Senin, 17 FEBRUARI 2025 • 13:44 WIB

Kesepian Bikin Otak Lemot dan Cepat Pikun? Ini Kata Ahli

Author

Kesepian sering kali dianggap sebagai pengalaman duduk sendirian dengan diri sendiri, ingin berinteraksi dengan orang serta pikiran negatif.

INDOZONE.ID - Buat Kamu yang suka menyendiri dan mager buat sosialisasi, ada kabar buruk nih! 

Ada studi yang menemukan bahwa hidup kesepian dan kurang interaksi sosial bisa bikin otak Kamu lemot dan lebih cepat pikun. 

Bahkan, risiko demensia alias penyakit lupa-lupa ingatan bisa meningkat sampai 27% lebih tinggi buat mereka yang sering menyendiri.  

Gak cuma itu, kesepian juga bisa bikin otak Kamu menyusut, terutama di bagian hipokampus atau bagian otak yang penting banget buat memori dan belajar. 

Makin sering Kamu ngurung diri, makin besar kemungkinan otak Kamu jadi lamban dalam memproses informasi. 

Pengaruh kesepian terhadap kesehatan mental juga harus diperhatikan agar kelangsungan hidup lebih sehat setiap harinya.

Baca Juga: Momen Taylor Swift Penuhi Impian Scarlett, Anak Pemberani yang Mengidap Kanker Otak

Interaksi Sosial = Vitamin Otak

Menurut Dr. Andrew Sommerland dari University College London, ngobrol dan berinteraksi dengan orang lain itu ibarat vitamin buat otak. 

Saat Kamu ngobrol, jutaan neuron di otak Kamu bakal aktif dan bikin koneksi kognitif tetap terjaga.

Selain itu, interaksi sosial juga bisa bantu ningkatin suasana hati dan mencegah Kamu dari stres berlebihan.  

“Ketika kita ngobrol, otak bekerja lebih aktif, kita mengenali wajah, mengingat sejarah seseorang, dan bahkan berpikir pertanyaan yang relevan buat ditanyain. Ini semua jadi latihan buat otak,” kata Sommerland, dikutip dari South China Morning Post.

Ilustrasi Kesepian.

Kenapa Kesepian Bikin Otak Melemah?

Kesepian bukan cuma soal rasa hampa di hati, tapi juga berdampak langsung ke struktur otak.

Studi menunjukkan bahwa orang yang sering merasa kesepian cenderung mengalami penyusutan di hipokampus. 

Nah, hipokampus ini penting banget buat nyimpen memori dan belajar hal baru. Kalau bagian ini mengecil, bisa dipastikan kemampuan berpikir dan mengingat bakal menurun.  

Lebih parahnya lagi, kesepian sering dikaitkan sama depresi yang juga jadi faktor utama penurunan kognitif. 

Kalau Kamu sering merasa kesepian, otak Kamu bakal lebih lamban dalam memproses informasi, gampang lupa, dan sulit fokus.  

Baca Juga: Pengaruh Pikiran dan Perasaan pada Kesehatan Mental: Yuk Pahami Keterkaitannya!

Gimana Cara Mencegahnya?

Tenang, bro & sis! Meski kesepian bisa berdampak buruk, bukan berarti gak ada solusinya. 

Para ahli bilang, menjaga kehidupan sosial yang aktifb bisa jadi cara efektif buat menjaga kesehatan otak sekaligus kesegaran mental. Caranya?  

1. Mulai dari Hal Sederhana

Coba lebih sering ngobrol sama keluarga, teman, atau bahkan sekadar menyapa tetangga. 

Interaksi kecil ini udah cukup buat menstimulasi otak Kamu.  

2. Ikut Komunitas atau Hobi Baru

Kamu bisa gabung ke komunitas yang sesuai sama minat Kamu, entah itu olahraga, musik, game, atau bahkan sekadar nongkrong bareng temen-temen lama.  

3. Kurangi Overthinking & Keluar dari Zona Nyaman

Kadang, rasa malas buat sosialisasi datang dari overthinking. 

Mulai coba buat lebih terbuka dan santai dalam bersosialisasi.  

4. Manfaatkan Teknologi

Kalau Kamu gak bisa ketemu langsung, manfaatin video call atau chat buat tetep terhubung sama orang-orang terdekat.  

Baca Juga: Pengaruh Healing Terhadap Kesehatan Mental, Benarkah Bisa Bikin Awet Muda?

Ilustrasi kesepian (Pexels/Polina Zimmerman)

Meskipun kadang enak buat sendiri dan menikmati waktu sendiri, tapi jangan sampai Kamu jadi terlalu terisolasi. 

Otak Kamu butuh tantangan dan stimulasi dari interaksi sosial biar tetap tajam. 

Jadi, mulai sekarang, yuk lebih aktif bersosialisasi! 

Gak perlu jadi ekstrovert, cukup mulai dari ngobrol santai dan lebih terbuka ke lingkungan sekitar.  

Ingat, hidup gak cuma tentang diri Kamu sendiri, tapi juga tentang bagaimana Kamu berhubungan sama orang lain. Stay connected and stay sharp!

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: South China Morning Post, University College London

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU