Selasa, 26 MEI 2026 • 19:40 WIB

Kasus Lupus di Indonesia Tinggi, AstraZeneca Dorong Deteksi Dini dan Akses Terapi yang Lebih Tepat

Author

kampanye bertajuk From Burden to Living Well dalam momentum Hari Lupus Sedunia. (Ist)

INDOZONE.ID - Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam penanganan Systemic Lupus Erythematosus (SLE) atau lupus. Penyakit autoimun kronis ini tercatat menyerang sekitar 1,4 juta pasien di Indonesia dengan tingkat mortalitas mencapai 8,1 persen, termasuk salah satu yang tertinggi di dunia.

Di balik tingginya angka tersebut, masih banyak pasien lupus yang terlambat mendapatkan diagnosis hingga baru diketahui setelah mengalami kerusakan organ.

Kondisi itu mendorong AstraZeneca Indonesia kembali menegaskan komitmennya dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terkait lupus melalui kampanye bertajuk From Burden to Living Well dalam momentum Hari Lupus Sedunia.

Presiden Direktur AstraZeneca Indonesia, Esra Erkomay, mengatakan peningkatan pemahaman masyarakat menjadi langkah penting agar gejala lupus dapat dikenali lebih cepat dan pasien memperoleh penanganan yang tepat sejak dini.

“Melalui kolaborasi lintas sektor, kami berharap dapat mendukung diagnosis yang lebih dini dan penanganan yang lebih optimal sehingga pasien lupus di Indonesia memiliki kualitas hidup yang lebih baik,” ujar Esra.

Lupus Disebut Penyakit Seribu Wajah

Systemic Lupus Erythematosus merupakan penyakit autoimun yang terjadi ketika sistem kekebalan tubuh menyerang jaringan sehat. Penyakit ini dapat memengaruhi berbagai organ seperti kulit, sendi, ginjal, hingga sistem saraf pusat.

Dokter spesialis penyakit dalam konsultan reumatologi, Sandra Sinthya Langow, menjelaskan lupus sering disebut sebagai “penyakit seribu wajah” karena gejalanya sangat beragam dan kerap menyerupai penyakit lain.

“Pasien bisa mengalami kelelahan ekstrem, nyeri sendi, ruam kulit, hingga gangguan organ vital. Gejalanya bisa muncul bertahap maupun mendadak sehingga diagnosis sering terlambat,” jelas dr. Sandra.

Baca juga: Mengenal Hari Lupus Sedunia 10 Mei: Sejarah dan Tujuan Peringatannya

Secara global, lupus diperkirakan memiliki angka insidensi sekitar 5,14 kasus per 100 ribu orang per tahun dengan sekitar 400 ribu kasus baru setiap tahunnya. Di Indonesia sendiri, angka kejadian lupus diperkirakan mencapai 7,4 kasus per 100 ribu penduduk per tahun.

Indonesia juga tercatat berada di peringkat keempat dunia untuk jumlah perempuan usia produktif yang hidup dengan lupus. Kondisi ini membuat lupus tidak hanya menjadi persoalan kesehatan, tetapi juga berdampak terhadap produktivitas, kondisi psikologis, hingga peran sosial pasien dalam keluarga dan masyarakat.

Keterlambatan Diagnosis Bisa Picu Kerusakan Organ

Salah satu tantangan terbesar dalam penanganan lupus adalah keterlambatan diagnosis. Banyak pasien baru terdeteksi ketika sudah mengalami komplikasi serius akibat peradangan kronis yang tidak tertangani.

Dalam praktik klinis, lupus diketahui memiliki pola penyakit yang fluktuatif dengan fase kambuh (flare) dan fase terkendali. Karena itu, pasien membutuhkan pemantauan jangka panjang dan terapi berkelanjutan.

“Keterlambatan diagnosis sering membuat pasien datang dalam kondisi yang lebih kompleks karena sudah terjadi kerusakan organ permanen,” kata dr. Sandra.

Data juga menunjukkan lupus berdampak besar terhadap kehidupan pasien. Sekitar 82 persen pasien mengalami penurunan produktivitas akibat kelelahan, hampir 44 persen mengalami gangguan aktivitas sekolah atau pekerjaan, sementara lebih dari 30 persen bahkan harus berhenti bekerja.

Baca juga: Waspada, Perempuan Berisiko Lebih Tinggi Terkena Penyakit Lupus

Selain dampak fisik, sekitar separuh pasien lupus juga mengalami tekanan psikologis akibat perjalanan penyakit yang panjang dan berulang.

Terapi Lupus Kini Lebih Terarah

Seiring berkembangnya pemahaman medis, pendekatan terapi lupus kini tidak hanya berfokus mengatasi gejala kambuh, tetapi juga menargetkan remisi dan pencegahan kerusakan organ jangka panjang.

Salah satu perkembangan terbaru adalah hadirnya terapi biologis Anifrolumab di Indonesia. Terapi ini bekerja dengan menargetkan jalur Interferon Tipe I yang berperan besar dalam proses inflamasi lupus.

Medical Director AstraZeneca Indonesia, Feddy, mengatakan terapi lupus saat ini bergerak menuju pendekatan yang lebih presisi dan berbasis mekanisme penyakit.

“Pemahaman terhadap jalur Interferon Tipe I membuka peluang hadirnya terapi yang lebih terarah untuk membantu mengontrol aktivitas penyakit secara konsisten serta melindungi organ dalam jangka panjang,” ujarnya.

Meski demikian, ia menekankan inovasi terapi tetap harus berjalan beriringan dengan edukasi masyarakat, peningkatan deteksi dini, serta pendampingan pasien secara berkelanjutan.

Edukasi dan Kolaborasi Jadi Kunci Penanganan Lupus

AstraZeneca menilai peningkatan kesadaran publik terhadap lupus menjadi langkah penting agar pasien tidak terlambat mendapatkan pertolongan medis.

Melalui kampanye From Burden to Living Well, perusahaan ingin mendorong pemahaman bahwa pasien lupus tetap memiliki peluang menjalani hidup yang produktif dan berkualitas dengan pengobatan yang tepat.

Selain pengembangan terapi berbasis sains, AstraZeneca juga memperkuat kolaborasi lintas sektor serta program edukasi kesehatan yang diklaim telah menjangkau lebih dari 87 ribu generasi muda di Indonesia.

“Kami ingin semakin banyak pasien lupus di Indonesia bergerak dari beban penyakit menuju kualitas hidup yang lebih baik,” tutup Esra Erkomay.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Press Release

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU