Jumat, 16 JANUARI 2026 • 18:49 WIB

Isra’ Mi’raj dalam Kacamata Sains Modern: Benarkah Waktu Bisa Melambat dan Tubuh Manusia Menjelma Cahaya?

Author

Ilustrasi malam Isra Miraj. (Foto: Freepik @Freepik)

INDOZONE.ID - Malam 27 Rajab 1447 Hijriah akan bertepatan dengan Jumat malam, 16 Januari 2026. 

Setiap tahunnya, malam 27 Rajab menjadi momentum penting bagi umat Islam untuk mengenang satu peristiwa besar yang selalu mengundang rasa takjub, yakni Isra’ Mi’raj. 

Peristiwa inilah yang menjadi titik awal diwajibkannya salat lima waktu, sekaligus menandai salah satu mukjizat paling luar biasa dalam sejarah kenabian.

Dalam satu malam, Nabi Muhammad SAW melakukan perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, lalu naik menembus lapisan langit hingga Sidratul Muntaha. 

Jika dinalar secara logika, kisah ini melampaui batas akal sehat sehari-hari. 

Baca juga: Kenapa Kita Bisa Bermimpi Saat Tidur? Ini Penjelasan dari Sisi Ilmu Pengetahuan

Bagaimana mungkin seorang manusia menempuh perjalanan sejauh itu dalam waktu yang begitu singkat. 

Namun, justru di situlah letak keistimewaannya. 

Isra’ Mi’raj selalu menempatkan manusia di hadapan keterbatasan nalar, sekaligus mengajak untuk merenung lebih dalam tentang makna iman dan kekuasaan Tuhan.

Menariknya, perkembangan sains modern justru membuat kisah Isra’ Mi’raj terasa semakin menggetarkan. 

Sejumlah temuan dan teori ilmiah membuka ruang refleksi baru tentang ruang, waktu, dan kemungkinan-kemungkinan yang selama ini berada di luar jangkauan pemahaman manusia.

Baca juga: Kenapa Kita Bisa Bermimpi Saat Tidur? Ini Penjelasan dari Sisi Ilmu Pengetahuan

Isra’ Mi’raj dalam Al-Qur’an Bukanlah Sekadar Kisah Simbolik

Banyak orang kerap menyebut Isra’ Mi’raj seolah keduanya adalah satu peristiwa dengan makna yang sama. 

Padahal, Isra’ dan Mi’raj memiliki pengertian yang berbeda. 

Isra’ secara bahasa berasal dari kata sara, yang berarti berjalan di malam hari. 

Dalam pengertian ini, Isra’ merujuk pada perjalanan Nabi Muhammad SAW bersama Malaikat Jibril dari Mekkah menuju Baitul Maqdis dengan menaiki Buraq, sebuah perjalanan yang berlangsung dalam waktu sangat singkat.

Sementara itu, Mi’raj berarti sarana untuk naik. 

Baca juga: Mengenal Ikan Terbang, Ikan Unik yang Bisa Melayang di Udara

Istilah ini digunakan untuk menggambarkan perjalanan Nabi dari bumi menuju lapisan-lapisan langit, mulai dari langit pertama hingga langit ketujuh, sebelum akhirnya sampai di Sidratul Muntaha yang secara harfiah berarti tumbuhan sidrah yang tak terlampaui.

Al-Qur’an menyebut peristiwa Isra’ secara tegas dalam Surah Al-Isra ayat 1. 

Allah menyatakan bahwa Dia memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa. 

Kata hamba-Nya dalam ayat tersebut merujuk pada Nabi Muhammad SAW secara utuh. 

Para ulama sejak dulu menegaskan bahwa Isra’ Mi’raj bukan mimpi dan bukan sekadar perjalanan ruhani. 

Baca juga: Panduan Parenting untuk Orang Tua Baru: Cara Menentukan Pola Asuh yang Tepat untuk Anak

Peristiwa ini terjadi dengan jasad dan ruh sekaligus, sebagai bentuk kemuliaan yang diberikan langsung oleh Allah. 

Dari sini, pertanyaan tentang bagaimana tubuh manusia bisa melakukan perjalanan luar biasa itu menjadi semakin menarik untuk dikaji.

Perjalanan Super Cepat dan Batas Kemampuan Tubuh

Secara jarak, Masjidil Haram dan Masjidil Aqsa terpisah sekitar 1.500 kilometer. 

Jika ditempuh dalam waktu yang sangat singkat, maka kecepatan yang dibutuhkan mendekati kecepatan cahaya.

Baca juga: Kenapa Mimpi Bisa Terasa Nyata? Ini Penjelasan Ilmiah yang Jarang Diketahui

Dalam fisika klasik, ini jelas mustahil. Tidak ada benda bermassa yang dapat bergerak secepat cahaya. 

Tubuh manusia bahkan tidak akan mampu menahan tekanan dan percepatan ekstrem tanpa mengalami kerusakan serius. 

Namun, sains modern menunjukkan bahwa alam semesta tidak sesederhana yang dibayangkan oleh fisika klasik.

Teori Relativitas Einstein: Ketika Materi dan Energi Saling Berkelindan

Teori relativitas Einstein memperkenalkan gagasan bahwa massa dan energi bukan dua hal yang benar-benar terpisah. 

Persamaan E = mc² menunjukkan bahwa materi pada dasarnya dapat berubah menjadi energi.

Baca juga: Buku 'Broken Strings' Aurelie Moeremans Bercerita tentang Apa? Ini Gambaran Lengkapnya

 Nah, dalam dunia fisika partikel, ada proses nyata yang disebut annihilasi, yaitu ketika materi bertemu antimateri. 

Keduanya akan lenyap dan berubah menjadi energi murni berupa cahaya. Fenomena ini telah dibuktikan dalam eksperimen laboratorium nuklir.

Sejumlah ilmuwan Muslim mencoba membaca Isra’ Mi’raj dari kacamata ini. 

Bukan untuk mereduksi mukjizat menjadi sekadar proses fisika, tetapi untuk menunjukkan bahwa secara teoretis, alam semesta memang memungkinkan transformasi yang luar biasa. 

Dengan kehendak Allah SWT, sangat mungkin tubuh Nabi Muhammad SAW mengalami transformasi sementara dari bentuk material ke bentuk energi atau cahaya sehingga mampu menempuh perjalanan super cepat tanpa terikat batas biologis manusia biasa.

Baca juga: Panduan Ukuran Kertas Lengkap A4 sampai KTP Berdasarkan Standar ISO

Mengapa Waktu Terasa Begitu Singkat?

Salah satu bagian paling menakjubkan dari Isra’ Mi’raj adalah soal waktu. 

Nabi Muhammad SAW mengalami perjalanan yang sangat panjang, tetapi ketika kembali, malam itu belum sepenuhnya berlalu. 

Dalam teori relativitas, dikenal konsep dilatasi waktu. Waktu tidak berjalan sama bagi setiap pengamat. 

Semakin cepat suatu objek bergerak, semakin lambat waktu yang dialaminya dibandingkan dengan orang yang diam.

Konsep ini sering dijelaskan melalui ilustrasi dua orang dengan pengalaman gerak yang berbeda. 

Baca juga: Amalan Jumat Terakhir Bulan Rajab 16 Januari 2026, Lengkap dengan Keutamaannya

Yang bergerak sangat cepat akan mengalami waktu lebih lambat dibandingkan yang tinggal di tempat. 

Jika dipahami secara hipotetis, konsep ini memberi gambaran mengapa perjalanan panjang bisa terasa singkat bagi orang-orang di bumi.

Al-Qur’an sendiri telah lama mengisyaratkan relativitas waktu:

“Para malaikat dan Jibril naik kepada-Nya dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun.”
(QS. Al-Ma’arij: 3–4)

Ayat ini menunjukkan bahwa waktu langit tidak identik dengan waktu bumi. 

Baca juga: 35 Ucapan Isra Miraj 2026 Penuh Doa, Hikmah, dan Keberkahan

Maka tidak mengherankan jika perjalanan yang terasa panjang bagi Nabi SAW, tampak hanya sekejap bagi manusia di bumi.

Mi’raj dan Ruang yang Melampaui Dimensi Manusia

Jika Isra’ masih bisa didekati dengan relativitas kecepatan dan waktu, maka Mi’raj membawa kita ke wilayah yang lebih dalam yaitu dimensi ruang. 

Manusia hidup dalam tiga dimensi ruang dan satu dimensi waktu. 

Namun beberapa teori fisika modern seperti teori dimensi ekstra menyebut bahwa alam semesta mungkin memiliki lebih banyak dimensi yang tidak kita rasakan secara langsung.

Mi’raj bukan sekadar perjalanan horizontal, melainkan perjalanan vertikal yang menembus lapisan langit hingga Sidratul Muntaha, sebuah batas kosmik yang bahkan Malaikat Jibril tidak bisa melampauinya. 

Baca juga: Nemawashi, Cara Jepang "Menyingkirkan" Pohon untuk Ruang Pembangunan

Di sinilah peran Malaikat Jibril menjadi krusial. Ia bukan makhluk bumi, bukan pula terikat sepenuhnya pada hukum fisika manusia. 

Kehadirannya memungkinkan Nabi SAW menempuh perjalanan lintas realitas yang bagi manusia biasa akan terasa mustahil dilakukan sendirian.

Jadi, Apakah Isra’ Mi’raj Bisa Dijelaskan oleh Sains?

Jawabannya tidak sepenuhnya, dan memang tidak perlu.

Isra’ Mi’raj adalah mukjizat. Ia terjadi bukan karena teori, tetapi karena kehendak Allah. 

Namun sains membantu manusia menyadari bahwa alam semesta jauh lebih luas dan lebih misterius daripada yang selama ini dipahami.

Baca juga: Bertemu Gubernur Maluku Utara, Siswa Keluhkan Guru Jarang Hadir dan Jam Kosong

Apa yang hari ini dianggap mustahil, bisa jadi hanyalah pengetahuan yang belum kita capai. 

Seperti manusia masa lalu yang menganggap terbang mustahil, sebelum pesawat akhirnya diciptakan. 

Menariknya, dari perjalanan maha dahsyat itu, Allah tidak menghadiahkan teknologi, bukan pula kekuatan super. Yang diwajibkan justru salat, sebuah mi’raj kecil yang bisa dilakukan setiap hari.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Momentum: Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial Dan Keagamaan

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU