Selasa, 17 MARET 2026 • 14:08 WIB

Jangan Takut Makan Enak, Ini Manfaatnya bagi Tubuh

Author

salah satu makanan yang bergizi (freepik)

INDOZONE.ID - Hampir setiap orang memiliki jawaban ketika ditanya, “Apa makanan favoritmu?” Hal ini bukan tanpa alasan. Secara alami, manusia memang dirancang untuk merasakan kenikmatan dari makanan. Bahkan, bagi sebagian orang, aktivitas makan menjadi salah satu sumber kebahagiaan terbesar dalam hidup.

Lebih dari sekadar mengenyangkan, menikmati makanan juga membawa berbagai manfaat bagi kesehatan. Sensasi menikmati setiap suapan dapat membantu proses pencernaan, memperbaiki hubungan seseorang dengan makanan, hingga mendukung pemulihan dari pola makan yang tidak sehat. Dalam konteks ini, kenikmatan makan kerap diibaratkan sebagai “vitamin P” (pleasure), yang tak kalah penting dari kandungan gizi dalam makanan itu sendiri.

Psikologi di Balik Kenikmatan Makan

Selama bertahun-tahun, para peneliti telah mengkaji alasan ilmiah di balik kenikmatan saat makan. Hasilnya menunjukkan bahwa rasa senang tersebut tidak hanya terjadi di lidah, tetapi juga melibatkan kerja otak.

Secara fisiologis, kenikmatan saat makan memicu pelepasan dopamin di otak. Hormon ini sering disebut sebagai “hormon kebahagiaan” karena berperan dalam mengaktifkan sistem penghargaan (reward system), yang memunculkan perasaan senang, tenang, termotivasi, dan fokus.

Dalam kondisi normal, mekanisme ini memberikan manfaat nyata bagi tubuh. Saat seseorang menikmati makanan dalam keadaan rileks, sistem saraf akan masuk ke fase “rest and digest”. Pada fase ini, tubuh lebih optimal dalam mencerna dan menyerap nutrisi.

Sebaliknya, beberapa penelitian lama menunjukkan bahwa pada individu dengan obesitas, sensitivitas terhadap dopamin bisa terganggu. Kondisi ini dapat memicu keinginan makan berlebih demi mendapatkan tingkat kepuasan yang sama.

Baca juga: Jangan Asal Makan Mentah, Ini Sayuran yang Wajib Dimasak Dulu Sebelum Makan

Menikmati Makanan Bisa Bikin Pola Makan Lebih Sehat

Menariknya, kenikmatan dalam makan justru berkaitan dengan pola makan yang lebih baik. Sebuah tinjauan sistematis pada 2020 terhadap 119 studi menemukan bahwa lebih dari separuh penelitian menunjukkan hubungan positif antara kenikmatan makan dan kualitas diet.

Studi lain juga mengungkap bahwa orang yang benar-benar menikmati makanannya cenderung memiliki status gizi yang lebih baik. Hal ini sekaligus mematahkan anggapan bahwa makanan sehat identik dengan rasa hambar.

Faktanya, makanan bergizi tetap bisa lezat. Ketika seseorang menikmati makanan sehat, tingkat kepuasan meningkat, sehingga risiko makan berlebihan atau binge eating justru menurun.

Makanan sebagai Sumber Nutrisi Emosional

Ilustrasi makanan dalam bekal (freepik)

Makanan bukan hanya soal energi bagi tubuh, tetapi juga memiliki peran penting dalam aspek emosional. Pengalaman makan dapat mempererat hubungan sosial, menghadirkan kenyamanan, hingga memperkuat identitas budaya.

1. Mempererat hubungan sosial

Makan bersama keluarga atau teman sering kali meningkatkan rasa bahagia. Interaksi sosial yang terjadi saat makan menjadi bagian penting dari pengalaman tersebut.

2. Memberi kenyamanan fisik dan emosional

Semangkuk sup hangat saat sakit atau makanan favorit setelah hari yang melelahkan dapat memberikan efek menenangkan. Ini menunjukkan bahwa makanan juga berperan sebagai “comfort”.

3. Melawan tekanan budaya diet

Budaya diet sering kali melabeli makanan tertentu sebagai “buruk”. Padahal, memberi diri izin untuk menikmati berbagai jenis makanan justru membantu membangun hubungan yang lebih sehat dengan makanan.

4. Menghubungkan dengan budaya dan tradisi

Makanan tradisional bukan sekadar hidangan, melainkan bagian dari identitas. Menolak makanan budaya tertentu bisa berdampak pada rasa keterasingan, sementara menikmatinya dapat memperkuat rasa memiliki.

Baca juga: Kenapa Kamu Makan Saat Stres? Cara Mengenali dan Menghentikan Emotional Eating

Perbedaan Eating for Pleasure dan Emotional Eating

Meski terdengar mirip, makan untuk kenikmatan berbeda dengan emotional eating. Emotional eating terjadi ketika seseorang menggunakan makanan untuk mengatasi emosi, seperti stres, marah, atau sedih.

Sementara itu, makan untuk kenikmatan dilakukan secara sadar untuk menikmati rasa, tekstur, dan pengalaman makan itu sendiri.

Perbedaan lainnya terletak pada koneksi dengan makanan. Emotional eating sering kali dilakukan tanpa kesadaran penuh, sedangkan eating for pleasure justru melibatkan pengalaman yang lebih mindful.

Meski demikian, batas antara keduanya tidak selalu jelas dan bisa saling tumpang tindih. Salah satu cara membedakannya adalah dengan melihat perasaan setelah makan. Makan dengan penuh kesadaran biasanya tidak meninggalkan rasa bersalah.

Kenikmatan dan Nutrisi, Kombinasi Ideal

Menggabungkan kenikmatan dan nutrisi adalah kunci pola makan yang seimbang. Keduanya tidak perlu dipertentangkan, justru bisa saling melengkapi.

Untuk mulai menerapkannya, Anda bisa melakukan perubahan kecil, seperti menambahkan topping favorit pada makanan, menyajikan hidangan dengan lebih menarik, atau menikmati makanan tanpa distraksi.

Setelah makan, cobalah refleksi sederhana: seberapa besar kenikmatan yang Anda rasakan? Perasaan positif apa yang muncul?

Kesadaran ini dapat membantu Anda membuat pilihan makanan yang tidak hanya sehat, tetapi juga memuaskan secara emosional.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Healthline

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU