INDOZONE.ID - Kesadaran pasangan untuk cek kondisi kesuburan terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Namun di tengah ketidakpastian ekonomi, sebagian pasangan malah memilih menunda program hamil.
Spesialis Obgyn Subspesialis Fertilitas Klinik Bocah Indonesia dr. Steven Aristida, Sp.OG, Subsp.FER, FICS mengatakan, kepedulian pasangan di Indonesia terhadap kesuburan ini semakin bagus.
Dari hasil konsultasi, ternyata semakin banyak pasangan-pasangan yang datang dengan kondisi ketidaksuburan.
“Cuma ada tren juga, beberapa teman-teman yang mengatakan bahwa ternyata sekarang ini enggak terlalu banyak orang-orang yang melakukan program hamil. Karena mereka sedang juga agak-agak khawatir juga nih wait and see dengan lingkungannya. Karena memang sekarang lingkungan ekonominya itu kurang bagus,” ujar dr Steven di sela acara Anniversary Bocah Indonesia “7 Wonders” di Park Hyatt Jakarta, baru-baru ini.
Baca juga: Awas, Kebiasaan Makan Sushi Bisa Picu Hipertensi dan Kanker Lambung! Ini Penjelasannya!
Bila dibandingkan tahun 2024-2025, dr Steven menyebut lebih banyak pasien datang untuk memeriksakan kesuburan dan berlanjut memutuskan menjalani program hamil.
Hal ini menunjukkan bahwa pada tahun sebelumnya, minat pasangan untuk merencanakan kehamilan masih relatif tinggi. Ditambah lagi kondisi ekonomi masih lebih stabil pada saat itu.
Penyebab Pasangan Sulit Mendapatkan Keturunan
Dokter Steven mengungkapkan, banyak pasangan yang datang ke dokter kandungan dengan masalah terbesarnya terkait infertilitas.
Ada wanita yang mengalami PMOS, endometriosis, recurrent pregnancy loss atau keguguran yang berulang, juga faktor laki-laki yang bermasalah soal kualitas kesuburannya.
Baca juga: Wasabi, Pasta Hijau Kecil pada Sushi yang Punya Manfaat Luar Biasa
“Sampai saat ini male factor itu menempati sekitar 30% dari keseluruhan kasus infertilitas. Perempuannya tentu lebih tinggi faktornya dibandingkan laki-laki,” ucapnya.
Fakta lainnya, ungkap dr Steven, pasangan usia muda di bawah 35 tahun sudah banyak yang datang untuk cek kesuburan.
Kemudian mereka juga konsultasi soal program hamil demi mendapatkan keturunan.
“Orang-orang muda pun yang awalnya mungkin dulu gak ada penyakitnya, sekarang baru mau berani ngecek. Ketika dia ngecek, malah yang muda-muda itu ternyata juga ada masalah juga. Bukan hanya yang usia di atas 35 tahun atas saja,” paparnya.
Baca juga: Dianggap Diet-Friendly, Sushi Ternyata Bisa Mengandung Lebih Banyak Kalori dari Makanan Biasa
Sementara itu, Founder & CEO Bocah Indonesia, dr. Pandji Sadar, MBBS, AMPH, menilai bahwa saat ini perjalanan program hamil bukan sekadar soal tindakan medis.
Menurutnya, setiap pasangan memiliki tantangan dan cerita yang berbeda dalam perjuangan mendapatkan buah hati.
“Selama 7 tahun terakhir, kami percaya bahwa setiap pasangan memiliki perjalanan yang berbeda. Mereka membutuhkan layanan fertilitas yang bukan hanya advanced secara teknologi, tetapi juga personal dalam pendampingannya,” kata dr Pandji.
Karena itulah, ia selalu mengedukasi pasangan seputar masalah kesuburan, sekaligus membuka ruang bagi mereka agar bisa mendapatkan informasi yang lebih komprehensif mengenai program hamil.
Baca juga: Gari, Jahe “Pink” pada Sushi yang Kaya Manfaat Kesehatan
Mulai dari pemeriksaan kesuburan, inseminasi intrauterin (IUI), hingga teknologi bayi tabung atau IVF yang kini semakin berkembang di Indonesia.
Di samping itu, dr Pandji juga akan mengajak pasangan untuk memahami berbagai pilihan tindakan fertilitas yang tepat. Di sini, para pasangan pejuang garis dua juga bisa saling memotivasi dan berbagi cerita perjalanan serupa.
“Kita bisa saling bertemu dan saling berbagi cerita bersama sesama pejuang garis dua. Semoga kegiatan ini menjadi ruang harapan bagi para pejuang garis dua,” tutup dr Pandji.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan