INDOZONE.ID - Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Taruna Ikrar berharap penguatan industri farmasi nasional dapat membuka peluang bagi Indonesia untuk berperan sebagai pusat produksi sekaligus ekspor produk botulinum toxin di tingkat regional.
Optimisme tersebut disampaikan setelah fasilitas produksi botulinum toxin milik perusahaan Selatox Bio Pharma memenuhi standar Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) atau Good Manufacturing Practice (GMP) yang ditetapkan BPOM.
Taruna menilai keberadaan fasilitas produksi farmasi berbasis biologi di Cikarang dapat memperkuat industri biofarmasi nasional, sekaligus meningkatkan peluang Indonesia menjadi salah satu basis produksi produk biologis di kawasan Asia Tenggara.
"Dan tentu harapannya produk yang dari dalam negeri ini juga nanti bisa diekspor. Jadi kita menjadi international hub khususnya di negara-negara Asia termasuk negara ASEAN," ujar Taruna saat konferensi pers di Cikarang, Senin (20/7/2026).
Baca juga: 7 Manfaat Kunyit untuk Kesehatan yang Perlu Kamu Ketahui
Menurut Taruna, pasar produk biologis terus mendominasi industri farmasi dunia. Ia menyebut sektor tersebut menguasai sekitar 65 persen pasar global dengan nilai mencapai sekitar 1,3 triliun dolar AS atau setara Rp22.000 triliun.
"Secara global itu pangsa pasarnya produk-produk biologi sudah 65 persen. Dari tahun 2025 global market itu 1,3 triliun US dollar," jelasnya.
Ia mengatakan BPOM telah menerbitkan sertifikat GMP atau CPOB bagi fasilitas produksi Selatox setelah melalui proses asesmen dan pemeriksaan sesuai standar internasional.
Taruna menjelaskan bahwa standar yang diterapkan BPOM kini mengacu pada pengakuan internasional setelah lembaga tersebut memperoleh status WHO Listed Authority (WLA).
Baca juga: 7 Minuman Detox Alami untuk Membantu Menjaga Kesehatan Tubuh
Menurutnya, standar tersebut diterapkan untuk memastikan setiap produk yang dipasarkan telah memenuhi persyaratan keamanan, mutu, dan khasiat.
"Intinya sudah melalui suatu proses asesmen, proses pengecekan dan proses yang sangat saklek terhadap GMP ini. Kami yakin semuanya sudah berjalan sesuai dengan aturan, sesuai standar,” paparnya.
Taruna menyebut botulinum toxin termasuk salah satu kandungan senyawa yang dikenal memiliki penggunaan yang luas, baik untuk kebutuhan estetika maupun dalam pengembangan sejumlah produk biologis lainnya. Ia menyambut baik rencana produksi botulinum toxin di Indonesia.
Taruna menambahkan bahwa sertifikasi BPOM dalam produk botulinum toxin tersebut menempatkannya sebagai salah satu produk pertama dengan sertifikasi serupa di kawasan Asia Tenggara.
Baca juga: 8 Minuman Terbaik untuk Membantu Menurunkan Berat Badan
"Ini merupakan salah satu produk Botulinum Toksin pertama di Asia Tenggara yang kita sahkan. Jadi mudah-mudahan bukan hanya Indonesia, tapi kita bisa memfasilitasi menjadi business hub untuk minimal Asia Tenggara," pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan