INDOZONE.ID - Banyak ibu berharap berat badan bisa kembali seperti sebelum hamil setelah proses persalinan selesai. Namun, kenyataannya menurunkan berat badan usai melahirkan tidak selalu mudah.
Sebelum mencoba berbagai metode diet, penting untuk memahami penyebab yang mungkin menghambat proses penurunan berat badan setelah melahirkan. Berikut di antaranya.
6 Penyebab Berat Badan Sulit Turun Setelah Melahirkan
1. Kurang Tidur Membuat Nafsu Makan Meningkat
Merawat bayi yang baru lahir sering kali membuat ibu kehilangan waktu istirahat. Bayi yang kerap terbangun di malam hari menyebabkan kualitas tidur menjadi berkurang.
Kurang tidur ternyata berdampak pada hormon yang mengatur rasa lapar. Saat tubuh kekurangan istirahat, produksi hormon ghrelin yang memicu rasa lapar meningkat, sementara hormon leptin yang memberi sinyal kenyang justru menurun.
Akibatnya, keinginan untuk makan menjadi lebih besar dan konsumsi kalori pun meningkat.
Beberapa penelitian juga menunjukkan, orang yang tidur kurang dari empat jam sehari cenderung mengonsumsi lebih banyak makanan dibandingkan mereka yang memiliki waktu tidur cukup.
Baca juga: 10 Tahapan Pembukaan Melahirkan Normal, Calon Ibu Wajib Tahu!
2. Gangguan Tiroid Menghambat Pembakaran Kalori
Perubahan hormon setelah kehamilan merupakan hal yang normal. Namun, sebagian ibu juga dapat mengalami gangguan pada kelenjar tiroid tanpa menyadarinya.
Tiroid berperan penting dalam mengatur metabolisme tubuh. Jika fungsinya terganggu, proses pembakaran energi menjadi lebih lambat sehingga berat badan sulit turun meskipun pola makan sudah dijaga.
Selain kenaikan berat badan, gangguan tiroid biasanya disertai gejala seperti rambut rontok, tubuh mudah lelah, kulit menjadi lebih kering, hingga perubahan suasana hati atau depresi.
Baca juga: Kulit Kusam setelah Melahirkan? Coba Lakukan Perawatan Ini
3. Makan Terlalu Banyak Saat Menyusui
Banyak orang percaya, ibu menyusui harus makan jauh lebih banyak agar produksi ASI meningkat. Memang, kebutuhan energi selama menyusui bertambah, tetapi bukan berarti porsi makan boleh berlebihan.
Mengonsumsi makanan tinggi karbohidrat maupun lemak secara berlebihan akan meningkatkan asupan kalori harian. Jika kalori tersebut tidak digunakan sebagai energi, tubuh akan menyimpannya sebagai lemak.
Karena itu, tetaplah mengatur porsi makan secara seimbang. Sesekali menikmati makanan favorit bukanlah masalah, asalkan tidak dilakukan secara berlebihan.
Jika kesulitan mengontrol pola makan, berkonsultasi dengan ahli gizi dapat menjadi pilihan yang tepat.
4. Olahraga Berlebihan Justru Bisa Menjadi Bumerang
Banyak orang mengira semakin berat latihan yang dilakukan, semakin cepat pula berat badan turun. Padahal, kondisi ini tidak selalu berlaku bagi ibu yang baru melahirkan.
Olahraga dengan intensitas terlalu tinggi berisiko menyebabkan cedera dan mengganggu proses pemulihan tubuh.
Selain itu, latihan kardio yang berlebihan juga dapat meningkatkan rasa lapar sehingga asupan kalori ikut bertambah.
Sebagai alternatif, latihan kekuatan dengan intensitas sedang lebih dianjurkan. Melakukan latihan sekitar 25 menit sebanyak dua kali dalam seminggu sudah cukup membantu meningkatkan kebugaran, sekaligus mendukung proses penurunan berat badan.
5. Kebiasaan Makan karena Emosional
Masa setelah melahirkan merupakan periode ketika perubahan hormon masih berlangsung. Kondisi ini membuat perasaan ibu menjadi lebih sensitif dan mudah berubah.
Sebagian orang melampiaskan stres, lelah, atau rasa cemas dengan mengonsumsi makanan manis maupun tinggi kalori. Kebiasaan ini dikenal sebagai emotional eating dan dapat membuat berat badan semakin sulit turun.
Saat muncul keinginan makan karena emosi, cobalah berhenti sejenak dan tanyakan pada diri sendiri apakah tubuh benar-benar lapar.
Mengalihkan perhatian dengan berjalan santai, membaca buku, bermain bersama bayi, atau melakukan yoga ringan bisa menjadi cara yang lebih sehat untuk mengelola emosi.
6. Sindrom Usus Bocor Bisa Memengaruhi Berat Badan
Faktor lain yang jarang disadari adalah sindrom usus bocor atau leaky gut syndrome. Kondisi ini diduga berkaitan dengan perubahan kadar hormon estrogen selama masa menyusui yang memengaruhi kesehatan saluran pencernaan.
Saat fungsi usus terganggu, proses penyerapan nutrisi dan metabolisme tubuh juga dapat ikut terpengaruh. Akibatnya, pembakaran lemak menjadi kurang optimal sehingga berat badan lebih sulit diturunkan.
Meski masih memerlukan penelitian lebih lanjut, gangguan pencernaan ini sebaiknya tidak diabaikan apabila disertai keluhan lain yang mengganggu aktivitas sehari-hari.
Menurunkan berat badan setelah melahirkan membutuhkan waktu dan proses yang berbeda pada setiap ibu. Tidak hanya dipengaruhi pola makan dan olahraga, perubahan hormon, kualitas tidur, hingga kondisi kesehatan tertentu juga memiliki peran penting.
Jika berat badan tetap sulit turun meski sudah menjalani gaya hidup sehat, sebaiknya konsultasikan dengan dokter atau ahli gizi sebelum menjalani program diet.
Dengan pendampingan yang tepat, ibu dapat menurunkan berat badan secara aman tanpa mengurangi kualitas ASI maupun mengganggu proses pemulihan setelah persalinan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Publichealth.uga.edu