Minggu, 26 APRIL 2026 • 17:15 WIB

Viral! Tren Skincare Lemak Sapi dan Sperma Salmon, Aman atau Berbahaya?

Author

Ilustrasi perawatan kulit wajah (Pexels/Polina Tankilevitch)

INDOZONE.ID - Tren perawatan kulit berbahan dasar hewani, belakangan ini kembali mencuat. Mulai dari balm berbasis lemak sapi (beef tallow), hingga perawatan wajah menggunakan sperma salmon.

Produk-produk tersebut semakin populer di media sosial, spa kelas atas, hingga pasar lokal. 

Namun, di balik popularitasnya, para ahli mengingatkan, manfaatnya belum didukung bukti ilmiah yang kuat.

Dari Dapur ke Produk Kecantikan

Dikutip dari Hindustan Times, seorang peternak asal California, Amerika Serikat, Bryan Vander Dussen, awalnya bekerja di sektor peternakan sapi perah, sebelum beralih menjual daging sapi. 

Dalam setahun terakhir, ia bersama istrinya mulai memproduksi balm dari lemak organ sapi yang diolah menjadi produk perawatan kulit.

Baca juga: Dari Sperma Salmon hingga Kotoran Burung, Tren Skincare Aneh yang Ternyata Punya Landasan Sains

Tantangan utama yang mereka hadapi adalah, menciptakan formula yang tidak beraroma seperti daging. Untuk mengatasi hal tersebut, mereka menambahkan bahan seperti lavender dan jeruk, guna menetralisir bau khas lemak sapi.

Peristiwa ini mencerminkan tren yang lebih luas, yakni meningkatnya minat konsumen terhadap produk perawatan kulit berbahan alami, termasuk yang berasal dari hewan.

Popularitas Meningkat, Didukung Tren ‘Natural’

Ilustrasi perawatan kulit (Pexel/Cottonbro)

Produk seperti pelembap berbasis lemak sapi dan facial berbahan sperma salmon kini semakin diminati. Banyak yang mempromosikannya sebagai alternatif alami dibanding bahan sintetis.

Menurut profesor sosiologi dari Rutgers University, Norah MacKendrick, tren ini berkaitan dengan meningkatnya kekhawatiran masyarakat, terhadap dampak bahan kimia dalam produk perawatan pribadi.

Dalam beberapa tahun terakhir, ada gerakan yang mendorong konsumsi produk berbasis hewani. Hal ini tampaknya juga merambah ke dunia kosmetik,” ujar MacKendrick.

Faktor Sosial dan Tren Global

MacKendrick juga menyoroti peran ibu sebagai salah satu pendorong tren ini, terutama karena meningkatnya kesadaran terhadap keamanan produk untuk anak-anak.

Sementara itu, tren seperti penggunaan sperma salmon, juga dipengaruhi oleh persepsi bahwa, negara seperti Korea Selatan lebih inovatif dalam dunia skincare.

Namun, para ahli menegaskan, baik tren lama maupun baru seharusnya tetap didasarkan pada bukti ilmiah, bukan sekadar popularitas.

Industri Kecantikan dan Perubahan Arah

Seorang pengguna, Natalee Keenan, mengaku mencoba produk tallow karena mencari alternatif alami. Meski awalnya terasa berat di kulit, ia menemukan varian yang lebih ringan dengan aroma kelapa, dan merasa cukup puas dengan hasilnya.

Sementara itu, ahli kimia kosmetik independen, Perry Romanowski, menjelaskan, industri kecantikan sebenarnya sempat meninggalkan bahan berbasis hewan selama beberapa dekade. 

Hal ini dipicu oleh kekhawatiran terhadap uji coba pada hewan, serta risiko penyakit seperti ‘mad cow’.

Namun, tren ‘clean beauty’ dan meningkatnya minat terhadap produk alami membuat bahan-bahan tersebut kembali dilirik.

Sedangkan produsen dari California, Jamie Moody, mengatakan, mulai membuat produk berbasis tallow untuk mengurangi limbah. Ia juga melihat potensi pasar yang terus berkembang.

Baca juga: 7 Perawatan Wajah Aman untuk Ibu Hamil, Kulit Tetap Sehat Tanpa Khawatir

Klaim Manfaat vs Bukti Ilmiah

Beberapa spa bahkan menawarkan perawatan berbasis DNA sperma salmon, yang diklaim dapat memperbaiki kulit, meningkatkan hidrasi, dan mengurangi peradangan.

Namun, biaya perawatan ini relatif tinggi dan belum tentu terjangkau semua kalangan. Meski demikian, para ahli menekankan, pentingnya bersikap kritis. 

Dokter kulit asal New York, Dr. Angelo Landriscina, menyatakan, belum ada data medis yang kuat, yang membuktikan efektivitas bahan-bahan tersebut.

Hal senada disampaikan Dr. Heather Rogers dari Seattle. Ia menilai, lemak sapi bisa menjadi tengik dan sulit digunakan.

Sementara bahan tambahan untuk memperbaiki aroma, berpotensi menyebabkan iritasi.

Romanowski menambahkan, hanya beberapa bahan skincare yang benar-benar didukung bukti ilmiah kuat, seperti retinol (turunan vitamin A) dan niacinamide (vitamin B3). 

Sementara itu, banyak bahan lain hanya memberikan manfaat terbatas yang sulit dirasakan secara signifikan.

Antara Tren dan Kebutuhan Nyata

Industri kecantikan, seperti halnya industri fashion, terus menghadirkan inovasi untuk menarik perhatian konsumen. Namun, tidak semua inovasi membawa manfaat nyata.

Produk kosmetik sering kali hanya mengalami perubahan tampilan atau tren, bukan fungsi dasar,” ujar Romanowski.

Para ahli menyarankan, agar konsumen tetap berhati-hati, dan mengutamakan produk yang telah teruji secara klinis, demi kesehatan kulit jangka panjang.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Hindustan Times

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU