INDOZONE.ID - Kolesterol adalah zat lemak yang dibutuhkan tubuh agar dapat berfungsi dengan baik. Namun, jika kadarnya terlalu tinggi, terutama kolesterol jahat (LDL), kondisi ini dapat meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan.
Kolesterol tinggi yang dibiarkan terus-menerus dapat menyebabkan lemak menumpuk di dinding pembuluh darah. Lama-kelamaan, pembuluh darah menjadi menyempit sehingga aliran darah ke seluruh tubuh tidak lagi lancar.
Akibatnya, risiko terkena penyakit serius, seperti penyakit jantung, stroke, dan komplikasi lainnya akan meningkat. Oleh karena itu, penting untuk mengetahui akibat kolesterol tinggi agar bisa melakukan pencegahan sejak dini.
10 Akibat Kolesterol Tinggi yang Wajib Diketahui
Lantas, apa saja akibat kolesterol tinggi yang perlu diwaspadai? Simak penjelasannya berikut ini.
1. Penyakit Jantung Koroner
Kolesterol tinggi dapat menyebabkan penumpukan plak pada pembuluh darah yang menuju jantung. Akibatnya, aliran darah menjadi berkurang dan jantung kekurangan oksigen.
Kondisi ini dapat memicu penyakit jantung koroner yang ditandai dengan nyeri dada, sesak napas, hingga meningkatkan risiko komplikasi yang lebih serius.
Baca juga: Apa Bedanya Maag dan Asam Lambung? Simak Penjelasannya di Sini
2. Serangan Jantung
Plak kolesterol yang pecah dapat membentuk sumbatan pada pembuluh darah jantung. Akibatnya, aliran darah ke otot jantung terhenti sehingga jaringan jantung mulai rusak.
Jika tidak segera ditangani, kondisi ini dapat menyebabkan serangan jantung yang membahayakan nyawa dan memerlukan penanganan medis secepatnya.
3. Stroke
Kolesterol tinggi juga dapat menyebabkan penyumbatan pada pembuluh darah yang menuju otak. Akibatnya, pasokan darah, oksigen, dan nutrisi ke otak menjadi terganggu.
Kondisi ini dapat menyebabkan stroke yang berisiko menimbulkan kelumpuhan, gangguan berbicara, bahkan kematian jika tidak segera ditangani.
4. Penyakit Arteri Perifer
Penumpukan kolesterol tidak hanya terjadi di jantung, tetapi juga pada pembuluh darah di kaki. Akibatnya, aliran darah ke tungkai menjadi berkurang sehingga kaki mudah terasa nyeri.
Penderita biasanya merasakan kram saat berjalan, kaki terasa dingin, atau luka yang sulit sembuh karena aliran darah tidak lancar.
Baca juga: Masih Bisakah Berlari Setelah Serangan Jantung? Berikut Penjelasannya
5. Tekanan Darah Tinggi
Kolesterol tinggi dapat menyebabkan lemak menumpuk di pembuluh darah. Akibatnya, aliran darah menjadi kurang lancar dan pembuluh darah menyempit.
Kondisi ini membuat jantung bekerja lebih keras untuk memompa darah. Jika dibiarkan, tekanan darah bisa meningkat dan memicu berbagai masalah kesehatan.
6. Batu Empedu
Kolesterol yang berlebihan juga dapat mengendap di dalam cairan empedu. Endapan tersebut lama-kelamaan akan membentuk batu empedu yang dapat mengganggu sistem pencernaan.
Kondisi ini biasanya ditandai dengan nyeri di perut kanan atas, mual, muntah, atau rasa tidak nyaman setelah mengonsumsi makanan berlemak.
7. Demensia Vaskular
Kolesterol tinggi dapat mengurangi aliran darah ke otak akibat penyempitan pembuluh darah. Jika terjadi terus-menerus, jaringan otak dapat mengalami kerusakan secara perlahan.
Hal ini memicu demensia vaskular, sebuah kondisi yang menyebabkan penurunan daya ingat secara drastis, kesulitan berpikir, dan penurunan fungsi kognitif yang mirip dengan Alzheimer.
8. Disfungsi Ereksi
Kolesterol tinggi dapat menghambat aliran darah ke organ reproduksi pria. Akibatnya, organ tersebut tidak mendapat pasokan darah yang cukup untuk berfungsi dengan baik.
Kondisi ini dapat menyebabkan disfungsi ereksi atau sulit mempertahankan ereksi. Karena itu, menjaga kadar kolesterol tetap normal sangatlah penting.
Baca juga: Jangan Anggap Sepele, Rokok Sebatang Tetap Bisa Picu Penyakit Jantung
9. Kerusakan Ginjal
Kolesterol tinggi dapat menyebabkan penyempitan pembuluh darah yang mengalir ke ginjal. Akibatnya, pasokan darah ke ginjal berkurang sehingga organ ini tidak dapat bekerja secara optimal.
Jika dibiarkan dalam waktu lama, fungsi ginjal dapat terus menurun dan meningkatkan risiko terjadinya penyakit ginjal hingga gagal ginjal.
10. Pankreatitis Akut
Kolesterol tinggi sering kali disertai dengan kadar trigliserida yang juga tinggi. Jika kadar trigliserida meningkat sangat tinggi, kondisi ini dapat memicu peradangan pada pankreas.
Pankreatitis akut biasanya ditandai dengan nyeri hebat di perut, mual, muntah, dan demam. Kondisi ini memerlukan penanganan medis secepat mungkin.
Cara Mencegah Kolesterol Tinggi
Berikut ini cara yang dapat dilakukan untuk menjaga kadar kolesterol tetap normal:
1. Cek Darah Rutin
Lakukan profil lipid (cek kolesterol total, LDL, HDL, dan trigliserida) minimal 6 bulan sekali, terutama jika Anda berusia di atas 20 tahun atau memiliki riwayat keluarga.
2. Batasi Makanan Tinggi Lemak Jenuh
Kurangi konsumsi gorengan, daging berlemak, makanan cepat saji, serta makanan olahan. Sebaiknya pilih makanan yang direbus, dikukus, atau dipanggang agar lebih sehat.
3. Perbanyak Konsumsi Buah dan Sayuran
Buah dan sayuran mengandung banyak serat yang dapat membantu mengurangi kadar kolesterol jahat (LDL). Usahakan mengonsumsinya setiap hari sebagai bagian dari menu makan.
4. Rutin Berolahraga
Lakukan olahraga ringan hingga sedang, seperti jalan kaki, bersepeda, atau berenang selama minimal 30 menit setiap hari. Aktivitas fisik juga dapat membantu meningkatkan kolesterol baik (HDL).
5. Jaga Berat Badan Tetap Ideal
Kelebihan berat badan dapat meningkatkan kadar kolesterol dalam darah. Menjaga berat badan tetap ideal dapat membantu menurunkan risiko penyakit jantung.
6. Hindari Merokok dan Batasi Konsumsi Alkohol
Merokok dapat merusak pembuluh darah dan meningkatkan risiko penumpukan plak. Jika mengonsumsi alkohol, batasi jumlahnya agar tidak berdampak buruk bagi kesehatan.
Baca juga: 10 Sayuran yang Boleh Dimakan Penderita Asam Urat dan Kolesterol
Itulah 10 akibat kolesterol tinggi yang perlu diwaspadai. Meski sering tidak menimbulkan gejala, kolesterol tinggi dapat menyebabkan berbagai penyakit serius jika tidak segera ditangani.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Mayo Clinic