INDOZONE.ID - Salmonella merupakan salah satu bakteri yang paling sering dikaitkan dengan keracunan makanan.
Bakteri ini dapat masuk ke dalam tubuh melalui makanan atau minuman yang telah terkontaminasi. Lalu, menyebabkan infeksi pada saluran pencernaan yang dikenal sebagai salmonellosis.
Akibatnya, seseorang bisa mengalami diare, sakit perut, demam, hingga kram yang mengganggu aktivitas sehari-hari.
Yang membuat Salmonella perlu diwaspadai adalah, bakteri ini tidak bisa dikenali hanya dari tampilan makanan.
Makanan yang terlihat segar dan normal, tetap berpotensi mengandung bakteri jika proses penyimpanan, pengolahan, atau kebersihannya kurang terjaga.
Bagaimana Salmonella Menginfeksi Tubuh?
Infeksi Salmonella terjadi ketika bakteri masuk ke dalam tubuh, melalui makanan atau minuman yang telah terkontaminasi.
Baca juga: Benarkah Janggut Sarang Bakteri? Ini Fakta Medis dan Cara Merawatnya
Bakteri ini mampu bertahan hidup di saluran pencernaan manusia maupun hewan, kemudian dapat menyebar melalui feses atau tinja.
Kontaminasi biasanya terjadi ketika makanan bersentuhan dengan bakteri yang berasal dari lingkungan, atau dari proses pengolahan yang kurang higienis.
Oleh karen itu, kebersihan saat menyiapkan makanan menjadi salah satu faktor penting untuk mencegah penularan.
Makanan yang Sering Menjadi Sumber Salmonella
Ada beberapa jenis makanan yang lebih berisiko membawa bakteri Salmonella. Salah satunya adalah telur yang dikonsumsi mentah atau setengah matang.
Produk yang menggunakan telur mentah, seperti mayones tertentu, juga dapat menjadi sumber infeksi apabila bahan bakunya sudah terkontaminasi.
Selain itu, daging merah, daging unggas, maupun makanan laut yang tidak dimasak hingga matang, juga berpotensi membawa bakteri.
Susu serta produk olahan susu yang tidak dipasteurisasi termasuk dalam kelompok makanan yang perlu diwaspadai. Risiko tidak hanya berasal dari bahan pangan hewani.
Buah dan sayuran yang tidak dicuci hingga bersih, atau bahan makanan yang dicuci menggunakan air yang telah terkontaminasi, juga dapat menjadi media penyebaran Salmonella.
Bahkan, makanan olahan seperti sosis dan nugget tetap perlu diolah dengan benar agar aman dikonsumsi.
Kebiasaan yang Bisa Meningkatkan Risiko Infeksi
Selain dari makanan, beberapa kebiasaan sehari-hari juga dapat mempermudah bakteri Salmonella masuk ke dalam tubuh.
Misalnya, tidak mencuci tangan sebelum mengolah atau menyantap makanan, serta tidak membersihkan bahan makanan sebelum dimasak.
Hewan peliharaan seperti kucing, anjing, burung, maupun reptil juga dapat membawa bakteri Salmonella pada bulu atau fesesnya.
Karena itu, mencuci tangan setelah berinteraksi dengan hewan menjadi langkah sederhana yang penting dilakukan. Tidak semua orang memiliki risiko yang sama.
Infeksi Salmonella lebih mudah terjadi pada orang dengan daya tahan tubuh yang lemah, anak berusia di bawah lima tahun, lansia di atas 65 tahun, atau orang yang tinggal di lingkungan dengan sanitasi buruk.
Baca juga: Fakta Seputar Bahaya Kecoa: Alergi, Bakteri, hingga Cara Membasminya
Gejala yang Perlu Diwaspadai
Gejala infeksi Salmonella umumnya mulai muncul sekitar 12 hingga 72 jam setelah bakteri masuk ke dalam tubuh.
Keluhannya tidak hanya berupa diare, tetapi juga dapat disertai mual, muntah, kram perut, demam, menggigil, sakit kepala, kehilangan nafsu makan, hingga tinja yang bercampur darah.
Sebagian besar gejala berlangsung selama empat hingga tujuh hari.
Namun, diare bisa bertahan lebih lama, bahkan proses pemulihan fungsi saluran pencernaan hingga benar-benar normal dapat memerlukan waktu beberapa bulan.
Jika mengalami muntah yang terus-menerus, demam di atas 38 derajat Celsius, diare lebih dari tiga hari, atau buang air besar berdarah, pemeriksaan ke dokter perlu segera dilakukan.
Untuk memastikan penyebab infeksi, dokter dapat melakukan wawancara medis, pemeriksaan fisik, serta pemeriksaan laboratorium berupa tes feses atau tes darah bila diperlukan.
Apakah Salmonella Bisa Sembuh?
Pada orang dengan sistem kekebalan tubuh yang baik, infeksi Salmonella umumnya dapat membaik sendiri dalam waktu sekitar satu minggu tanpa pengobatan khusus.
Selama masa pemulihan, penderita dianjurkan untuk memperbanyak minum air putih agar tidak mengalami dehidrasi.
Selain itu penderita juga perlu menghindari makanan atau minuman yang dapat memperparah gejala seperti makanan berminyak, pedas, susu, kafein, dan alkohol.
Apabila kondisi tidak kunjung membaik atau justru semakin berat, dokter dapat memberikan penanganan sesuai kebutuhan.
Pada kasus yang berat, pasien mungkin memerlukan perawatan di rumah sakit untuk mendapatkan cairan infus.
Dokter juga dapat memberikan obat penurun demam, obat antidiare, maupun antibiotik apabila infeksi sudah memberat atau pasien memiliki daya tahan tubuh yang lemah.
Cara Mencegah Infeksi Salmonella
Baca juga: Seberapa Berbahaya Bakteri Salmonella? Ini Dampaknya bagi Tubuh
Pencegahan Salmonella pada dasarnya berfokus pada menjaga kebersihan makanan dan kebiasaan hidup sehari-hari.
Mencuci tangan sebelum makan dan memasak, membersihkan tangan setelah bepergian atau setelah memegang hewan, serta mencuci peralatan makan merupakan langkah sederhana yang sangat membantu mengurangi risiko infeksi.
Di dapur, pastikan telur dan daging dimasak hingga benar-benar matang.
Hindari mengonsumsi telur yang cangkangnya retak, pisahkan penyimpanan daging mentah dengan bahan makanan lain, gunakan talenan yang berbeda untuk makanan mentah dan matang, serta hindari susu yang tidak dipasteurisasi.
Makanan juga sebaiknya tidak dibiarkan terbuka terlalu lama, dan orang yang sedang muntah atau diare sebaiknya tidak menyiapkan makanan untuk orang lain.
Dengan menjaga kebersihan diri, memilih bahan makanan yang aman, serta memastikan makanan diolah hingga matang, risiko terinfeksi Salmonella dapat ditekan secara signifikan.
Langkah-langkah sederhana tersebut menjadi cara paling efektif untuk melindungi diri dan keluarga dari infeksi saluran pencernaan yang disebabkan oleh bakteri ini.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Siloamhospitals.com