INDOZONE.ID - Pernah merasa tenggorokan seperti tercekat ketika ingin mengatakan sesuatu yang penting?
Atau suara mendadak melemah saat harus mengungkapkan pendapat, menolak permintaan orang lain, atau menyampaikan isi hati?
Banyak orang mengira kondisi ini hanya disebabkan rasa gugup. Padahal, dalam beberapa kasus, respons tersebut bisa berkaitan dengan pengalaman emosional yang telah terbentuk sejak lama.
Psikolog menjelaskan bahwa orang yang tumbuh di lingkungan penuh tekanan atau terbiasa “dibungkam” sering kali membawa pola tersebut hingga dewasa.
Baca juga: Obsesi untuk "Sempurna" Bisa Picu Sakit Kepala yang Datang dan Pergi
Ketika sejak kecil seseorang merasa tidak aman untuk berbicara, otaknya akan belajar bahwa diam adalah cara terbaik untuk melindungi diri.
Akibatnya, kebiasaan menahan perasaan perlahan menjadi bagian dari cara seseorang menghadapi berbagai situasi, bahkan ketika ancaman itu sebenarnya sudah tidak ada lagi.
Kebiasaan Menahan "Bersuara" Bisa Terbawa Sampai Dewasa
Anak yang sering dikritik, dimarahi saat mengutarakan pendapat, atau merasa emosinya tidak pernah didengarkan biasanya akan belajar satu hal: berbicara bisa mendatangkan masalah.
Tanpa disadari, keyakinan tersebut terus terbawa hingga dewasa. Saat ingin menyampaikan pendapat kepada pasangan, keluarga, teman, atau rekan kerja, muncul konflik di dalam diri.
Baca juga: Dada Sering Nyeri Tanpa Sebab Medis? Bisa Jadi Ini Alarm dari Luka Hati yang Belum Sembuh!
Di satu sisi, ada keinginan untuk jujur dan didengar. Namun di sisi lain, muncul rasa takut ditolak, dianggap salah, atau memicu pertengkaran.
Tarik-ulur inilah yang akhirnya membuat tubuh ikut bereaksi. Otot-otot di area leher dan tenggorokan menegang, napas menjadi lebih pendek, dan sebagian orang merasa suaranya seperti tertahan sebelum sempat keluar.
Penelitian Membuktikan Stres Memang Bisa Mempengaruhi Suara
Hubungan antara tekanan emosional dan gangguan pada suara ternyata bukan sekadar dugaan.
Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Speech, Language, and Hearing Research oleh Leah B. Helou, Clark A. Rosen, Wei Wang, dan Katherine Verdolini Abbott (2018) menemukan bahwa stres psikologis dapat meningkatkan aktivitas otot intrinsik laring, yaitu otot-otot yang berperan penting dalam menghasilkan suara.
Baca juga: Perut Sering Mulas Ketika Berada di Situasi Tegang? Ini Penjelasan Ilmiahnya
Ketika seseorang mengalami tekanan emosional, otot-otot tersebut cenderung menjadi lebih tegang sehingga kualitas suara dapat berubah dan tenggorokan terasa tidak nyaman.
Temuan ini menunjukkan bahwa apa yang dirasakan secara emosional memang dapat memunculkan respons fisik pada tubuh, termasuk di area tenggorokan.
Penelitian lain yang dimuat dalam Journal of Voice berjudul Pathophysiology and Treatment of Muscle Tension Dysphonia: A Review of the Current Knowledge juga menjelaskan bahwa stres psikologis merupakan salah satu faktor yang dapat memicu Muscle Tension Dysphonia (MTD), yaitu gangguan suara yang terjadi akibat ketegangan berlebihan pada otot-otot di sekitar laring.
Kondisi ini dapat membuat suara menjadi serak, cepat lelah saat berbicara, hingga muncul sensasi mengganjal di tenggorokan.
Baca juga: Perut Sering Mulas Ketika Berada di Situasi Tegang? Ini Penjelasan Ilmiahnya
Temuan serupa juga dilaporkan dalam penelitian Psychological Distress in a Sample of Adult Italian Patients Affected by Vocal Nodules and Muscle-Tension Dysphonia yang diterbitkan di Journal of Voice.
Penelitian tersebut menemukan bahwa pasien dengan gangguan suara akibat ketegangan otot memiliki tingkat stres, kecemasan, dan depresi yang lebih tinggi dibandingkan individu tanpa gangguan suara.
Meski begitu, para peneliti mengingatkan bahwa tidak semua masalah tenggorokan disebabkan oleh faktor psikologis. Keluhan yang berlangsung lama tetap perlu diperiksa oleh tenaga medis untuk memastikan penyebabnya.
Musuh Terbesar Seringkali Bukan Orang Lain, tetapi Suara dalam Kepala Sendiri
Selain pengalaman masa kecil, banyak orang yang terbiasa memendam perasaan juga memiliki inner critic atau kritik batin yang sangat kuat.
Baca juga: Sering Sakit Punggung Bawah? Bisa Jadi Amarah yang Selama Ini Kamu Pendam Penyebabnya!
Suara di dalam kepala terus mengatakan bahwa pendapat mereka tidak penting, akan ditolak, atau hanya akan memperburuk keadaan. Akibatnya, setiap kali ingin berbicara, mereka memilih mengurungkan niatnya.
Semakin sering pola ini berulang, semakin sulit pula seseorang mengekspresikan kebutuhan maupun emosinya secara sehat. Perasaan yang terus ditekan akhirnya tidak benar-benar hilang, melainkan berubah menjadi beban psikologis yang terus menumpuk.
Bagaimana Cara Mulai Memutus Pola Ini?
Menurut pengalaman para terapis, salah satu langkah sederhana yang dapat dilakukan adalah menulis jurnal. Dengan menuangkan pikiran kedalam tulisan, seseorang dapat mengenali kritik batin yang selama ini menguasai dirinya sekaligus belajar melihat situasi secara lebih objektif.
Cara lain yang juga sering digunakan adalah membaca puisi dengan suara lantang. Aktivitas ini bukan hanya melatih vokal, tetapi juga membantu seseorang merasa lebih nyaman menggunakan suaranya sendiri.
Baca juga: 7 Manfaat Luar Biasa Ikan Toman untuk Kesehatan Tubuh
Puisi dinilai memiliki kedekatan dengan emosi bawah sadar sehingga dapat menjadi media untuk membangun kembali kepercayaan diri dalam berekspresi.
Proses ini memang membutuhkan waktu. Namun perlahan, seseorang dapat belajar bahwa menyampaikan pendapat bukanlah sesuatu yang harus ditakuti.
Karena setiap orang berhak memiliki suara dan didengar. Ketika kita mulai berani mengungkapkan apa yang dirasakan dengan cara yang sehat, tubuh pun tidak lagi harus terus-menerus menanggung beban dari emosi yang selama ini dipendam.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber