Minggu, 19 JULI 2026 • 11:15 WIB

Pria Wajib Tahu! Ini Hasil Studi Terbaru tentang Manfaat dan Risiko Terapi Testosteron

Author

Ilustrasi terapi testosteron. (Freepik)

INDOZONE.IDTerapi testosteron atau testosterone replacement therapy (TRT) selama ini banyak digunakan untuk mengatasi kadar testosteron yang menurun pada pria lanjut usia. 

Namun, sebuah penelitian terbaru menunjukkan, terapi testosteron tidak mempercepat pengerasan arteri (aterosklerosis), tetapi juga tidak memberikan manfaat yang signifikan terhadap fungsi seksual maupun kualitas hidup. 

Berdarkan hasil penelitian yang dilakukan tim peneliti dari Brigham and Women's Hospital, yang dikutip dari Medical Daily, memberikan gambaran lebih jelas, mengenai manfaat dan risiko terapi testosteron jangka panjang pada pria berusia lanjut. 

Terlebih, bagi mereka yang memiliki kadar testosteron rendah hingga rendah-normal. 

Baca juga: 5 Tanda Pria Memiliki Testosteron Rendah, Salah Satunya dari Ukuran Testis

Apa Itu Terapi Testosteron? 

Terapi testosteron atau testosterone replacement therapy (TRT) adalah pengobatan yang bertujuan menggantikan kadar hormon testosteron yang rendah hingga kembali ke kisaran normal. 

Terapi ini tersedia dalam beberapa bentuk, seperti gel yang dioleskan ke kulit, suntikan, plester (patch), hingga implan, dan hanya diberikan berdasarkan diagnosis serta pengawasan dokter. 

Siapa yang Membutuhkan Terapi Testosteron? 

Menurut Mayo Clinic, testosteron merupakan hormon utama pada pria yang berperan dalam menjaga massa dan kekuatan otot, kepadatan tulang, dan produksi sel darah merah. 

Selain itu, dapat menjaga gairah seksual (libido), produksi sperma, serta perkembangan karakteristik seksual pria, seperti pertumbuhan rambut wajah dan perubahan suara saat pubertas. 

Seiring bertambahnya usia, kadar testosteron memang akan menurun secara alami sekitar 1 persen setiap tahun setelah usia 30–40 tahun. Namun, tidak semua penurunan kadar hormon memerlukan terapi penggantian testosteron. 

Ilustrasi seorang pria sedang konsultasi terapi testosteron. (Freepik)

Terapi Testosteron Tidak Memengaruhi Pengerasan Arteri 

Dalam penelitian yang berlangsung selama tiga tahun, para peneliti melibatkan lebih dari 300 pria berusia di atas 60 tahun, dengan kadar testosteron rendah hingga rendah-normal. 

Seluruh peserta mengikuti uji klinis acak tersamar ganda (double-blind). Sebagian menggunakan gel testosteron setiap hari, dan sebagian lainnya menggunakan gel plasebo. 

Peneliti kemudian mengukur dua indikator utama aterosklerosis, yaitu kondisi ketika plak menumpuk di dinding pembuluh darah arteri, sehingga meningkatkan risiko terbentuknya gumpalan darah yang dapat memicu serangan jantung maupun stroke. 

Hasil penelitian menunjukkan, tidak terdapat perbedaan yang bermakna dalam perkembangan aterosklerosis antara kelompok yang menggunakan gel testosteron dan kelompok plasebo. 

Temuan tersebut menyimpulkan, terapi testosteron tidak mempercepat proses pengerasan arteri pada pria lanjut usia. 

Manfaat Terapi Testosteron untuk Fungsi Seksual 

Meski tidak berdampak buruk terhadap perkembangan aterosklerosis, penelitian ini juga menemukan, terapi testosteron tidak memberikan peningkatan yang signifikan terhadap fungsi seksual. 

Selama penelitian, para peserta diminta mengisi kuesioner yang mengevaluasi kemampuan ereksi, fungsi ejakulasi, gairah seksual, kedekatan dengan pasangan, hingga kualitas hidup yang berkaitan dengan kesehatan. 

Hasilnya menunjukkan, penggunaan gel testosteron tidak secara bermakna meningkatkan kemampuan ereksi, fungsi ejakulasi, hasrat seksual, hubungan intim dengan pasangan, maupun kualitas hidup dibandingkan dengan peserta yang menggunakan plasebo. 

Baca juga: Pria Usia 40 Tahun, Waspadai Kekurangan Hormon Testosteron

Penggunaan Terapi Testosteron Terus Meningkat 

Temuan ini menjadi penting karena, penggunaan terapi testosteron terus mengalami peningkatan dalam beberapa dekade terakhir. 

Laporan yang diterbitkan dalam Journal of the American Geriatric Society mencatat, penjualan produk testosteron meningkat tajam, dari sekitar US$324 juta pada 2002 menjadi US$2 miliar pada 2012. 

Angka tersebut belum termasuk penjualan melalui internet maupun klinik yang melayani pasien secara langsung. 

Seiring meningkatnya jumlah penduduk lanjut usia, penggunaan terapi testosteron diperkirakan masih akan terus bertambah. Namun, manfaat dan keamanan penggunaan jangka panjangnya masih terus diteliti. 

Kenapa Kadar Testosteron Menurun? 

Testosteron merupakan hormon alami yang diproduksi oleh testis, dan berperan penting dalam perkembangan karakteristik seksual pria, pembentukan massa otot, menjaga kepadatan tulang, serta mendukung fungsi seksual. 

Memasuki usia 40 tahun, kadar testosteron pria umumnya mulai menurun secara alami, sekitar satu persen setiap tahun.

Penurunan hormon inilah yang membuat sebagian pria mempertimbangkan terapi penggantian testosteron untuk mengurangi berbagai keluhan yang muncul. 

Terapi Testosteron Masih Perlu Dikaji Lebih Lanjut 

Sebelumnya, sejumlah penelitian telah menyoroti kemungkinan hubungan antara terapi testosteron dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular. 

Bahkan, Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) pernah meminta produsen obat testosteron, menambahkan informasi mengenai kemungkinan peningkatan risiko serangan jantung dan stroke pada pengguna terapi tersebut. 

Meski penelitian terbaru ini tidak menemukan percepatan aterosklerosis, para peneliti menegaskan, hasil tersebut belum dapat dijadikan bukti bahwa terapi testosteron sepenuhnya aman bagi kesehatan jantung. 

Mereka menilai, masih diperlukan penelitian berskala lebih besar dengan periode pemantauan yang lebih panjang, untuk memastikan apakah terapi testosteron memiliki efek lain terhadap sistem kardiovaskular. 

Jangan Gunakan Terapi Testosteron Sembarangan 

Berdasarkan hasil penelitian, para peneliti mengingatkan, terapi testosteron tidak boleh digunakan secara sembarangan, terutama hanya karena penurunan kadar hormon akibat proses penuaan. 

Penggunaan terapi testosteron sebaiknya dilakukan atas indikasi medis yang jelas, setelah pemeriksaan menyeluruh dan berdasarkan rekomendasi dokter. 

Dengan demikian, manfaat yang diperoleh dapat sebanding dengan potensi risiko yang mungkin muncul pada setiap individu. 

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Medical Daily, Mayo Clinic

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU