INDOZONE.ID - Selama ini rokok sering dianggap sebagai “teman” saat stres. Banyak orang memilih merokok ketika pikiran sedang kacau, pekerjaan menumpuk, atau emosi tidak stabil.
Sensasi tenang sesaat setelah menghisap rokok membuat sebagian orang percaya bahwa nikotin bisa membantu meredakan tekanan mental.
Padahal, fakta dibaliknya justru cukup mengejutkan.
Beberapa penelitian menemukan bahwa orang yang tidak pernah merokok memiliki risiko depresi yang jauh lebih rendah dibanding mereka yang aktif merokok.
Baca juga: Perbedaan Rasa Mulas Kontraksi dan Ingin BAB, Jangan sampai Keliru
Bahkan, kebiasaan tidak merokok disebut mampu menurunkan risiko depresi sekitar 20 persen, dan efeknya bisa lebih besar jika dibarengi pola hidup sehat lainnya.
Temuan ini membuat banyak ahli mulai menyoroti hubungan erat antara kebiasaan merokok dan kondisi kesehatan mental seseorang.
Kenapa Rokok Bisa Berkaitan dengan Depresi?
Banyak orang mengira rokok membantu menenangkan pikiran. Memang, nikotin dapat memberikan efek rileks dalam waktu singkat karena mempengaruhi zat kimia di otak, termasuk dopamin yang berhubungan dengan rasa senang.
Namun efek itu sebenarnya hanya sementara! Ketika kadar nikotin dalam tubuh mulai menurun, tubuh bisa mengalami gejala seperti gelisah, cemas, mood berantakan, sulit fokus, hingga mudah marah.
Baca juga: Kenapa Perut Terasa Panas setelah Makan Pedas? Ini Cara Mengatasinya
Kondisi ini membuat seseorang ingin merokok lagi agar merasa “normal”.
Tanpa disadari, siklus tersebut bisa membuat kesehatan mental semakin terganggu dari waktu ke waktu.
Bahkan dalam beberapa kasus, orang yang sudah memiliki tingkat stres tinggi cenderung menjadi lebih bergantung pada rokok sebagai pelarian emosional.
Akibatnya, masalah mental yang awalnya ringan bisa berkembang menjadi lebih serius jika tidak ditangani dengan baik.
Baca juga: Apa Itu Zero Fluoroscopy yang Jadi Terobosan untuk Pasien Kelainan Jantung?
Dampaknya Bukan Cuma ke Paru-Paru
Saat membahas bahaya rokok, kebanyakan orang langsung memikirkan paru-paru atau penyakit jantung. Padahal, efeknya terhadap kesehatan mental juga tidak kalah penting.
Merokok dalam jangka panjang diketahui dapat mempengaruhi kualitas tidur, tingkat energi tubuh, dan keseimbangan hormon dalam otak.
Ketika tubuh sering kelelahan dan tidur tidak berkualitas, kondisi emosional seseorang biasanya ikut terdampak.
Tak heran jika banyak perokok berat lebih rentan mengalami stres berkepanjangan, kecemasan berlebih, perubahan mood, hingga gejala depresi.
Baca juga: Gejala Peradangan Amandel yang Sering Muncul, Perlu Diwaspadai sejak Awal
Selain itu, ketergantungan nikotin juga dapat membuat seseorang merasa sulit tenang tanpa rokok, sehingga kesehatan mental menjadi semakin bergantung pada kebiasaan tersebut.
Orang yang Tidak Merokok Cenderung Lebih Stabil Secara Mental
Sebaliknya, orang yang memilih tidak merokok umumnya memiliki kondisi tubuh yang lebih sehat secara keseluruhan.
Mereka cenderung memiliki kualitas tidur lebih baik, pernapasan lebih lancar, dan energi harian yang lebih stabil.
Hal-hal sederhana seperti tidur cukup dan tubuh yang lebih bugar ternyata punya pengaruh besar terhadap kondisi psikologis seseorang. Bukan berarti orang yang tidak merokok pasti terbebas dari depresi.
Baca juga: Berapa Batas Konsumsi Gula per Hari? Simak Aturannya
Namun, menghindari rokok bisa menjadi salah satu langkah penting untuk mengurangi faktor risiko yang dapat memicu gangguan mental.
Karena itu, banyak ahli kesehatan mulai menekankan bahwa menjaga kesehatan mental tidak hanya soal terapi atau self healing, tetapi juga tentang kebiasaan sehari-hari yang sering dianggap sepele.
Berhenti Merokok Memang Sulit, Tapi Dampaknya Besar
Bagi sebagian orang, berhenti merokok bukan hal mudah. Apalagi jika kebiasaan itu sudah berlangsung bertahun-tahun dan menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari.
Namun kabar baiknya, tubuh dan otak bisa mulai memperbaiki diri secara perlahan setelah seseorang berhenti merokok.
Baca juga: Tinggi Badan Anak Tak Bertambah? Waspadai Sindrom Turner
Dalam beberapa minggu saja, kualitas tidur dan pernapasan biasanya mulai membaik. Banyak mantan perokok juga mengaku merasa lebih tenang, tidak mudah cemas, dan lebih stabil secara emosional setelah berhasil lepas dari ketergantungan nikotin.
Prosesnya memang tidak instan, tetapi perubahan kecil bisa memberi dampak besar dalam jangka panjang.
Menjaga Kesehatan Mental Bisa Dimulai dari Hal Sederhana
Saat ini semakin banyak anak muda sadar pentingnya menjaga kesehatan mental. Namun seringkali fokus hanya tertuju pada liburan, healing, atau media sosial tentang self care.
Padahal, kesehatan mental juga dipengaruhi oleh kebiasaan sederhana setiap hari, termasuk pola tidur, makanan, aktivitas fisik, dan keputusan untuk tidak merokok.
Baca juga: Orang Indonesia Bisa Kena Katarak Lebih Cepat, Kok Bisa? Ini Kata Dokter
Jadi, jika selama ini rokok dianggap sebagai cara melepas stres, mungkin sudah waktunya melihat dari sudut pandang berbeda.
Bisa jadi, menjauhi rokok justru merupakan salah satu langkah paling penting untuk menjaga pikiran tetap sehat dan hidup terasa lebih seimbang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Psychologytoday.com