.
Hal itu terjadi karena anak belum mengenali nama dari perasaan yang mereka rasakan. Oleh karena itu, orang tua perlu membantu anak memahami emosi dengan memberikan penjelasan sederhana.
“Ketika anak diajarkan bahwa segala sesuatu punya nama, termasuk rasa dan perasaan, kemampuan komunikasinya akan berkembang,” tambahnya.
Bahkan, dari hal sederhana seperti makanan kesukaan anak, orang tua bisa mulai mengenalkan berbagai konsep emosi.
Misalnya ketika anak terlihat murung, orang tua dapat membantu dengan mengatakan, “Sepertinya kakak sedang sedih ya.”
Saat anak menyadari perasaan tersebut dan mampu menyebutkannya, mereka akan merasa lebih lega.
Ke depannya, ketika mengalami perasaan yang sama, anak akan lebih mudah mengungkapkan, misalnya dengan mengatakan, “Mama, aku lagi sedih.”
Momen makan bersama keluarga sendiri sering menjadi salah satu cara sederhana bagi orang tua untuk membangun kedekatan dengan anak. Selain menghadirkan suasana hangat, waktu makan juga bisa menjadi kesempatan untuk berbincang santai sekaligus mengenalkan berbagai rasa baru kepada si kecil.
Apalagi saat bulan Ramadan, ketika momen berbuka puasa sering dimanfaatkan keluarga untuk menikmati hidangan bersama.
Menjawab momen kebersamaan tersebut, selama bulan Ramadan Chef Purwanto dari McDonald’s Indonesia menghadirkan kreasi menu khas Nusantara yang dapat dinikmati bersama keluarga, yaitu ayam goreng renyah dengan siraman bumbu gulai atau Ayam Gulai.
Menu ini terinspirasi dari kekayaan rempah khas Indonesia yang dikenal memiliki rasa hangat dan menenangkan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan