INDOZONE.ID - YouTuber Indonesia, Nessie Judge, tengah menghadapi badai kritik setelah video Halloween miliknya dianggap melecehkan korban kekerasan di Jepang.
Masalah ini bermula ketika Nessie menggunakan foto Junko Furuta, gadis 17 tahun yang menjadi korban penyiksaan brutal pada 1988, sebagai bagian dari dekorasi dalam video kolaborasinya bersama boyband Korea, NCT Dream.
Nessie Judge, lahir di Surakarta pada Senin, 30 Oktober 1993, dikenal sebagai kreator konten misteri dan kriminal di YouTube dengan lebih dari 8,5 juta pelanggan.
Melalui seri populernya, #NERROR, Nessie sering mengupas kisah kejahatan dan fenomena supranatural secara detail dan menarik.
Baca juga: 5 Cara Atasi Kebiasaan Keuangan Buruk pada Pria, Anti Bokek!
Selain di dunia digital, Nessie juga aktif menulis buku The Nerror Vault (2024) dan bermain di film horor Kampung Jabang Mayit: Ritual Maut (2024) serta Mama: Pesan dari Neraka (September 2025).
Kontroversi muncul pada Minggu, 2 November 2025, setelah video “NCT DREAM di #NERROR Cerita Pengalaman HORROR!” diunggah ke kanal YouTube-nya.
Penonton Jepang memperhatikan bahwa salah satu dekorasi dinding menampilkan foto Junko Furuta yang ditutupi sarang laba-laba tiruan dan disensor sebagian.
Detail ini dianggap tidak menghormati tragedi yang menjadi luka kolektif bangsa Jepang.
Junko Furuta sendiri merupakan korban dari kejahatan paling brutal di Jepang, diculik dan disiksa selama 44 hari hingga tewas.
Baca juga: Zohran Mamdani Cetak Sejarah Jadi Wali Kota Muslim Pertama di New York
Karena pelaku masih di bawah umur, mereka hanya dijatuhi hukuman ringan. Tragedi ini hingga kini menjadi simbol kegagalan hukum Jepang dalam melindungi perempuan.
Kemarahan publik Jepang meledak setelah akun X (Twitter) bernama @judas_nega mencuit, “Orang Jepang yang marah mulai mengeluh kepada duta besar tentang perilaku buruk Anda. Menggigil dan tidur!” pada Selasa, 4 November 2025.
Ribuan retweet mengiringi cuitan itu, dan dalam waktu singkat, #NessieJudge menjadi trending di Jepang dan Indonesia.
Pada Rabu, 5 November 2025, Nessie menjelaskan bahwa foto-foto korban di video tersebut bukan sekadar dekorasi, tetapi bentuk penghormatan kepada kasus yang sering diminta penggemarnya. “Kami menutupi matanya sebagai tanda hormat,” tulis Nessie.
Baca juga: Kenapa Kecerdasan Emosional Itu Penting? Ajarin Anak Sejak Dini, Yuk!
Namun klarifikasi tersebut malah memperburuk situasi. Banyak warganet menilai alasan itu tidak menunjukkan empati dan menuduh Nessie melakukan eksploitasi visual terhadap korban.
Tagar #NessieJudge terus bergulir hingga Kamis, 6 November 2025, dengan lebih dari setengah juta unggahan.
Penggemar NCT Dream pun kecewa karena kolaborasi mereka terseret dalam kontroversi sensitif ini.
Sebagian besar pengguna X di Jepang menilai tindakan Nessie sebagai bentuk ketidakpekaan terhadap budaya dan trauma nasional.
Dari sisi etika, AJI (Aliansi Jurnalis Independen) menilai tindakan tersebut melanggar prinsip penghormatan terhadap korban. Seorang anggota menyebut, “Konten kriminal sejatinya untuk edukasi, bukan dekorasi hiburan.”
Baca juga: 5 November Peringati Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional, Ini Makna dan Sejarahnya!
Dampak dari kasus ini juga berpotensi memengaruhi reputasi Nessie di industri hiburan dan kerja samanya dengan pihak luar negeri.
Nessie akhirnya menyampaikan permintaan maaf di X, “What we recklessly thought as an act of paying an homage, was rightfully corrected by everyone as rude and insensitive. We deeply apologize for our severe lack of judgement.”
Walau telah meminta maaf, kritik tetap bergulir dan masyarakat menuntut pembenahan cara penyajian konten true crime di Indonesia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber