INDOZONE.ID - Merencanakan kehamilan merupakan bagian penting dalam membangun keluarga yang sehat dan sejahtera. Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah, memilih alat kontrasepsi yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi masing-masing pasangan.
Oleh karena itu, sebelum menentukan pilihan, ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan agar metode kontrasepsi yang digunakan benar-benar aman dan nyaman.
Berikut, beberapa tips yang dapat menjadi panduan sebelum memilih alat kontrasepsi.
Baca juga: Manfaat Alat Kontrasepsi untuk Kesehatan, Cegah Kehamilan hingga Infeksi
5 Cara Memilih Alat Kontrasepsi yang Tepat
1. Tentukan Tujuan Penggunaan Kontrasepsi
Langkah pertama adalah menyamakan tujuan bersama pasangan. Apakah ingin menunda kehamilan untuk sementara, memberi jarak antar anak, atau memang sudah memutuskan tidak ingin memiliki keturunan lagi.
Bagi pasangan yang baru menikah dan hanya ingin menunda kehamilan, pilihan seperti pil KB, kondom, atau metode kalender bisa menjadi alternatif.
Pil KB, misalnya, umumnya memungkinkan kesuburan kembali setelah penggunaannya dihentikan. Sementara itu, kondom menjadi pilihan praktis karena mudah digunakan sekaligus membantu melindungi dari infeksi menular seksual.
Jika pasangan sudah yakin tidak ingin memiliki anak lagi, metode kontrasepsi permanen seperti sterilisasi dapat dipertimbangkan.
Baca juga: Waspada! Ada Jenis Pil KB yang Bisa Tingkatkan Risiko Serangan Asma pada Perempuan Muda
2. Sesuaikan dengan Usia dan Rencana Keluarga
Usia juga menjadi faktor penting dalam menentukan jenis kontrasepsi yang tepat.
Pasangan berusia produktif, sekitar 20 hingga 35 tahun, yang ingin menunda kehamilan atau mengatur jarak kelahiran dapat mempertimbangkan penggunaan spiral atau IUD. Metode ini juga banyak dipilih oleh ibu menyusui karena tidak memengaruhi produksi ASI.
Sementara itu, bagi pasangan berusia di atas 35 tahun yang telah merasa jumlah anak sudah cukup, kontrasepsi permanen seperti tubektomi pada perempuan atau vasektomi pada laki-laki bisa menjadi pilihan jangka panjang.
3. Pahami Kondisi Kesehatan Tubuh
Sebelum menggunakan alat kontrasepsi, penting untuk mengenali kondisi kesehatan masing-masing.
Secara umum, kontrasepsi dibagi menjadi dua kelompok, yaitu hormonal dan non-hormonal. Kontrasepsi hormonal meliputi pil KB, suntik KB, dan implan, sedangkan kontrasepsi non-hormonal mencakup IUD berbahan tembaga serta kondom.
Pada sebagian orang, kontrasepsi hormonal dapat memunculkan efek samping seperti perubahan siklus menstruasi, sakit kepala, atau peningkatan berat badan.
Sebaliknya, metode non-hormonal tidak memengaruhi keseimbangan hormon sehingga umumnya tidak menimbulkan efek tersebut.
Memahami kondisi tubuh, akan membantu menentukan metode yang paling nyaman digunakan.
4. Perhatikan Tingkat Efektivitasnya
Setiap alat kontrasepsi memiliki tingkat keberhasilan yang berbeda dalam mencegah kehamilan.
Karena itu, penting untuk mengetahui seberapa efektif metode yang akan dipilih. Apabila tujuan utama adalah mencegah kehamilan secara permanen, maka sterilisasi seperti tubektomi maupun vasektomi memiliki tingkat efektivitas yang sangat tinggi.
Sebaliknya, jika hanya ingin menunda kehamilan dalam jangka waktu tertentu, metode kontrasepsi sementara dapat menjadi pilihan sesuai kebutuhan.
5. Konsultasikan dengan Dokter Sebelum Memutuskan
Hal yang tidak kalah penting adalah berkonsultasi dengan dokter atau tenaga kesehatan sebelum menentukan metode kontrasepsi.
Konsultasi sangat dianjurkan terutama bagi perempuan yang memiliki riwayat penyakit tertentu, sedang menyusui, atau memiliki kondisi kesehatan khusus.
Dokter akan membantu mengevaluasi kondisi tubuh, serta memberikan rekomendasi alat kontrasepsi yang paling aman dan efektif sesuai kebutuhan.
Dengan pendampingan tenaga medis, risiko efek samping dapat diminimalkan dan penggunaan kontrasepsi menjadi lebih optimal.
Memilih alat kontrasepsi bukan hanya soal mencegah kehamilan, tetapi juga berkaitan dengan kesehatan dan kenyamanan jangka panjang.
Setiap pasangan memiliki kebutuhan yang berbeda, sehingga tidak ada satu metode yang cocok untuk semua orang. Dengan perencanaan yang matang, program keluarga berencana dapat berjalan lebih aman dan sesuai harapan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Healthcare.utah.edu