Rabu, 17 DESEMBER 2025 • 18:38 WIB

Stop Overthinking dan Overwhelmed ke Pasangan! 4 Kebiasaan Ini Justru Sering Bikin Hubungan Rusak

Author

Ilustrasi orang trauma berdampak pada hubungan (Freepik)

INDOZONE.ID - Kira-kira, pernah nggak kamu merasa sering ribet atau gampang kebawa emosi, padahal masalahnya kelihatan sepele?

Bisa jadi, penyebabnya bukan soal pasangan atau orang lain, tapi ada luka lama dalam dirimu yang belum benar-benar sembuh.

Sebenarnya, trauma nggak selalu datang dalam bentuk yang dramatis. Kadang, ia muncul pelan-pelan, tanpa kita sadari, sampai bikin hubungan dengan orang lain nggak sehat.

Nah, di sini kita bakal bahas 4 respons trauma yang bisa merusak hubungan. Ini bukan buat menyalahkan diri sendiri, tapi supaya kita lebih paham kenapa kita bereaksi seperti sekarang. Yuk, scroll langsung ke bawah!

Respons Trauma yang Sering Rusak Hubungan

1. Overthinking Nggak Ada Habisnya

Ilustrasi wanita lebih sering overthinking. (Freepik)

Salah satu bentuk trauma yang bisa merusak hubungan adalah overthinking. Respon ini sering jadi efek samping kalau kamu pernah mengalami trauma berat atau lama.

Pikiran terus muter, mikir orang atau kejadian yang sama, sampai capek sendiri. Biasanya, polanya ada dua, kepikiran soal masa lalu atau kebanyakan mikir masa depan yang belum terjadi.

Kepikiran masa lalu terus bisa bikin sedih makin dalam. Sementara kebanyakan mikir masa depan bisa bikin cemas makin parah.

Kalau kamu sering kepikiran hal yang bikin sakit hati, coba pelan-pelan tanya ke diri sendiri, bagian mana sih yang sebenarnya menyakitkan? Lalu, emosi apa yang lagi kamu rasain?

Dari situ, kamu bisa mulai belajar menenangkan diri. Jangan lupa, kurangi menyalahkan diri sendiri setiap pikiran negatif muncul.

Baca juga: Fenomena Urban Loneliness: Saat Hidup di Kota Besar Justru Bikin Kesepian

2. Kebiasaan Minta Maaf Terus padahal Nggak Salah

Ilustrasi orang meminta maaf. (Freepik)

Ada orang yang refleks minta maaf, bahkan untuk hal-hal yang bukan salahnya. Ini sering terjadi pada orang yang dulunya tumbuh di lingkungan yang nggak aman secara emosional.

Dulu, minta maaf mungkin jadi cara paling aman buat menghindari konflik. Tapi kebiasaan itu kebawa sampai dewasa.

Akhirnya, sedikit-sedikit minta maaf, takut bikin orang lain nggak nyaman, dan sering mengalah meski diri sendiri capek.

Kalau kamu merasa relate, coba mulai sadar, di situasi apa kamu paling sering minta maaf? Sama siapa? Pelan-pelan, belajar bilang kebutuhan sendiri itu bukan hal yang salah dan kamu nggak harus selalu minta maaf cuma karena punya perasaan.

Baca juga: Digital Intimacy vs Real Connection: Saat Dunia Maya Gak Bisa Obati Rasa Kesepian

3. Terlalu Cepat Cerita Hal yang Terlalu Dalam (Oversharing)

Bahaya oversharing (freepik).

Oversharing sering dianggap jujur dan terbuka. Namun, buat sebagian orang dengan trauma, ini bisa jadi cara buat cepat merasa dekat sama orang baru.

Masalahnya, kedekatan yang dibangun terlalu cepat dari cerita luka bisa bikin hubungan jadi kelihatan dalam, padahal belum tentu sehat. Bahkan, ini bisa bikin kita lebih gampang terjebak di hubungan yang toksik.

Ada juga yang oversharing justru buat menjaga jarak, cerita terlalu banyak biar orang lain mundur duluan. Kalau kamu sering merasa kebablasan cerita, coba rem sebentar.

Tanya ke diri sendiri, aku cerita ke siapa? Seberapa dekat hubungannya? Aman nggak ya kalau cerita sejauh ini?

4. Merasa Kewalahan Terus untuk Hal Sepele (Overwhelmed)

Ilustrasi selalu merasa capek. (freepik.com)

Kalau kamu sering merasa capek emosional, gampang stres, atau susah nenangin diri, itu bisa jadi tanda trauma belum selesai. Hal-hal kecil jadi terasa berat, energi cepat habis, dan rasanya pengin shut down aja.

Buat sebagian orang, ini bisa muncul sebagai emosi yang meledak-ledak. Buat yang lain, malah jadi mati rasa dan menarik diri.

Kalau ini sering kamu rasakan, itu bukan karena kamu lemah. Bisa jadi tubuh dan pikiran kamu lagi kelelahan karena luka lama yang belum dibereskan.

Intinya, kamu nggak sendirian. Banyak orang mengalami hal yang sama, meski kelihatannya baik-baik aja dari luar.

Proses sembuh dari trauma memang nggak instan. Kadang butuh bantuan profesional, kadang cukup mulai dari hal-hal kecil. Mulai dari nulis perasaan, sampai dikelilingi orang yang aman secara emosional.

Kalau kamu merasa respon trauma ini udah jauh lebih buruk, segera cari bantuan profesional ya!

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Psychology Today

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU