Minggu, 03 MEI 2026 • 17:15 WIB

Orang Tua Wajib Tahu! Bukan Cuma Orang Dewasa, Anak-anak Juga Bisa Burnout

Author

Ilustrasi anak-anak alami burnout. (Freepik)

INDOZONE.ID - Selama ini, Burnout umumnya sering dialami orang dewasa akibat kelelahan fisik, emosional, dan mental akibat tekanan berkepanjangan. 

Namun rupanya, kondisi tersebut ternyata tidak hanya dialami orang dewasa. Anak-anak pun kini mulai merasakan hal serupa, terutama akibat tekanan akademik.

Dikutip dari Hindustan Times, Burnout merupakan kondisi kelelahan mendalam, yang disertai perasaan jenuh dan kehilangan motivasi. 

Kondisi ini muncul, ketika tekanan yang dialami seseorang melebihi kemampuan mereka, untuk mengatasinya dalam jangka waktu lama.

Tekanan Akademik Picu Burnout pada Anak

Beban aktivitas anak kerap dianggap lebih ringan dibandingkan orang dewasa. Namun, rutinitas belajar, tuntutan nilai tinggi, serta persaingan untuk masuk sekolah atau perguruan tinggi favorit, bisa menjadi sumber stres yang sering terjadi.

Baca juga: Penyebab Anak Sering Jalan Jinjit dan Cara Tepat Mengatasinya

Lingkungan pendidikan kerap kali mendorong anak untuk terus berprestasi, tanpa memperhatikan keseimbangan emosional mereka. 

Jika tekanan ini tidak dikelola secara baik, dampaknya bisa serius terhadap kesehatan mental anak.

Global Head Mental Wellbeing di Roundglass Living, Prakriti Poddar, menjelaskan, tekanan akademik yang terus-menerus, dapat mendorong anak ke titik kelelahan emosional. 

Ketika prestasi menjadi satu-satunya fokus, anak berisiko kehilangan keseimbangan hidup, dan kesulitan mengelola stres secara sehat.

Burnout akademik telah menjadi semacam epidemi tersembunyi. Gejalanya bisa berbeda pada setiap anak. Mulai dari perfeksionisme berlebihan hingga kehilangan minat pada hal-hal yang sebelumnya disukai,” ujar Poddar.

Ilustrasi tekanan akademik bikin anak mengalami burnout. (Freepik)

Gejala Burnout pada Anak

Burnout pada anak dapat muncul dalam berbagai bentuk. Sebagian anak mungkin terlihat sangat perfeksionis, namun sebenarnya menyimpan kecemasan. 

Sementara yang lain, justru menarik diri dan kehilangan semangat dalam aktivitas sehari-hari.

Perubahan suasana hati, terutama pada remaja, sering dianggap sebagai hal yang wajar akibat perubahan hormon. Padahal, hal tersebut bisa menjadi tanda awal burnout yang perlu diperhatikan lebih serius.

Peran Orang Tua Sangat Krusial

Orang tua memiliki peran penting dalam mengenali tanda-tanda burnout sejak dini. Dengan perhatian dan pendekatan yang tepat, kondisi ini dapat dicegah sebelum berkembang menjadi masalah yang lebih serius.

Berikut, lima cara yang dapat dilakukan orang tua untuk membantu anak mengatasi burnout:

1. Kenali Karakter dan Kebutuhan Anak

Setiap anak memiliki kepribadian, sistem saraf, dan batas toleransi stres yang berbeda. Orang tua perlu memahami apa yang membuat anak bersemangat, dan apa yang justru menguras energinya. 

Burnout sering muncul ketika anak dipaksa menjauh, dari cara alami mereka berkembang.

2. Perhatikan Tanda-tanda Peringatan

Beberapa anak menjadi pendiam, sementara yang lain justru lebih mudah marah atau gelisah. Ada juga yang memaksakan diri lebih keras, atau sebaliknya kehilangan motivasi. 

Mengenali perubahan ini sejak awal, sangat penting untuk mencegah kondisi semakin memburuk.

Baca juga: Cara Menetapkan Batasan Diri agar Tidak Terjebak Burnout

3. Sesuaikan Dukungan dengan Kebutuhan Anak

Pendekatan yang efektif pada satu anak, belum tentu berhasil pada anak lainnya. Sebagian anak membutuhkan struktur yang jelas, sementara yang lain memerlukan ruang lebih fleksibel. 

Dukungan terbaik adalah yang disesuaikan dengan kebutuhan individu anak.

4. Bangun Kebiasaan Kesehatan Mental Bersama

Kegiatan seperti mindfulness, olahraga ringan, teknik pernapasan, atau menulis jurnal, dapat membantu anak mengelola stres.

Libatkan anak dalam memilih aktivitas yang mereka sukai, agar tidak terasa sebagai beban, melainkan sebagai bentuk dukungan.

5. Hargai Anak Lebih dari Sekadar Nilai Akademik

Anak yang merasa dihargai, bukan hanya dari prestasi akademik, akan memiliki ketahanan mental yang lebih kuat. Perasaan dipahami dan diterima apa adanya, menjadi faktor penting dalam mencegah burnout.

Oleh karena itu, orang tua perlu lebih peka terhadap perubahan perilaku anak, serta memberikan dukungan yang tepat.

Dengan pendekatan yang penuh empati dan pemahaman, anak dapat tumbuh dengan lebih seimbang. Tidak hanya fokus mengejar prestasi, tetapi juga sehat secara mental.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Hindustan Times

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU