Minggu, 28 JUNI 2026 • 11:15 WIB

Stres, Cemas, dan Sulit Tidur? Kebiasaan Doomscrolling Bisa Jadi Penyebabnya

Author

 Ilustrasi seseorang sedang doomscrolling. (Freepik)

INDOZONE.ID -  Di era digital seperti saat ini, banyak orang merasa seolah-olah tengah berada di bawah 'kucuran' kabar buruk yang tidak pernah berhenti mengalir. 

Informasi tentang perang, bencana alam, krisis ekonomi, konflik politik, hingga tindak kejahatan, dapat muncul di layar ponsel setiap saat.

Kondisi itu memicu fenomena yang dikenal sebagai doomscrolling. Itu merupakan kebiasaan terus-menerus menggulir, dan mengonsumsi berita negatif dalam jumlah berlebihan. 

Menurut laporan Digital News Report 2025 dari Reuters Institute, sebanyak 40 persen masyarakat di seluruh dunia mengaku setidaknya sesekali menghindari berita.

Di Kanada, angkanya bahkan mencapai 69 persen. Alasan yang paling sering dikemukakan adalah, karena berita buruk membuat mereka merasa sedih, kewalahan, dan tidak berdaya. 

Ali Jasemi, dosen psikologi di Wilfrid Laurier University, Kanada, dalam artikel yang diterbitkan oleh The Conversation dan dipublikasikan ulang oleh ScienceDaily pada 16 Juni 2026, menjelaskan, fenomena tersebut bukanlah tanda kemalasan atau kurangnya kepedulian terhadap isu sosial.

"Keletihan akibat berita bukanlah bentuk kelemahan, kemalasan, atau menurunnya minat masyarakat terhadap kehidupan sipil. Ini adalah respons yang dapat diprediksi dari otak manusia yang menghadapi lingkungan yang tidak pernah dirancang untuk dihadapinya," tulis Jasemi, dikutip dari Medical Daily

Baca juga: Kecanduan Scroll? Awas, Doomscrolling Bisa Menghancurkan Mental Anak Muda

Mengapa Otak Lebih Tertarik pada Kabar Buruk? 

Para peneliti menjelaskan, kecenderungan manusia untuk fokus pada informasi negatif berakar dari proses evolusi yang telah berlangsung selama ribuan tahun. 

Pada masa lalu, nenek moyang manusia harus terus waspada terhadap ancaman demi bertahan hidup.

Ilustrasi seseorang yang sedang baca artikel negatif. (Freepik)

Individu yang cepat memperhatikan bahaya, seperti predator atau ancaman dari kelompok lain, memiliki peluang lebih besar untuk selamat dibandingkan mereka yang mengabaikannya. 

Kondisi tersebut membentuk apa yang dikenal sebagai negativity bias, yaitu kecenderungan otak untuk memberi perhatian lebih besar terhadap informasi negatif dibandingkan informasi positif. 

Berbagai penelitian menunjukkan, manusia lebih cepat memperhatikan berita buruk, lebih mudah mengingatnya, dan memberikan bobot emosional yang lebih besar dibandingkan berita baik. 

Masalahnya, struktur dasar otak manusia tidak banyak berubah sejak masa itu. Yang berubah adalah, jumlah informasi yang harus diproses setiap hari. 

Jika dulu ancaman yang dihadapi bersifat lokal, kini seseorang dapat menerima informasi mengenai perang di satu negara, krisis ekonomi di wilayah lain, bencana alam di belahan dunia berbeda, hingga kasus kriminal yang terjadi ribuan kilometer, semuanya berlangsung dalam waktu beberapa jam. 

Algoritma dan Otak Memiliki 'Bahasa' yang Sama 

Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Human Behaviour, menganalisis lebih dari 105.000 judul berita yang dilihat hampir enam juta kali.

Hasilnya menunjukkan, setiap tambahan kata bernuansa negatif dalam sebuah judul berita, meningkatkan kemungkinan seseorang mengklik berita tersebut. 

Sebaliknya, penggunaan kata-kata positif justru menurunkan tingkat klik. 

Fenomena ini menunjukkan, algoritma media digital dan cara kerja otak manusia, memiliki kecenderungan yang serupa, yaitu memberikan prioritas pada informasi yang dianggap sebagai ancaman. 

Baca juga: Bukan Cuma Kulit atau Mental, Tapi Kesehatan Usus Juga Jadi Kunci Self-Care yang Sering Dilupakan!

Akibatnya, lingkungan media modern secara tidak langsung dirancang untuk terus memicu respons kewaspadaan yang dulu membantu manusia bertahan hidup. Tapi kini, berlangsung tanpa henti dalam skala global. 

Penelitian lain juga menemukan, tubuh manusia menunjukkan respons stres yang lebih kuat ketika menerima berita negatif dibandingkan berita positif. 

Bahkan, sebelum seseorang memutuskan apakah informasi tersebut relevan atau tidak, tubuh sudah lebih dahulu mengaktifkan sistem respons stres. 

Ketika Doomscrolling Menjadi Masalah Klinis 

Para peneliti kini menggunakan istilah Problematic News Consumption (PNC), atau konsumsi berita bermasalah untuk menggambarkan kondisi ketika seseorang menjadi terlalu terobsesi dengan berita, hingga mengganggu kesehatan mental dan aktivitas sehari-hari. 

PNC ditandai dengan ketidakmampuan untuk berhenti mengonsumsi berita, meskipun aktivitas tersebut justru menimbulkan tekanan emosional. 

Studi pada tahun 2022 menemukan, sekitar 17 persen orang dewasa di Amerika Serikat mengalami tingkat PNC yang tergolong berat. 

Dampaknya, tidak hanya dirasakan secara psikologis, tapi juga secara fisik. Sebanyak 61 persen individu dengan PNC berat, melaporkan sering merasa tidak sehat secara fisik, dibandingkan hanya 6 persen pada kelompok yang tidak mengalami kondisi tersebut. 

Gejala yang sering dikaitkan dengan doomscrolling antara lain: 

  • Sakit kepala
  • Ketegangan otot
  • Nyeri leher dan bahu
  • Gangguan tidur
  • Nafsu makan menurun
  • Tekanan darah meningkat
  • Kadar hormon stres kortisol yang terus tinggi  

Kelompok yang Lebih Rentan 

Dampak kelelahan akibat berita tidak dirasakan secara merata oleh semua orang. 

Kelompok minoritas, komunitas rasial tertentu, dan para imigran, cenderung mengalami beban psikologis yang lebih besar.

Sebab, berita yang mereka konsumsi sering kali berkaitan langsung dengan identitas, keluarga, atau negara asal mereka. 

Bagi sebagian orang, menjauh dari berita mungkin menjadi pilihan yang mudah. Namun bagi mereka yang keluarganya berada di wilayah konflik, komunitasnya menjadi sasaran diskriminasi, atau status hukumnya dipengaruhi kebijakan politik, menghindari berita bukanlah pilihan yang sederhana. 

Solusi Bukan Menghindari Berita Sepenuhnya 

Meski banyak orang memilih menjauh dari berita, para peneliti menilai, menghindari informasi sepenuhnya bukanlah solusi terbaik. 

Kehidupan demokratis membutuhkan masyarakat yang mendapatkan informasi akurat dan dapat dipercaya.

Oleh karena itu, yang perlu diubah bukanlah keberadaan berita, melainkan cara seseorang berinteraksi dengan berita tersebut. 

Para ahli merekomendasikan beberapa langkah berikut: 

1. Batasi Waktu Mengakses Berita 

Tentukan waktu khusus untuk membaca berita, misalnya satu atau dua kali sehari selama 20 hingga 30 menit. Hindari memeriksa berita atau media sosial secara terus-menerus sepanjang hari. 

2. Pilih Kualitas daripada Kuantitas 

Membaca satu artikel mendalam dari media yang kredibel lebih bermanfaat dibandingkan mengonsumsi puluhan unggahan singkat yang emosional di media sosial. 

Ilustrasi doomscrolling

3. Cari Tindakan Nyata yang Bisa Dilakukan 

Perasaan tidak berdaya merupakan salah satu pemicu utama stres akibat berita. 

Jika memungkinkan, lakukan tindakan kecil yang relevan dengan isu yang dibaca, seperti berdonasi, menjadi relawan, berdiskusi dengan komunitas, atau menyampaikan aspirasi kepada pembuat kebijakan. 

4. Kenali Konten Pemancing Emosi 

Para ahli mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai rage bait, yaitu konten yang sengaja dirancang untuk memancing kemarahan dan meningkatkan interaksi pengguna. 

Pertanyaan yang perlu diajukan bukanlah, 'Apakah ini membuat saya marah?' Melainkan, 'Apakah informasi ini membantu saya memahami situasi dan mengambil tindakan yang bermanfaat?' 

Peran Orang Tua dan Pendidik 

Anak-anak dan remaja juga tidak kebal terhadap kelelahan akibat berita. Bahkan, mereka tergolong kelompok yang rentan karena penggunaan media sosial biasanya meningkat pada masa remaja, bersamaan dengan perkembangan emosional yang masih berlangsung. 

Sejumlah penelitian menunjukkan, konsumsi berita melalui media sosial dalam jumlah tinggi, berkaitan dengan meningkatnya risiko kecemasan dan depresi pada remaja. 

Oleh karena itu, orang tua dan pendidik memiliki peran penting dalam membantu generasi muda membangun hubungan yang sehat dengan informasi. 

Keterampilan yang perlu diajarkan meliputi literasi media, kemampuan membedakan sumber informasi yang tepercaya dari konten provokatif, keterlibatan yang sadar dan terukur dalam mengonsumsi berita, serta kemampuan mengidentifikasi langkah nyata yang dapat dilakukan setelah menerima informasi. 

Para peneliti menegaskan, keterampilan tersebut dapat dipelajari dan diajarkan secara langsung, bukan dibiarkan berkembang melalui proses coba-coba yang berpotensi menimbulkan dampak psikologis negatif. 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Medical Daily

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU