Ilustrasi orang trauma berdampak pada hubungan (Freepik)
INDOZONE.ID - Kira-kira, pernah nggak kamu merasa sering ribet atau gampang kebawa emosi, padahal masalahnya kelihatan sepele?
Bisa jadi, penyebabnya bukan soal pasangan atau orang lain, tapi ada luka lama dalam dirimu yang belum benar-benar sembuh.
Sebenarnya, trauma nggak selalu datang dalam bentuk yang dramatis. Kadang, ia muncul pelan-pelan, tanpa kita sadari, sampai bikin hubungan dengan orang lain nggak sehat.
Nah, di sini kita bakal bahas 4 respons trauma yang bisa merusak hubungan. Ini bukan buat menyalahkan diri sendiri, tapi supaya kita lebih paham kenapa kita bereaksi seperti sekarang. Yuk, scroll langsung ke bawah!
Ilustrasi wanita lebih sering overthinking. (Freepik)
Salah satu bentuk trauma yang bisa merusak hubungan adalah overthinking. Respon ini sering jadi efek samping kalau kamu pernah mengalami trauma berat atau lama.
Pikiran terus muter, mikir orang atau kejadian yang sama, sampai capek sendiri. Biasanya, polanya ada dua, kepikiran soal masa lalu atau kebanyakan mikir masa depan yang belum terjadi.
Kepikiran masa lalu terus bisa bikin sedih makin dalam. Sementara kebanyakan mikir masa depan bisa bikin cemas makin parah.
Kalau kamu sering kepikiran hal yang bikin sakit hati, coba pelan-pelan tanya ke diri sendiri, bagian mana sih yang sebenarnya menyakitkan? Lalu, emosi apa yang lagi kamu rasain?
Dari situ, kamu bisa mulai belajar menenangkan diri. Jangan lupa, kurangi menyalahkan diri sendiri setiap pikiran negatif muncul.
Baca juga: Fenomena Urban Loneliness: Saat Hidup di Kota Besar Justru Bikin Kesepian
Ilustrasi orang meminta maaf. (Freepik)
Ada orang yang refleks minta maaf, bahkan untuk hal-hal yang bukan salahnya. Ini sering terjadi pada orang yang dulunya tumbuh di lingkungan yang nggak aman secara emosional.
Dulu, minta maaf mungkin jadi cara paling aman buat menghindari konflik. Tapi kebiasaan itu kebawa sampai dewasa.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Psychology Today